
"Kak... " Rayna sampai tak percaya dengan apa yang barusan Vino ucapkan. Benarkah Vino mencintanya? itulah yang ada dipikiran Rayna.
"Ray, kalau boleh jujur sudah lama rasa ini hadir, namun entah kenapa aku berusaha menolaknya. Namun sekarang aku tahu, tak ada seorangpun yang bisa memendam terlalu lama perasaannya" tutur Vino pelan.
"Kak, kakak kan dulu nolak aku? kenapa sekarang kakak nyatain cinta sama aku? Kakak gak malu punya pacar bocil dan dianggap pedofil" sindir Rayna.
"Aku tidak peduli!" jawab Vino tegas.
"Dan mulai sekarang, kamu adalah milikku. Tidak ada penolakan!" lanjut Vino. Dan menjalankan mobilnya kembali.
"Jadi maksud kakak kita pacaran gitu?" tanya Rayna memastikan.
"Hmm... kurang lebih seperti itu" jawab Vino fokus menyetir.
"Ya ampun ini mimpi atau nyata sih?" batin Rayna.
****
"Eh Rayna kemana sih? kok belum dateng juga" Ucap Salsa melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tadi kan dia pulang sama kak Vino kan?" tanya Lucy.
Saat ini mereka berempat sudah berada di cafe yang biasa mereka kunjungi. Mereka akan mengadakan hangout bersama. Namun Rayna dari tadi belum menunjukan batang hidungnya.
"Coba lo telpon" suruh Naira pada Lucy.
Drrttt... Drrttt... Drrttt....
"Hallo Cy, kenapa?" tanya Rayna di seberang sana.
"Ray, lo dimana? Dari tadi kita tungguin" Protes Lucy.
"Dirumah. Emang ada apa kalian nungguin gue?" tanya Rayna yang seketika lupa dengan janjinya.
"Jangan bilang lo lupa sama janji kita" tebak Lucy.
"Ah iya, aduh sorry sorry. Oke gue siap siap yah. 20 menit udah ada disana" ucap Rayna mematikan sambungan telponnya dan bergegas pergi bersiap siap.
"Gimana?" Tanya Dea.
"Bener dugaan gue, tuh anak lupa" jawab Lucy.
"Ah elah kebiasaan deh" timpal Naira.
"Udahlah kita tungguin aja. Katanya 20 menit nyampe sini" sahut Lucy. Membuat semuanya mengangguk.
****
"Udah siap?" tanya Vino.
Rayna pun mengangguk. Setelah itu Vino membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Rayna masuk. Hari ini ia mengantarkan kekasihnya kesekolah seperti biasa.
"Udah sarapan?" tanya Vino.
"Udah kak, masa belum sarapan" jawab Rayna, membuat Vino terkekeh.
"Kakak sendiri udah sarapan?" tanya Rayna.
"Udah" jawab singkat Vino.
***
"Aku masuk ya kak" pamit Rayna sebelum keluar dari mobilnya.
"Iya, belajar yang rajin. Dan ingat jangan lirik lirik cowok lain!" tegas Vino.
"Iya... Iya... " jawab Rayna memutar bola matanya jengah. Hampir setiap hari Vino mengatakan itu padanya.
"Nanti pulang kakak jemput" ujar Vino, yang diangguki Rayna.
"Pagi kakak ipar" sapa Naira saat Rayna sampai dikelasnya.
"Paan sih lo" elak Rayna merasa geli saat dipanggil kakak ipar oleh Naira yang notabene nya adalah sahabatnya sendiri.
"Oh ya Ray, kita nanti malem mau nonton. Lo ikut gak?" tanya Salsa.
"Emm, kayanya enggak deh. Semalem kak Vino bilang dia bakal ngajak gue jalan malam ini" jawab Rayna.
"Cieee tau deh yang lagi berbunga-bunga" ucap Dea menoel dagu Rayna.
"Pagi yank" sapa Andri pada kekasihnya.
"Pagi by" balas Salsa tersenyum cantik.
"Hadeuhh mulai nih" keluh Dea memutar bola matanya jengah.
"Yeee syirik aja lo!" sungut Salsa menjulurkan lidahnya.
"Ayok yank, kita jalan jalan" ajak Salsa menggandeng tangan Andri pergi dari sana.
"Lo kira ini apaan bisa buat jalan?" teriak Lucy menggelengkan kepalanya.
"Awas aja ketemu pak Bani, mampus kalian!" celutuk Naira cekikikan.