Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Pdkt


"Udah Cy, lo gak usah perdulilan kutu kupret itu, anggap aja dia angin" jawab Leon kekeuh.


"Dihhh dasar lele genit" kesal Dea tak terima karena disebut angin disana.


Tak ingin mengecewakan Leon Lucy membuka mulutnya dan Leon menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Enak?" tanya Leon, membuat Lucy mengangguk.


"Yaelah kalau gini ceritanya, mending gue pulang" batin Dea memutar bola mata jengah.


"Nih minum" ucap Leon menyodorkan kopi susu hangat pada Lucy. Dan dengan ragu Lucy pun meminumnya sedikit.


Drrttt... Drrtttt... Drrtttt


Terdengar suara ponsel Dea berdering, terlihat nama mamanya disana.


"Hallo mah" sapa Dea mengangkat telpon.


"Kamu dimana? udah malem ini?" tanya Aini yang tak lain adalah mama Dea.


"Di warung kang Doni mah, emang kenapa?" jawab Dea.


"Pulang cepat, mama perlu kamu disini" suruh Aini.


"Yaelah mah kaya penting amat" sahut Dea.


"Udah cepat pulang" perintah Aini dan memutuskan sambungan teleponnya.


"Kenapa De?" tanya Lucy.


"Sorry Cy, gue harus pulang sekarang" pamit Dea.


"Loh kok cepat amat sih?" tanya Lucy.


"Mama gue nyuruh pulang, katanya ada urusan" jawab Dea.


"Terus gue sendiri disini?" tanya Lucy memelas.


"Lo gak bakalan sendiri kok, ada gue disini" sahut Leon.


"Nah iya, kan disini masih ada lele genit, jadi kalian nikmatin aja waktu berdua. Ya itung itung pdkt lah" ucap Dea tersenyum penuh arti.


"Pdkt?" Lucy menautkan alisnya.


"Udah deh lo gak usah sok jual mahal. si lele cocok buat lo" bisik Dea terkikik.


"Ngaco lo!" sahut Lucy yang mendengar bisikan setan dari Dea.


"Udah gue pulang ya" pamit Dea.


"Yaudah hati hati ya" ucap Lucy yang diangguki Dea.


"Dan buat lo lele. jagain sahabat gue. kalau dia mau pulang lo anter, dan jangan buat sahabat gue lecet sedikitpun" ancam Dea sebelum pergi dari sana.


"Yaelah udah kaya emaknya aja lo!" sahut Leon. yang tak dihiraukan Dea.


"Ada baiknya juga mama nyuruh pulang, ya itung itung gue gak bakalan jadi angin disana" batin Dea cekikikan saat sudah menjauh dari sana.


"Duh tuh anak malah mau pulang aja. ini Leon gimana? masa gue tinggalin disini?" batin Lucy tak enak.


Ting...


Sebuah pesan masuk dari HP Leon.


Miko


Leon


Paan, ngomong aja ngab


Miko


Udah gak usah banyak komen lo. cepat kesini.


Leon


Iya... iya...


"Dasar tuh anak ganggu aja deh" batin Leon kesal.


"Kenapa Le?" tanya Lucy.


"Cy, gue harus pulang sekarang" jawab Leon.


"Oh yaudah pulang aja" ucap Lucy tak keberatan.


"Gue anterin lo pulang ya" tawar Leon.


"Eh gapapa kok, gue masih mau disini" tolak Lucy tak enak.


"Ini udah malem, gak baik perempuan jalan malem malem kaya gini" ucap Leon.


"Gapapa Le, gue bisa pulang sendiri" ucap Lucy teguh pada pendiriannya.


"Kalau misalnya lo dijambret gimana? lo di apa apain gimana? ini udah malem banyak jambret berkeliaran" ucap Leon menakut-nakuti Lucy.


"Bener juga ya. kalau gue pulang sendiri gimana kalau gue dihadang jambret, atau ketemu om om genit?" batin Lucy bergedik ngeri.


"Yaudah deh" ucap Lucy yang akhirnya menerima tawaran Leon.


"Ayo... " ajak Leon menuntun Lucy untuk masuk kedalam mobil.


******


Dan disinilah Leon dan Miko. di sebuah coffe shop yang memang buka dua puluh empat jam.


"Jadi lo mau ngomong apa? kayanya penting banget. sampe ngerusak acara gue" ucap Leon yang teringat waktu berdua nya sama Lucy hancur begitu saja karena sahabat lucknut nya ini.


"Acara apaan malem malem gini?" tanya Miko tak percaya.


"Acara pdkt lah" jawab Leon santai.


"Sejak kapan lo tau yang namanya pdkt?" ucap Miko tergeli mendengar penuturan sahabatnya ini. Karena setahu Miko Leon tak pernah dekat dengan cewek mana pun. apalagi pdkt, yang benar saja itu tidak masuk akal ditelinga Miko. Apalagi sewaktu SMP Leon berhasil mendapatkan gelar Jodi alias jomblo abadi.


"Kamprett lo!" kesal Leon melengos.


"Cewek mana yang lo pdkt-in?" tanya Miko dengan sedikit tertawa.


"Ada lah" jawab Leon bangga.


"Cihh, gue penasaran siapa cewek yang mau sama Jodi kaya lo" ledek Miko membuat Leon memberenggut kesal.


"Sialan lo!" kesal Leon karena merasa direndahkan oleh sahabatnya.