Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Pacar berasa artis


Sepulang sekolah....


"Kak Miko... " panggil seseorang mendekati Miko.


"Kania" gumam Miko.


"Ngapain dia kesini?" batin Naira.


"Ada apa?" tanya Miko tanpa ekspresi.


"Kak, ini ada kiriman buat kakak" ucap Kania memberikan box berukuran sedang.


"Dari siapa?" tanya Miko melihat box itu.


"Ini dari anak anak kelas sepuluh dan sebelas. Diterima ya kak" ucap Kania menyodorkan box itu pada Miko.


"Dasar cewek genit, ini punya pacar berasa kaya punya artis" batin Naira menggerutu.


"Emm... ini lo kembaliin aja sama mereka, maaf gue gak bisa nerimanya" tolak Miko halus. Dan berhasil membuat raut wajah Kania berubah seketika.


"Udah sama gue aja. Sini" ucap Naira mengambil box itu.


"Makasih ya. kalau gitu lo boleh pergi" usir Naira tanpa dosa.


"Kalau gitu permisi kak" Pamit Kania melangkah mundur dari sana.


"Dasar cewek gak tau malu, gue ngasih ke Miko ngapain lo yang nerimanya" gerutu Kania dalam hati.


"Nai, kok kamu terima sih?" protes Miko.


"Gak boleh nolak rezeki" ucap Naira dan membuka box itu.


Ternyata berisi banyak sekali coklat, mulai dari ukuran kecil, sedang, sampai besar yang dikirimkan oleh adik kelasnya.


"Nai udah kamu gak usah makan ya, kita beli aja oke?" ucap Miko khawatir. Karena jujur saja Miko ada rasa curiga kalau itu bukan coklat biasa.


"Emang kenapa? gak ada salahnya kan?" tanya Naira membuka bungkus coklat itu.


"Nai, please jangan makan. Ayo kita beli aja" ucap Miko mengambil coklat yang ada ditangan Naira dan juga box coklat itu.


"Emang kenapa sih?" tanya Naira cemberut.


"Udah gak usah dimakan, takutnya mereka ngasih coklat racun sama kamu" jawab Miko sambil memasangkan helm pada Naira.


"Bukan seudzon, tapi kamu tau kan mereka kay gimana?" ucap Miko, membuat Naira hanya bisa diam dan membenarkan.


"Tapi coklat ini mau dikemanain?" tanya Naira.


"Buang aja lah" jawab Miko mengambil kotak itu dan membuangnya ke tong sampah.


"Ayok naik" perintah Miko yang sudah naik ke motornya.


"Kita beli coklat ya?" ucap Naira berbinar.


"Iya, kita beli, sekalian borong tuh coklat" jawab Miko membuat Naira tersenyum sumringah.


*****


Sedangkan ditempat lain, kini Lucy dan Leon sedang berada di bioskop. Mereka lagi nonton bersama. Ini adalah permintaan Leon, entah kenapa Leon sangat ngebet dengan Lucy.


"Cy, lo suka nonton horor kaya gini?" tanya Leon bergedik ngeri saat melihat layar yang menunjukkan rumah mewah kumuh yang tak berpenghuni.


"Suka kok, kalau lo?" tanya Lucy sambil memakan popcorn nya


"Emmm... iya gue juga" jawab Leon yang mulai takut akan kedatangan sosok tak kasat mata dilayar.


Begitu sosok berbaju putih menampakkan wujudnya, Leon langsung bersembunyi di belakang Lucy. Ia sangat takut, jujur niat awalnya mengajak Lucy kesini untuk menonton film romantis. Tapi Lucy malah memilih film horor dan Leon tidak bisa menolak.


"Le, lo takut sama film horor?" tanya Lucy sambil mengulum senyumnya. Ternyata Leon yang memiliki paras tampan selama ini, juga ada sisi lucunya.


"Enggak kok, gue cuma kaget aja tadi" ucap Leon berkilah dan kembali ke posisi semula saat sosok itu menghilang.


"Ah elah lo. Jujur aja sama gue, santai gue bisa kok nyimpen rahasia" ucap Lucy dengan nada santai.


"Rahasia apaan?" tanya Leon.


"Rahasia kalau lo takut nonton film horor" jawab Lucy cekikikan.


"Apaan sih lo ngaco deh" ucap Leon masih mengelak.


"Lo tuh cowok, masa nonton beginian aja takut, gimana kalau ketemu nyata?" ucap Lucy menggelengkan kepalanya.


"Udah deh gak usah bahas itu lagi, tuh filmnya juga udah selesai" ucap Leon yang merasa lega saat filmnya sudah berakhir.


"Bisa mati berdiri gue kalau ketemu sama mba kunti" batin Leon bergedik ngeri membayangkan bagaimana wajah hantu yang menyeramkan.