
Hari ini para sahabat Naira mengunjungi nya karena mereka mendapatkan kabar bahwa Naira sakit dan tidak masuk sekolah tadi. Tentu saja membuat sahabatnya sangat khawatir, terlebih Miko, laki laki itu sedari tadi sekolah tidak bisa fokus pada pelajaran. Yang ada di benaknya hanya Naira Naira dan Naira.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka mengetuk pintu rumah Naira.
Ceklek.
"Waalaikumsalam" jawab mama Indri membuka pintu.
"Siang tan" sapa Miko tersenyum sopan.
"Siang calon mantu. ayo masuk!" ajak mama Indri ramah.
"Kalian mau jenguk Naira ya?" tebak mama Indri yang diangguki mereka.
"Naira nya diatas lagi sama Vino. kalian jenguk aja gapapa" ucap mama Indri.
"Kalau gitu kami keatas ya tan" ucap Lucy menunduk sopan. Dan mama Indri hanya mengangguk.
Tok... Tok... Tok...
"Nai... " panggil Salsa mengetuk pintu.
Ceklek.
"Ayo masuk!" ajak Vino.
"Makasih kak" ujar Dea.
"Nai..." lirih Miko dan langsung menghampiri kekasihnya itu.
"Yaudah kalau gitu gue keluar dulu. dan lo jangan macem macem sama adek gue!" peringat Vino pada Miko.
"Iya kak" ucap Miko.
"Ihhh kakakk suudzon banget sama calon adik ipar sendiri" sungut Naira kesal.
"Bukan gitu sayang, dia laki laki normal. Bisa saja bertindak diluar batas" sahut Vino menatap Miko.
"Astaga kakak, lagian ada kita disini, ck... posesif amat deh" decak Salsa menggelengkan kepalanya.
"Awas jangan macem-macem!" ucap Vino sekali lagi setelah itu ia keluar dari kamar Naira.
"Astaga Nai, sejak kapan kak Vino suka seudzon gitu?" tanya Lucy. Dan Naira hanya mengangkat bahu.
"Mik, maaf ya kalau kamu tersinggung sama ucapan kakak aku. udah gak usah ambil hati, dia emang gitu" ucap Naira merasa bersalah.
"Gapapa kok yank, aku gak kesinggung" ucap Miko tersenyum.
"Makasih tante" ucap Dea.
"Sama sama"
"Yank.. kamu kenapa kok bisa sakit hem?" tanya Miko lembut sambil mengusap rambut Naira.
"Aku gapapa kok, cuma demam biasa aja" jawab Naira tersenyum.
"Ehemm... Nai, kita keluar dulu ya" ucap Salsa yang tak mau menyaksikan keromantisan dua sejoli ini.
"Kalian puas puasin aja disana. Dan ingat pesan kak Vino. Jangan macem macem!" peringat Rayna sebelum akhirnya pergi keluar.
"Apa yang kamu rasain? pusing? mual? atau gimana?" tanya Miko beruntun.
"Aku udah gapapa kok, serius deh" ucap Naira menunjukkan jari berbentuk V.
"Makanya kamu jangan cape cape. Jangan begadang. Dan makan yang teratur" omel Miko.
"Ihh kamu udah kaya dokter aja" ucap Naira terkekeh.
"Lagian kamu ngeyel banget!" Sebal Miko.
"Iya iya maaf" ucap Naira memilih mengalah.
"Beneran gak lagi sakit? udah gapapa kan?" tanya Miko memastikan.
"Iya sayang" jawab Naira. Membuat senyum Miko mengembang seketika. Jarang sekali Naira memanggilnya seperti itu.
**
"Kok kalian turun?" tanya Vino saat melihat Rayna, Lucy, Dea dan Salsa turun kebawah.
"Hadeuhh kak, ngapain kita diatas cuma buat liat mereka romantis romantisan begitu" jawab Salsa.
"Kalian ninggalin Naira sama Miko berdua dikamar?" tanya Vino mulai khawatir.
"Iya, emang apa masalahnya?" tanya Lucy.
"Kalian tau kan laki laki dan perempuan itu gak baik berduaan, apalagi dikamar" jawab Vino.
"Kakak, udah deh gak usah berlebihan. Kakak gak percaya sama Miko? dia itu laki laki baik kak. Gak seperti yang kakak pikirin. Udah deh buang jauh jauh pikiran negatif kakak itu" celoteh Dea.
"Gimana gak khawatir coba, kalau mereka melakukan sesuatu diluar batas gimana? Miko itu laki laki normal" sungut Vino.
"Astaga kakak, terserah deh kalau gak percaya. Sono kakak aja yang temenin mereka berdua. Biar kakak kepanasan melihat kemesraan mereka" sahut Rayna.