Perjalanan Pilu Seorang Hana

Perjalanan Pilu Seorang Hana
Bab 41


Di dalam mobil pun yang terdengar hanya suara si sulung Rama, si bungsu Rafa dan Doni yang bercanda dan terkadang bernyanyi sambil mengemudikan mobil . Fandi hanya diam sibuk dengan pikirannya sendiri dan mengamati Hana yang duduk di kursi belakang dengan kedua putranya dari kaca atas kepalanya . Hana yang sibuk dengan cemilannya dan menjawab semua celoteh riang kedua putranya serta sesekali melihat pemandangan di luar dari kaca jendela mobil .


" Waaahh capek bercanda udah pada tidur aja ". ucap Doni di tengah kecanggungan antara Sepasang suami istri yang sedang berperang bathin .


" Iya Mas Doni , mereka kalau siang kan terbiasa tidur siang dan ini pas waktunya ." Hana menjawab pertanyaan Doni .


" Han dari tadi ngemil Mulu hehehe ". kata Doni dengan tertawa kecil .


" Iya Mas , Perut Hana rasanya gak ada kenyang nya ( Hana terdiam sejenak dan melirik Fandi ) maklum Mas ada dua nyawa yang butuh asupan makan " ucap Hana.


" Eh iya ya … Hati hati ya Han jagain nya ." ucap Doni tulus.


" Ehem "


Sebelum Hana menjawab Fandi berdeham , Hana tau bahwa Fandi terganggu dengan pembicaraan ini.


" Iya Mas Doni Terimakasih ya , Oya ni tadi di bawain makanan sama Ibu dan Mbok Jum di makan ya , bisakan kalau sambil nyemil Hana taro di tengah sini yaa". Jawab Hana sambil meletakkan makanan di tengah tanpa melihat Fandi .


5 menit kemudian Fandi pun menoleh ke belakang melihat anak anaknya yang tidur dengan beralaskan paha Hana .


" Adek atau kakak biar Mas yang pangku aja ya , pasti pegal itu pahami buat bantalan ." kata Fandi .


" Iya itu anak anak tidurnya bertumpuk gitu bantalan pake paha mu nanti kelamaan kram loh Han ". tambah Doni sambil melihat lihat kiri kanan bila ada rest area untuk menepikan mobilnya dan beristirahat sejenak dan saat menemukan Pom bensin Doni langsung membelokkan mobilnya untuk mengisi bahan bakar dan beristirahat sejenak.


Setelah mobil berhenti di rest area Pom bensin, Fandi langsung sigap untuk turun dan membuka pintu mobil belakang tempat Hana duduk dan Doni membuka sisi pintu belakang lagi untuk membetulkan posisi anak-anak Fandi yang sudah seperti anak nya sendiri.


" Gak usah Mas , Hana gak apa-apa ko ." tolak Hana saat Fandi membantu membenarkan posisi anak-anak nya dan karena Hana gugup karena posisi ia dan Fandi sangat dekat .


" Bisa gak sih kamu diem aja ". Hana langsung diam sambil memanyunkan bibirnya sebel mendengar ucapan Fandi .


" Don tolong gendong dulu adek Rafa nya biar nanti ku pangku di depan , soalnya kaki Hana kayanya kram ". kata Fandi dengan tangannya memberikan bantal pada kepala anaknya yang sulung dan sesekali melihat raut wajah Hana yang sedikit meringis nyeri .


" Eh kok Mas Fandi tau ya kalau kaki ku kram terus aku kebelet juga pengen ke toilet lagi gimana ini " gumam Hana dalam hati sambil memegang perutnya .


" Kenapa perut mu sakit ? " tanya Fandi pada Hana dengan raut wajah datarnya.


" Gak sakit tapi Hana kebelet pip*s Mas ." jawab Hana pelan .


" Yaudah sana ketoilet tuh tempatnya " kata Fandi sambil menunjuk tulisan toilet.


" Iya tapi kaki Hana kram Mas " jawab Hana dengan berusaha menggerakkan kakinya.


" Aauwh … Eh eh Mas kamu mau ngapain " Hana meringis nyeri dan terkejut dengan sikap Fandi yang akan menggendong nya.


" Apalagi Hana " ucap Fandi ketus dan menarik tangan nya dari tubuh Hana.


" Mas Fandi mau ngapain ? " tanya Hana bingung.


" Kamu bilang kamu kebelet tapi gak bisa jalan karena kaki mu kram , yaudah Mas bantuin buat gendong kamu ke toilet kan ". jawab Fandi dengan memposisikan tangannya untuk menggendong Hana .


" tung … tunggu dulu Mas , Mas Fandi kan sudah talak Hana jadi Mas Fandi gak boleh pegang pegang Hana Mas ." jawab Hana sambil menunduk kan kepalanya .


" Astaga Hana saya baru menjatuhkan talak 1 dan itu di sebut talak raj'i status pernikahan kita belum berakhir Hana , bahkan kalau saya mau kita berhubungan intim itu masih bisa di lakukan Hana kalau masa Iddah itu belum berakhir Hana." ucap Fandi dengan menahan geram pada Hana Istrinya . mendengar penuturan Fandi , Fandi masih sibuk berfikir .


" Udah buru mau di bantuin gak " tanya Fandi ketus .


" Iya mau tapi jangan gendong di papah aja ya " jawab Hana mengangguk kan kepala nya.


" Terserah kamu " kata Fandi ketus . Fandi pun langsung membantu memapah Hana menuju toilet .


" Don , aku nganter Hana dulu " ucap fandi pada Doni yang sedang memangku si bungsu Rafa di kursi kemudi , Doni menoleh tersenyum dan mengacungkan jempol nya pertanda oke 👍.


Fandi masih setia memapah Hana sampai depan pintu toilet dan langsung menghentikan langkahnya.


" Mas tunggu di sini aja " ucap Hana .


Tanpa menjawab omongan Fandi , Hana langsung beranjak jalan dengan pelan dan berpegangan pada dinding masuk ke toilet .


5 menit kemudian Hana sudah keluar dari dalam toilet dengan kaki yang sudah mulai membaik dan dapat berjalan pelan .


Saat di luar Hana tengok ke kiri dan kanan mencari sosok laki-laki yang tadi mengantar kan nya ke toilet hingga pandangan nya tertuju pada mobil hitam yang terparkir dan terdapat laki laki yang di carinya .


" Ya ampun gitu banget si jadi cowok masa langsung di tinggal bukannya nungguin , katanya masih suami istri dasar nyebelin ." gerutu Hana sambil berjalan menghampiri mobil suaminya.


" sudah Han ?". Tanya Fandi pada Hana .


" Gak liat apa udah sampai sini ". ucap Hana ketus dan langsung masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu mobil dengan kencang .


" JEDUG " (anggap aja suaranya gitu ya 🤭)


Dua orang laki laki yang masih berada di luar pun bingung dengan tingkah Hana .


" Kenapa dia ?" tanya Fandi masih dengan menggendong si bungsu yang tertidur pulas pada Doni.


Dengan mengangkat kedua bahunya Doni menjawab .


" Lah mana ku tau , Hana kan lagi hamil Fan dia lagi mood swing mungkin ."


Fandi dan Doni pun langsung masuk ke dalam mobil , Fandi pun langsung menoleh kebelakang .


" Kalau nutup pintu mobil tu pelan Han untung si kakak gak bangun ". ucap Fandi pada Hana, namun Hana tak menggubrisnya dan memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil di samping nya .


*****


Perjalanan dari Madiun ke Semarang berjalan -+ 183 km dengan waktu perjalanan yang di perlukan kurang lebih 4 jam 43 menit untuk sampai di kota Semarang .


Fandi pun menoleh lagi ke belakang pada anak sulung dan isterinya yang sedang tertidur .


" Fan nanti aku turun aja di rumah Mbak Fani ya aku gak ikut kerumah mertua mu ". ucap Doni saat akan sampai di rumah orang tua Hana .


" Iya , kuncinya udah sama kamu kan Don ?" tanya Fandi .


" Iya udah , nanti malam kamu langsung ngomong sama orang tua Hana fan ?". tanya lagi Doni pada Fandi.


" Iya Don , aku tetap akan cari si br*ngs*k itu Don sambil nunggu keputusan dari persidangan ." ucap Fandi lirih .


" Terserah kamu aja Fan , gimana baik nya aku bakal temenin kamu ". kata Doni sambil melirik Hana lewat kaca di atas kepalanya .


" Kasihan banget sih nasibmu Han , di perkosa hingga hamil anak kembar dan di cerai suami saat lagi hamil , Semoga setelah ini bkamu mendapatkan kebahagiaan Han " gumam Doni dalam hati prihatin dengan wanita malang yang sedang tertidur di kursi belakang.


Hingga mobil pun berhenti di depan pagar rumah warna putih , Doni pun turun untuk beristirahat di rumah Fani yang sudah seperti kakak perempuan nya .


" Nanti kalau urusan ku selesai ,aku kesini


Don ". kata Fandi di luar mobil untuk menggantikan mengemudikan mobilnya.


Doni pun hanya mengangguk kan kepala nya.


Fandi pun langsung mengendarai mobil nya menuju rumah mertua nya namun sebelum sampai rumah Fandi membangun kan Hana terlebih dahulu .


" Han Hana bangun udah mau sampai ini ." ucap Fandi .


" em eh udah mau sampai ya ". kata Hana sambil mengumpulkan kesadarannya.


Mobil pun berhenti di pelataran rumah dengan bercat hijau tosca itu , Hana melihat rumah itu dari dalam mobil dengan perasaan yang tidak bisa di artikan.


" Selamat datang rumah kelahiran ku , mulai hari ini aku akan berada di rumah ini lagi yang selama 7 tahun aku tinggalkan . Dan Hina nya aku pulang dalam keadaan kacau dicerai suami karena hamil dengan pria lain. Ya Allah Maafkan aku yang membawa beban untuk kedua orangtuaku." gumam Hana dalam hati merasa miris dan sedih.


****