Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Selamat


Sepulang sekolah, Naira sudah dijemput oleh Daffin. Mereka akan pulang bersama, dan tentu saja itu tak luput dari penglihatan Miko.


"Nai, mau makan dulu?" tawar Daffin.


"Enggak usah Kak, kita langsung ke rumah aja" jawab Naira yang memang tidak mood hari ini.


"Oke... ayo naik" ajak Daffin dan memberikan helmnya pada Naira.


****


Sesampainya dirumah, Naira langsung berjalan menuju kamarnya.


"Sayang, kamu sakit?" tanya mama Indri yang melihat wajah Naira sangat lesu.


"Nggak mah, Naira gapapa" jawab Naira berusaha tersenyum.


"Yaudah, kamu istirahat ya" ucap mama Indri yang diangguki Naira.


Naira langsung merebahkan tubuhnya dikasur empuknya dan memandang langit-langit kamarnya.


"Miko?? sebenarnya dia siapa sih? kenapa selalu mengganggu pikiran gue" gumam Naira. Ekor matanya tertuju pada boneka Teddy yang diletakkan di sofa nya.


"Boneka itu???" gumam Naira dan bangkit lalu mengambil boneka itu.


"Gue gak ngerasa beli boneka ini. Tapi kalau gak beli ini dari siapa? Mama gak mungkin beliin aku boneka. Kalau kak Vino juga gak mungkin sih, dan gue juga gak ngerasa minta beli sama siapa siapa" lanjut Naira yang terus bergumam.


Naira memaksakan ingatannya untuk mengingat ingat peristiwa yang sebagian hilang dari Ingatannya.


"Aww... " ringis Naira merasakan kepalanya kembali sakit.


"Nai ayo lo harus berusaha mengingat semuanya" ucap Naira pada dirinya sendiri.


***


Esok harinya Naira memutuskan untuk menemui Kania di taman belakang sekolah.


"Nai, ngapain lo mau temuin tuh anak?" tanya Salsa.


"Gue ada urusan sebentar, kalian tunggu disini dulu" ucap Naira dan segera pergi dari sana.


"Lah tuh bocah kenapa ya?" gumam Rayna yang masih terdengar.


Sementara itu Naira yang sudah berada di taman belakang, langsung menemui Kania yang terlihat duduk sendiri.


"Gue mau bicara sama lo" ucap Naira to the point.


"Lo ngagetin aja" ucap Kania mengelus dadanya akibat kedatangan Naura secara tiba tiba.


"Apa bener lo mau tunangan sama Miko?" tanya Naira menatap intens wajah Kania.


"Maksud lo?" tanya Kania yang tak mengerti.


"Lo gak usah pura pura deh. Lo ngaku aja kalau lo emang udah mau tunangan sama Miko. Gak usah pake akting segala!" sungut Naira menatap tajam Kania.


"Kenapa dia malah nanyain beginian? emang kapan gue ngomong mau tunangan sama Miko? Tapi kalau gue jawab iya, mungkin mimpi gue untuk mendapatkan Miko akan mudah tercapai" batin Kania tersenyum sinis.


"Kenapa lo malah diem? Jawab!" sentak Naira yang sudah tersulut emosi.


"Iya, kenapa emangnya?" jawab Kania tersenyum miring.


"Gak! gak mungkin! Ini gue barusan mimpi atau kenyataan sih? Ini penghianatan!" batin Naira mengepalkan tangannya dan segera pergi dari sana. Sementara Kania tersenyum kemenangan.


"Rasain lo!" ejek Kania saat Naira telah menjauh dari sana.


Brukkk.


"Aww... " ringis Naira saat tiba tiba bertabrakan dengan seseorang.


"Ayo bangun" ucap Miko mengulurkan tangannya.


Naira mendongakkan kepalanya keatas dan melihat Miko yang tengah mengulurkan tangan padanya.


"Gak usah! makasih" Ucap Naira menepis kasar tangan Miko dan segera bangkit.


"Oh ya, selamat ya" ucap Naira tersenyum paksa pada Miko.


"Selamat buat?" tanya Miko bingung.


"Selamat sebentar lagi lo akan menjadi milik orang lain. Gue cuma mau bilang makasih udah pernah hadir dalam hidup gue, Semoga semuanya lancar sampai hari H" jawab Naira dan segera pergi dari sana tanpa menunggu jawaban Miko.