Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Gombalan receh Miko


Keesokan harinya, Miko dengan gaya cool nya sudah stand by dirumah Naira. Ia memakai motor besarnya (moge).


"Ayo berangkat" ucap Naira terburu buru menghampiri Miko.


"Jangan lari dong by, jatuh nanti" tegur Miko lembut.


"Tuh kan berantakan" ucap Miko dan merapikan rambut Naira.


"Nah ini baru cantik" ucap Miko dan megambil helm lalu memakaikannya pada Naira.


Perlakuan manis Miko sukses membuat Naira dag dig dug derrr. Ia jadi salting sendiri dan tanpa sadar ia menaikkan sudut bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman yang sangat manis bagi Miko.


"Jangan senyum gitu, ntar aku diabetes ngeliatnya" canda Miko membuat wajah Naira memerah.


"Apaan sih" elak Naira menutupi kegugupannya.


"Aku serius by, senyum kamu itu manis banget, bisa bikin aku diabetes ngeliatnya" gombal Miko yang membuat Naira kesal bercampur malu.


"Kamu pikir aku apaan bisa bikin kamu diabetes" ucap Naira yang sudah panas dingin tak karuan.


"Kamu itu bagai butiran gula yang selalu membuat setiap waktuku terasa manis" ucap Miko lagi lagi mengeluarkan gombalan recehnya.


"Ihhhh Mikoo!" Kesal Naira mengerucutkan bibirnya.


"Uhhh ngambek nih ceritanya" ucap Miko mencubit gemas pipi Naira.


"Aww sakit by" ucap Naira mengelus pipinya.


Cup.


Miko memberikan sebuah kecupan manis di pipi Naira.


Blushhh...


Wajah Naira langsung memerah bak kepiting rebus. Ini adalah kali pertama Miko menciumnya.


"Udah gak sakit lagi kan?" Ucap Miko mengelus pipi Naira yang bekas kecupannya.


"Udah ah ayok berangkat, nanti keburu telat" ucap Naira mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin terbuai oleh perlakuan manis Miko.


"Ciee malu ciee..." Goda Miko menoel dagu Naira.


"Mikooo!!" Pekik Naira yang sudah sangat malu.


"Oke oke ayok berangkat" ucap Miko terkekeh dan melajukan motornya saat Naira sudah naik dan berpegangan pada pinggangnya.


"Kakak harap kamu bisa terus tersenyum sayang" gumam Vino yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Miko dan Naira.


Disepanjang perjalanan Naira tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya, perlakuan manis Miko tadi selalu berputar putar dipikirannya.


Bukan cuma Naira saja yang merasa hal semacam itu. Miko pun juga sama seperti Naira, ia berusaha menetralkan detak jantungnya agar lebih normal. Sepertinya dekat dengan Naira membuat jantungnya tidak sehat, pasalnya Naira sangat berpegangan erat pada pinggangnya, untung saja ada tas Miko yang menjadi penghalang, atau kalau tidak Miko sudah merasakan lembutnya dada Naira.


Tak terasa motor mereka sudah masuk perkarangan kampus, Miko segera turun dan dengan telaten melepaskan helm Naira.


"Yang rapi dong by" ucap Miko merapikan anakan rambut Naira yang kusut akibat memakai helm.


"Pagi Naira" sapa Rayna tersenyum manis.


"Duh nih bocah satu ganggu aja, orang mau berduaan dulu sama Miko. Dasar Sahabat gak ada akhlak" umpat Naira dalam hati.


"Kok gak dijawab Nai" ucap Rayna cemberut.


"Eh iya.. pagi juga Ray" ucap Naira membalas senyum Rayna.


"Duh kalian sweet banget sih, sampe tangan aja gak mau dilepasin" ucap Lucy tersenyum entah itu memuji atau menyindir.


Dan reflek merekapun langsung melepaskan genggaman tangannya.


"Kalian benar-benar ganggu aja deh" kesal Miko.


"OMG Miko, Naira itu bukan cuma milik Lo doang, tapi milik kita juga" ucap Dea memperingatkan.


"Emang gue barang apa" sahut Naira yang merasa diperebutkan.


"Pagi guys" sapa Salsa yang baru saja datang bersama pujaan hatinya, siapa lagi kalau bukan Andri.


"Nah nih anak baru dateng, tumben telat?" Sahut Dea, karena biasanya Salsa lah yang selalu datang awal bersama Andri.


"Hehehe tadi ada urusan sedikit" cengir Salsa memperlihatkan gigi putihnya.


Kringgg....


Bunyi bel membuat mereka menghentikan pembicaraannya.


"Ihhh udah bel aja, biasanya juga lama masuknya" kesal Salsa karena ia tak bisa berlama lama dengan Andri.


"Tau nih, mungkin pak Bani salah atur jadwal kali" timpal Naira mengerucutkan bibirnya.


"Heh kalian ngapain pada ngomongin bapak!" Ucap pak Bani memberikan tatapan mautnya.


"Eh pak Bani yang gantengnya ngalahin Lee min hoo, jangan marah dong. Kita kan cuma bilang bapak keren banget hari ini tuh liat gaya bapak udah kaya pemain film Dono Kasino dan Indro" ucap Salsa dengan sejuta rayuannya.


"Iye pak Salsa bener, kalau bapak jadi pemain film nya, bapak lebih cocok jadi Dono deh, liat penampilan bapak, keren abis hari ini" tambah Naira.


"Ehem..." Deheman Miko membuat Naira langsung menoleh kearah kekasihnya.


"Eh maksud aku, seganteng gantengnya pak Bani, tetap aja gak ada yang bisa ngalahin pacar aku yang paling ganteng sedunia" puji Naira dan langsung ngacir menuju kelasnya saat pak Bani sudah siap siap mengeluarkan amukannya.


"Ck.. dasar mereka, bikin naik darah aja tiap hari" decak pak Bani menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku muridnya.


"Kalau naik darah, minum aja pill tambah darah pak, biar makin naik darahnya" ucap Andri membuat pak Bani langsung menoleh kearahnya.


"Kalian juga ngapain masih disini? Sana masuk!" Tegas pak Bani dengan tatapan yang sangat tajam.


"Iye pak iye" ucap Andri dan langsung berjalan menuju kelasnya bersama Miko.


"Dasar ya punya guru galaknya kebangetan" umpat Miko saat sudah menjauh dari pak Bani.