
Sepulang sekolah Kania menghampiri Miko untuk pulang bersama seperti biasa.
"Mik, pulang bareng ya?" ajak Kania.
"Sorry Kan, kali ini gue gak bisa pulang bareng lo" jawab Miko.
"Kenapa? kamu sibuk? atau ada kerjaan lain?" tanya Kania beruntun.
Miko menggeleng sebagai jawaban.
"Mulai hari ini kita akhiri sandiwara ini. Aku gak mau lagi terus menerus menyakiti hati orang yang sangat aku cintai" ucap Miko.
"Siapa?" tanya Kania yang mulai kepoo.
"Lo gak perlu tau siapa itu. Yang pasti aku tidak mau melanjutkan sandiwara ini. Dan lo tau, melihat orang yang gue cintai menangis itu sakit rasanya. Gue harap lo ngerti. Dan satu lagi jangan menyebarkan berita yang tidak benar!" Jawab Miko sambil memasang helmnya.
"Emangnya kapan gue menyebarkan berita yang gak bener?" tanya Kania pura pura tidak tahu.
"Lo gak usah sok gak tau. Apa maksud lo ngomong ke Naira kalau lo sama Miko mau tunagan?" ucap Leon yang tiba tiba datang dan menyahuti perkataan Kania.
"Lo gak usah ikut campur!" sentak Kania yang tak suka Leon ikut campur dalam urusannya.
"Gue gak pernah ikut campur dalam masalah lo. Tapi kali ini lo menjadikan Miko korban yang paling tersakiti disini!" ucap Leon memberikan tatapan tajam.
"Dan gue harap, lo gak ada rencana jahat setelah ini" lanjut Leon tersenyum sinis.
"Awas lo!" batin Kania dan segera pergi dari sana.
"Sekarang gimana?" tanya Leon pada Miko.
"Gimana apanya?" tanya balik Miko.
"Naira" jawab Leon tanpa ekspresi.
"Gue juga gak tau Le. tolong bantuin gue buat jelasin semuanya ke Naira" pinta Miko memelas.
"Tuh liat, dia udah pulang sama bang Daffin" ucap Leon menunjuk Naira yang memang pulang bersama Daffin dengan menggunakan motor.
"Le, sejak kapan Naira inget sama gue?" tanya Miko.
"Gue gak tau kapan. Mungkin baru baru ini" jawab Leon.
"Terus sekarang gimana?" tanya Miko yang sudah pusing sedari tadi.
"Saran gue, lo jauhi Kania. bila perlu lo omongin sama satu sekolah bahwa gosip yang Kania berikan itu tidak benar. Tapi lo juga harus siapin bukti biar Naira percaya kalau lo emang gak ada hubungan apa apa sama Kania" jawab Leon.
"Bukti?" gumam Miko pelan.
****
Sementara itu Naira yang sudah sampai dirumahnya kelihatan sedih dan tidak banyak bicara. Sedari tadi Daffin sudah berusaha mengobrol dan basa basi dengannya. Namun Naira hanya menjawab seperlunya saja. Hari ini Daffin dibuat bingung oleh sikap Naira.
"Nai, kamu sakit?" tanya Daffin. Yang mendapat gelengan kepala dari Naira.
"Terus? kamu kenapa? dari tadi kakak perhatiin lesu mulu. Lagi ada masalah?" tanya Daffin.
"Kakak... " ucap Naira berhambur kepelukan Daffin.
Daffin dibuat bingung oleh sikap Naira. namun ia tak menolak. Daffin mengelus punggung Naira agar berusaha tenang.
"Hiks... hiks... hiks.... Kak... Miko" ucap Naira yang tak bisa lagi menahan tangisnya.
"Miko kenapa? dia sakitin kamu?" tanya Daffin. Membuat Naira menggeleng.
"Miko jahat kak. Naira benci sama adik kakak!" jawab Naira menumpahkan air matanya didada bidang Daffin.
"Jahat kenapa Nai? dia ngapain kamu?" tanya Daffin khawatir.
"Kak, apa bener Miko mau tunangan?" tanya Naira berusaha untuk tidak menangis.
"Hah! tunagan?" ucap Daffin terkejut.
"Hu'um. Kenapa kakak gak kasih tau Naira sih? kenapa kakak diem aja?" tanya Naira menatap wajah tampan Daffin.
"Enggak Nai. Sejak kapan Miko mau tunagan? Dan sama siapa? kakak gak pernah denger itu. Lagian Miko itu gak punya pacar kamu jangan ngaco deh" jawab Daffin menjelaskan.
"Tunggu? kenapa kamu nanyain itu? atau kamu udah..... "
"Iya, aku udah inget semuanya".