
Saat pulang sekolah, Naira sangat terkejut kala mendapat kabar bahwa mamanya masuk rumah sakit. Ia segera berlari menuju mobilnya, tanpa menghiraukan teriakan sahabatnya.
"Woyy Nai, Lo mau kemana? Buru-buru amat" teriak Lucy tak dihiraukan Naira. Naira malah terus berlari menuju mobilnya.
"Ah elah tuh anak mau kemana sih!" Kesal Dea.
"Udah ah ayok kejar" ajak Rayna dan mereka mengejar Naira.
"Huhhhh.... Huhhhh... Huhhhhh...." Ucap Salsa tersengal-sengal.
"Nai, Lo mau kemana sih?" Tanya Dea melihat Naira masuk kedalam mobilnya.
"Mama gue masuk rumah sakit, gue harus segera kesana" ucap Naira panik.
"Hah! Tante Indri masuk rumah sakit! Kok bisa Nai" ucap Rayna kaget.
"Gue juga gak tau. Yaudah gue duluan ya" pamit Naira menutup pintu mobilnya.
"Yaudah, kabari kita ya nanti" ucap Lucy yang diangguki Naira.
Naira mulai tancap gas meninggalkan perkarangan sekolahnya.
"Tante Indri kenapa ya? Kok bisa masuk rumah sakit" ucap Dea khawatir.
"Nanti kita jengukin ya" ajak Salsa, yang langsung disetujui mereka semua.
"Kalian liat Naira gak?" Tanya Miko yang datang tiba-tiba.
"Naira udah pulang kak, mamanya masuk rumah sakit kayanya" jawab Lucy.
"Hah! Kok bisa?" Ucap Miko kaget.
"Terus gimana keadaan Tante Indri sekarang?" Tanya Miko yang tampak khawatir.
"Mana kita tau kak, orang Naira aja baru mau jenguk" sahut Salsa.
"Semoga Tante Indri gapapa" gumam Miko lirih.
*************************
Naira melajukan mobilnya dengan kencang, ia sangat khawatir akan keadaan mamanya sekarang.
"Mah semoga mama gapapa" ucap Naira menambah laju kecepatannya.
Naira hendak menginjak pedal rem saat melihat sebuah mobil didepannya. Namun mobilnya tak kunjung berhenti hingga membuat Naira membelokkan setir mobilnya ke arah kanan dan....
Citttttt.....
Brukkk....
Mobil Naira masuk kedalam jurang yang lumayan dalam, dengan Naira yang sudah tak sadarkan diri dan mengeluarkan banyak darah segar dari pelipisnya.
**
Saat dirumah sakit, papa Nevan dan Vino mondar-mandir didepan pintu ruangan mama Indri. Sebenarnya mama Indri bukanlah sakit parah, cuma mag nya aja yang sedang kambuh sehingga membuatnya pingsan tadi.
"Sama pah, Vino juga ngerasain gitu, ada apa ya?" Ucap Vino gemetar hebat.
Drrrttt... drrrttt... drrrttt...
Ponsel papa Nevan berbunyi, tertera nama Naira disana.
"Hallo sayang, kamu dimana? Kamu gapapa kan?" Tanya papa Nevan saat sambungan telpon terhubung.
"Hallo pak, saya dari kepolisian, ingin mengabarkan bahwa anak bapak yang bernama Naira Ulansary mengalami kecelakaan dan mobilnya masuk ke jurang yang lumayan dalam" jelas pak polisi itu.
Duarrrrr....
Bagai tersambar petir disiang bolong, papa Nevan seketika shock mendengar kabar putrinya kecelakaan.
"Bagaimana keadaan anak saya pak?" Tanya papa Nevan dengan nada bergetar.
"Pasien akan kami bawa ke rumah sakit Melati" jawab pak polisi.
"Baiklah pak, terimakasih" ucap papa Nevan lalu memutuskan sambungan telponnya.
Bruk.
Papa Nevan ambruk didepan ruang rawat inap disana, tubuhnya terasa rapuh, ia tak bisa lagi mengucapkan apa apa saat ini.
"Pah, kenapa?" Tanya Vino membantu papa Nevan untuk berdiri.
"Vin, adik kamu....."
"Naira kenapa pah?" Tanya Vino yang mulai khawatir.
"Naira ke-kecelakaan..." Jawab papa Nevan dan langsung menangis saat itu juga.
"Apa!!!!! Kecelakaan???"
"Terus gimana keadaan Naira pah? Naira dibawa kemana?" Tanya Vino beruntun.
"Naira akan dibawa kerumah sakit ini" jawab papa Nevan lemah.
Dan tak berselang lama, dua orang suster mendorong sebuah brankar. Terlihat Naira yang terbaring dengan kepala yang berlumuran darah.
"Pah itu Naira" ucap Vino menunjuk brankar itu, dan menjenguknya diikuti papa Nevan.
Vino tak bisa lagi menahan air matanya, bulir bening lolos di pelupuk matanya, saat mendapati sang adik kesayangannya kini sedang dalam keadaan yang menggenaskan.
Papa Nevan pun tak kalah sedih, ia sangat terpukul melihat keadaan putrinya, air mata tak henti-hentinya mengalir di pipinya.
"Maaf pak, silahkan tunggu diluar" ucap sang suster saat papa Nevan dan Vino ingin masuk ke ruang UGD.
"Dok, lakukan yang terbaik untuk menyembuhkan anak saya. Saya akan bayar berapapun biayanya" ucap papa Nevan.
"Kami akan melakukan yang terbaik pak" jawab sang suster lalu menutup pintu ruangan itu.