
Sesuai yang dijanjikan mereka. Hari ini mereka akan pergi ke kampung untuk menjenguk nenek yang ada disana.
Mereka berangkat dengan diantar Vino. Awalnya Naira menolak keras, tapi papanya mengancam tidak usah pergi kalau tidak diantar Vino. Akhirnya mau tak mau mereka pergi bersama Vino.
Setelah menempuh perjalanan sekitar sejaman, mereka sampai dikampung nenek.
"Hmmm, udara disini seger ya" ucap Naira keluar dan langsung menghirup udara segar pegunungan.
"Dimana nenek?" Tanya Lucy.
"Mungkin lagi kesawah" jawab Naira dan mulai melangkahkan kaki menuju rumah nenek yang sederhana.
"Assalamualaikum" ucap mereka didepan pintu.
Ceklek.
Seorang laki-laki seumuran mereka membuka pintu. Membuat Naira menyeritkan keningnya.
"Siapa ya?" Tanya pria itu.
"Begini dek, kita adalah cucu nenek dari Jakarta, dan kami kesini untuk menginap. Dimana nenek?" Tanya Vino.
"Oh gitu, saya Sonni, nenek lagi kesawah, dan kalian tunggu saja sebentar lagi nenek pulang" ucap Sonni.
"Ganteng ya" gumam Salsa dalam hati. Jiwa genitnya mulai keluar saat melihat Sonni.
"Baiklah kalau begitu silahkan masuk" ucap Sonni mempersilahkan.
"Terimakasih" ucap Naira.
Merekapun masuk kedalam rumah nenek, Sonni langsung menjamu mereka.
"Kakak keluar dulu ya, cari angin" ucap Vino yang diangguki mereka.
"Siapa nama kalian? Kita belum kenalan" ucap Sonni ramah.
"Aku Naira"
"Lucy"
"Rayna"
"Dea"
"Salsa, yang paling cantik diantara mereka" ucap Salsa dengan pedenya, membuat mereka berdecak, sementara Sonni terkekeh.
"Apakah kau sudah lama tinggal dengan nenek? setahu aku nenek masih sendiri saat aku berkunjung sekitar 6 bulan yang lalu" ucap Naira membuka percakapan.
"Ya, aku baru sekitar empat bulan yang lalu tinggal bersama nenek" jawab Sonni tersenyum.
"Orangtua sudah meninggal, dan aku bertemu dengan nenek saat aku memberi makan sapi di peternakan pamanku" lirih Sonni.
"Oh maaf aku tidak tahu" ucap Salsa tidak enak.
"Gapapa santai aja" ucap Sonni.
"Dimana pamanmu?" Tanya Lucy.
"Semenjak kematian kedua orangtuaku pamanku mengusir aku dari rumahnya, karena memang aku tinggal bersama pamanku semenjak orangtuaku meninggal. Dan aku menjenguk nenek saat itu karena aku sudah lumayan kenal dengan nenek" ucap Sonni sendu.
"Nenek dengan senang hati menerimaku, dan mulai saat itulah aku tinggal dengannya sampai sekarang" lanjut Sonni.
"Ternyata hidupnya sangat miris" batin Dea ikut sedih.
"Apakah kau mempunyai keluarga selain pamanmu?" Tanya Rayna.
"Tidak, keluargaku semuanya jauh, hanya aku yang terdampar kesini. Dan mereka juga tidak pernah memperdulikanku. Hanya ibu dan ayahku yang selalu sayang dan perhatian padaku. Tapi sekarang mereka telah pergi meninggalkanku" lirih Sonni sambil mengingat kepergian kedua orangtuanya.
"Kamu yang sabar ya, kita akan sering kesini kalau libur, dan kita akan menemanimu disini" ucap Naira.
"Oh ya apakah kau sekolah?" Tanya Dea.
"Tidak, aku tidak sekolah, sejak kematian kedua orangtuaku aku tidak lagi bersekolah. Nenek sudah pernah menawarkanku untuk sekolah, tapi aku tidak mau membebani nenek" jelas Sonni.
"Aku jadi kasihan padamu" ucap Lucy sedih.
"Ya beginilah hidupku..." Ucap Sonni tertawa meratapi nasibnya yang sangat menyediakan.
"Eh kapan kapan Lo boleh ikut kita ke Jakarta" tawar Rayna.
"Betul tuh, dengan begitu Lo gak akan kesepian lagi" tambah Salsa.
"Kalian serius?" Tanya Sonni tak percaya. Dia memang sangat ingin pergi ke kota. Karena sedari kecil ia tinggal di kampung.
"Serius dong, bawa nenek sekalian kalau mau" ucap Naira.
"Lo gak usah sungkan, kita teman mulai sekarang" ucap Dea membuat Sonni tersenyum.
"Terimakasih" ucap Sonni tulus.
"Eh kak Vino kemana sih?" Tanya Naira.
"Iya, gue penasaran" jawab Lucy.
"Atau jangan-jangan dia jalan jalan" tebak Dea.
"Bisa jadi sih" sahut Salsa. Sedangkan Rayna hanya diam saat sahabatnya membahas tentang vino.