
"Bagaimana bisa Naira hilang!" Ucap Vino dengan kagetnya.
"Maafin kita kak, kita gak bisa jaga Naira" ucap Lucy menunduk.
"Ini semua bukan salah kalian, akulah yang salah karena teledor menjaga Naira" ucap Miko merasa sangat bersalah.
"Siapa kamu?" Tanya Vino menyeritkan keningnya.
"Saya teman Naira, nama saya Miko" ucap Miko mengulurkan tangannya.
"Vino, kakak Naira" ucap Vino menyambut uluran tangan Miko.
"Sekarang ceritakan padaku semua yang telah terjadi" tegas Vino menatap orang didepannya.
Dengan menghela nafas panjang, merekapun menceritakan semua kejadian malam ini pada Vino dengan detail, tanpa kurang dan lebih sedikitpun.
"Sekali lagi kami benar-benar minta maaf kak" ujar Dea memohon.
"Ini juga bukan salah kalian, sekarang kalian pulanglah, udah malem nanti orangtua kalian nyariin. Urusan Naira biar kakak yang urus, kalian doain aja semoga Naira cepat ketemu" ujar Vino.
"Aamiin" jawab mereka semua.
"Yaudah gue anter" tawar Miko.
"Gak usah kok, kita bawa mobil" tolak Rayna tak enak.
"No coment! Ayo" ajak Miko mengajak mereka menuju mobilnya.
"Leon, Lo bawa mobil mereka ya" ucap Miko yang diangguki Leon.
"Eh kak, mobil gue mau dikemanakan?" Tanya Rayna.
"Dibawa pulang, emangnya kemana lagi" jawab Miko membuat Rayna mengangguk.
Drrrttt...ndrrrttt... drrrttt...
"Lex, adik gue hilang, sekarang juga Lo kerahkan semua anak buah kita dan cek CCTV disemua jalanan, gue tunggu malam ini juga" perintah Vino pada Alex yang tak lain adalah asistennya.
"Baik tuan" ucap Alex diseberang sana.
Vino pun langsung mendongakkan kepalanya keatas, tak ada CCTV disini, membuatnya menghela nafas dan menuju ke mobilnya.
"Sayang kamu dimana sih?" Batin Vino dan mulai menjalankan mobilnya.
Tak berapa lama, Alex menelpon dan memberikan alamat dimana Naira berada, dengan segera Vino langsung tancap gas menuju lokasi yang dikirimkan Alex.
*************************
Dengan perlahan Naira membuka matanya, ia terkejut melihat dimana ia berada. Dengan kaki tangan yang diikat dan mulut yang dilakban, Naira terus memberontak, dan butiran bening berhasil lolos dipelupuk matanya.
"Emmppttt..." Naira mencoba untuk lepas, tapi percuma, ia harus berbuat apa sekarang.
"Emmppttt..." Naira terus memberontak sampai akhirnya.....
Brakkkk.
Suara pintu yang digebrak keras, membuat Naira terlonjak kaget namun juga senang.
"Kakak..." Batin Naira senang siapa yang datang menyelamatkannya.
Vino terkejut melihat kondisi Naira yang sangat berantakan, dengan kedua kaki dan tangan yang diikat, serta mulut yang dilakban, membuat Vino ingin membunuh hidup-hidup siapa yang telah melakukan ini pada adiknya.
"Sayang..." Ucap Vino dan langsung menghampiri Naira melepaskan ikatan pada kaki dan tangannya serta melepaskan lakban yang ada di mulut adiknya.
"Kakak..." Naira langsung berhambur kepelukan kakaknya.
"Hiks... Hiks... Hiks... Kakak Naira takut" ucap Naira memeluk kakaknya dengan erat, Vino dapat merasakan ketakutan Naira.
"Ssstttt sayang jangan nangis, udah ada kakak disini" ucap Vino mengelus rambut Naira lembut.
"Hiks.. hiks.. Aku kira kakak gak bakalan datang" ucap Naira terisak.
"Mana mungkin kakak gak datang, princess kakak dalam bahaya, kakak gak boleh diem aja" ujar Vino membuat Naira tersenyum dan memeluk erat kakaknya.
"Makasih kak" ucap Naira.
"It's okay, inilah tugas kakak"
Drrrttt... drrrttt... drrrttt...
Ponsel Vino berdering tertera nama Mamanya.
"Hallo mah" sapa Vino.
"Vin, kamu kemana aja sih kok gak balik balik, katanya mau jemput Naira, masa lama banget? Kamu ikutan gabung sama anak anak ABG disana?" Cerocos mama Indri.
"Iya mah maaf, ini Vino sama Naira juga mau pulang sekarang" jawab Vino.
"Hadeuhh kamu ini gimana sih, katanya mau jemput Naira, malah kamu yang gak balik balik" omel mama Indri.
"Iya mah iyaaa, Vino minta maaf, kita pulang sekarang" ucap Vino.
"Iya hati hati, jangan ngebut" ucap mama Indri.
"Iya mah" jawab Vino dan mematikan telponnya.
"Ayo pulang sayang, mama sama papa udah nungguin" ajak Vino merangkul bahu Naira dan berjalan menuju mobil.
"Naira gak tau apa jadinya kalau gak ada kakak tadi" ucap Naira lirih.
"Sudahlah semua sudah selesai, sekarang kita pulang dan istirahat pasti capek kan?" Ucap Vino membuat Naira mengangguk karena memang tenaganya terkuras habis hari ini.