
Prokk... Prokk... Prokk
Tepuk tangan riuh dari para sahabat somplak, menyaksikan resminya Lucy dan Leon jadi sepasang kekasih.
"Ekhem... cieee Lucy" seru Naira tersenyum penuh arti.
"Wihh gue gak nyangka bisa keduluan lo" sahut Rayna.
"Makanya cari pacar woyy, biar gak solo terus" ledek Salsa, membuat sang empu mendengus kesal.
"Yaelah kita lagi nungguin jodoh Sa. Lo enak jodoh lo udah didepan mata. Lah kita dimana coba?" keluh Dea, membuat orang disana terkekeh.
"Selamat bro, akhirnya lo berhasil dapetin pacar" ucap Miko tersenyum kearah Leon.
"Gue kira lo gak bakalan laku" ledek Andri.
"Sialan lo! masa cowok ganteng kaya gue gak laku" sungut Leon kesal. Sementara Andri hanya mencebik kesal pada sahabatnya yang sangat percaya diri itu.
"Selamat Cy, lo adalah pacar pertama si Leon. Dan lo maklumin aja ya kalau Leon masih kaku dalam pacaran. Secara kan dia baru kali ini punya pawang" Ucap Chiko ikut buka suara.
"Dikata gue uler punya pawang segala!" kesal Leon.
"Gapapa kok, Leon juga pacar pertama aku loh" timpal Lucy. Membuat Leon tersenyum merekah.
"Beneran?" tanya Leon. Yang dibalas anggukan kepala dari Lucy.
"Nah untuk merayakan hari jadian kalian. Gimana kalau kita makan di caffe biasa" ajak Miko.
"Nah mantep tuh" sahut Andri.
"Hmm yaudah" jawab Leon setuju.
"Oke fiks. pulang sekolah kita meluncur" ucap Chiko menimpali.
Pruittttt.....
Suara priwitan terdengar begitu kencang, refllek semua orang disana menoleh kebelakang.
Jleb.
"Eh pak Bani" ucap Naira tersenyum kaku.
"Duhh mamp*s nih. Lagian ngapain pak Bani pake kesini segala" batin Lucy.
"Kalian ngapain disini!" ucap pak Bani menatap tajam satu persatu anak muridnya.
"Inikan jam istirahat pak. Ya nongkrong lah" jawab Leon santuy.
"Lagian bapak ngapain kesini? Mau gabung sama kita?" timpal Chiko.
"Ah, atau bapak kangen masa muda. Makanya nyamperin kita kesini buat ngulang memory bapak dulu" sahut Andri.
"Kalian!!!" teriak pak Bani dengan darah mendidih. Bukannya takut malah ngajak ribut pikir pak Bani.
"Masuk kelas sana!!" perintah pak Bani dengan sedikit berteriak.
"Hah! emang udah masuk ya pak?" tanya Dea membeo.
"Iya pak iya" Mereka langsung berhamburan lari sebelum pak Bani mengeluarkan amarahnya. Dan berakhir dihukum.
"Huhh bapak! dasar perusak suasana!" gerutu Naira.
"Astaga anak anak itu, dikasih makan apa sih?" pak Bani memijit pelipisnya yang mendadak pusing.
Ya semua anak murid memang takut pada pak Bani. Tapi Naira cs sama sekali tak mengenal rasa takut. Malah mereka semakin membuat pak Bani naik darah. Itulah yang diherankan banyak siswa disana. Apakah mereka sama sekali tidak takut pada pak Bani yang super duper bengis itu?
"Haiss tuh pak Bani ngapain kesini coba? ganggu aja" gerutu Leon.
"Lagian perasaan cepet banget masuknya" sahut Miko.
"Ini nih resiko punya guru galak" timpal Chiko.
"Kok pak Bani bisa tau kita disana sih?" ucap Rayna. Membuat orang disana hanya mengangkat bahu.
***
Sesuai yang direncanakan tadi. Sepulang sekolah mereka langsung mampir ke cafe biasa tempat mereka nongkrong.
"Mau pesan apa kak?" tanya pelayan disana yang sangat ramah pada mereka. Karena ia tau bahwa ini pelanggan setianya.
"Emm, kalian mau apa?" tanya Leon.
"Gue kaya biasa aja" jawab Miko.
"Yank, kamu mau apa?" tanya Miko pada Naira.
"Samain aja kaya kamu" jawab Naira fokus pada HP nya.
"Kamu mau apa hem?" tanya Leon lembut pada Lucy.
"Gue? emm... samain aja kaya kamu deh" jawab Lucy.
"Mbak, samain aja semua menunya" ucap Miko setelah mendapat persetujuan dari para sahabatnya.
"Baik kak, silahkan ditunggu"
"Yank, kamu liat apa sih?" tanya Miko keppo dengan Naira yang daritadi fokus dengan HP nya.
"Gue lagi ngecek ig" jawab Naira jujur.
"Kirain apaan".
.
.
.
.
.
Selamat sahur buat semuanya 🥳🥳