
Sudah seminggu ini Naira terbaring dirumah sakit dengan mata yang masih tertutup rapat. Membuat mama Indri, papa Nevan dan Vino sangat terpuruk olehnya. Mereka tak bisa berbuat apa apa. Yang mereka senantiasa lakukan hanyalah berdoa supaya Naira cepat sadar dari komanya.
Bukan hanya keluarganya saja, para sahabat Naira tak kalah sedih dari itu. Sekolah mereka terasa sepi tanpa kehadiran Naira, mereka seperti tak mempunyai semangat hidup. Terutama Miko yang sudah seminggu ini sangat kacau, penampilannya pun tak kekeren dulu. Jika dulu Miko selalu rapi dengan rambut yang ditata sebagus mungkin. Kini sudah seperti orang yang tak terawat. Dan seminggu terakhir ini Miko pun jarang masuk sekolah, demi menemani Naira disini.
"Nai, kapan sih Lo mau bangun, gue udah capek nungguin Lo" ucap Salsa menggoyangkan tangan Naira.
"Nai, Lo tega bikin kita kaya gini" keluh Dea memelas.
"Nai, Lo gak kangen ya sama kita? Sampai sampai Lo gak mau liat kita" ucap Rayna.
"Udah dong Nai tidurnya. Lo udah cukup lama menghabiskan waktu disini. Lo kurang puas ngehukum kita?" Sambung Lucy memandang wajah pucat Naira.
Di pojok ruangan, tampak Miko yang sedang duduk dengan pandangan yang menatap lurus kedepan. Pikirannya untuk saat ini sangatlah kacau, melihat Naira yang terbaring lemah disini, bagaikan kehilangan separuh nyawanya.
"Ayo kita sama sama bangunin Naira" ajak Rayna yang disetujui mereka semua.
"Nai bangun yuk" ucap mereka serempak.
Dan tanpa diduga, Naira menggerakkan jarinya, membuat para sahabatnya berteriak histeris.
"Mik, sini Naira gerak" pekik Rayna pada Miko. Dan dengan cepat Miko menghampiri Naira.
"Sa, Lo panggil om sama Tante, terus panggil dokter juga" ucap Dea heboh.
"Oke... oke..." Ucap Salsa dan langsung berlari memanggil dokter juga keluarga Naira.
Dengan perlahan tapi pasti, Naira mulai mengangkat kelopak matanya secara perlahan. Dan mulai melihat sekeliling yang terasa buram.
"Alhamdulillah Nai Lo sadar" ucap Lucy yang sangat senang.
"Ya ampun Nai gue khawatir banget Lo gak bakalan bangun" ucap Dea yang langsung dapat sentilan dari Rayna.
"Aww sakit ogeb!" Ucap Dea mengelus jidatnya.
"Lagian Lo ngaco banget, mana mungkin Naira gak bangun" sahut Rayna.
"Sayang kamu gapapa?" Tanya Miko lembut.
Naira menyeritkan keningnya sambil memandang Miko "Siapa Lo?" Tanya Naira yang tak mengenal Miko.
Deg.
Semua orang terbengong disana, mendengar ucapan dari mulut Naira yang tak mengenal Miko.
"Sayang kamu gak kenal siapa aku?" Tanya Miko memastikan. Yang langsung dapat gelengan kepala dari Naira.
"Lo kenal siapa kita?" Tanya Lucy menunjuk dirinya dan para sahabatnya.
"Kenal, kalian sahabat gue kan" jawab Naira.
"Lalu Lo gak kenal dengan dia?" Tanya Rayna menunjuk Miko.
"Enggak" jawab Naira cepat.
"Dan kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Naira yang membuat orang disana membelalakkan matanya.
"Masa sih Nai?" Ucap Rayna tak percaya.
Ceklek.
Pintu terbuka, memperlihatkan mama Indri, papa Nevan dan juga Vino. Diikuti seorang dokter dan juga Salsa yang masuk kedalam ruangan.
"Alhamdulillah sayang kamu udah sadar" girang mama Indri memeluk anaknya.
"Sayang kakak yakin kamu pasti sadar" ucap Vino tersenyum.
"Anak papa kan kuat" sambung papa Nevan.
"Mah, pah, kak, kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Naira membuat mama Indri, papa Nevan dan juga Vino ternganga.
"Sayang kamu gak inget kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya mama Indri.
"Enggak. Dan siapa dia?" Tanya Naira menunjuk Miko.
"Sayang, kamu yakin gak kenal sama dia?" Tanya Vino yang langsung dapat gelengan kepala dari Naira.
"Dok periksa anak saya" petintah papa Nevan.
"Baik pak" ucap dokter itu dan mulai memeriksa keadaan Naira.
"Bagaimana dok?" Tanya mama Indri.
"Akibat dari benturan yang sangat keras pada kepalanya, pasien kehilangan separuh ingatannya, atau bisa dibilang amnesia" jelas sang dokter membuat mereka disana terkejut.
"Tapi ingatan Naira bisa balik lagi kan dok?" Tanya papa Nevan.
"Kemungkinan besar bisa pak, cuma kita memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan ingatannya" jawab sang dokter menjelaskan.
Mendengar itu, dada Miko terasa sesak. Ia tak menyangka Naira sama sekali tak mengenalnya sebagai kekasihnya. Padahal Miko sudah sangat senang Naira sadar dari komanya.
"Nanti saya akan buatkan resep untuk memulihkan keadaannya. Kalau begitu saya permisi" ucap sang dokter.
"Baik dok, terimakasih" ucap Vino yang dapat anggukan dari dokter itu. Setelah itu ia keluar dari ruangan.
"Nai, Lo inget siapa gue?" Tanya Salsa menunjuk dirinya sendiri.
"Inget, Salsa kan?" Jawab Naira.
"Nai, coba Lo inget inget siapa dia? Lo sama sekali gak kenal sama dia? Dan Lo gak tau kenapa Lo bisa ada disini?" Tanya Salsa beruntun, yang langsung dapat gelengan kepala dari Naira.
Naira mencoba mengingat ingat kenapa dia bisa berada disini. Dan mencoba mengingat siapa Miko. Namun semakin ia mengingatnya, kepalanya semakin sakit.
"Aww...." Ringis Naira memegang kepalanya.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya mama Indri cemas.
"Mah, kok aku gak bisa inget kenapa aku bisa ada disini. Dan semakin aku inget kepala aku semakin sakit" ucap Naira.
"Sayang kalau kamu gak bisa inget udah gak usah dipaksain" ucap mama Indri.