
Derap langkah kaki saling beriringan bersamaan dengan brangkar rumah sakit yang didorong menuju ruang ICU ( Intensive Care Unit ) di karena keadaan Pak Tiyo dalam keadaan kritis karena luka jatuh dari tangga dan serangan jantung . Semua anggota keluarga berkumpul di depan ruang ICU kecuali anak anak dirumah dengan dijaga Hesty adik sepupu Fandi .
Semua menangis sedih tak terkecuali Hana yang merasa bersalah dalam musibah ini .
" Sabar ya Bu , maaf kan Hana Bu ." ucap Hana dengan memeluk erat tubuh Ibu mertua nya yang lemah .
" Iya ndok … Jangan menyalahkan dirimu sayang , ini semua musibah dari Allah SWT nak." ucap Bu Tuti dengan pandangan teduh tangan beliau terulur menyentuh pelan pipi Hana dan pandangan nya langsung menuju pada seorang perawat yang lewat .
" Permisi sus ". kata Bu Tuti.
" oh iya Ibu , ada yang bisa saya bantu...?" jawab perawat dengan ramah.
" Bisa minta tolong untuk mengobati luka di wajah menantu saya sus..?" ucap Bu Tuti sambil melihat ke arah Hana dan diikuti oleh si perawat .
" Bisa ibu , Kalau begitu saya ambilkan peralatan untuk mengobati luka mbaknya dulu Bu , saya permisi sebentar ." jawab perawat dengan senyum ramah.
Setelah perawat selesai mengobati luka Hana , Semua orang masih dengan setia berada di depan ruang ICU tempat Pak Tiyo berjuang hidup. Waktu sudah menunjukkan tengah malam Bu Tuti tertidur di kursi tunggu dengan berselimut jaket suaminya , Mbok Jum tertidur dengan mendekap tubuh Hana dan tinggalah Fandi dan Pak Joko yang masih terjaga .
" Eehm Pak ". Fandi memulai pembicaraan nya dengan Pak Jaya .
" iya den , ada apa ya ?" jawab Pak Jaya.
" Istri saya tadi pergi kemana ko ponselnya sama punya bapak tidak bisa di hubungi..?" Fandi menanyakan perihal kepergian sang istri karena rasa penasaran yang besar.
" itu itu den , Maaf kan bapak den tadi bapak diminta untuk mengantarkan Nok Hana ke pantai Pelang Trenggalek dan Nok Hana meminta untuk mematikan ponsel bapak . Karena bapak kasihan melihat ia menangis yasudah bapak turutin ". ucap Pak jaya apa adanya .
" Sampai sejauh itu dia pergi , Bapak tau dia ngapain di sana ?" Fandi terkejut atas keterangan Pak Jaya.
" Iya den , Bapak lihatnya dari jauh den dan terlihat Nok Hana menangis dan berteriak di pantai itu den ."
Setelah mendengar keterangan supir keluarga nya Fandi pun tertunduk dan meremas rambut nya .
" Astaga apa yang udah saya lakukan pada istriku ". Fandi pun menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan pada istri cantik nya karena sikap arogan nya hingga membuat istri dan bapak nya terluka dan celaka.
" Kamu sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga pecundang ."
Fandi dan Pak Jaya pun mendongakkan kepalanya melihat orang yang sudah mengucapkan kalimat sarkastik itu kepada Fandi. Dan ternyata orang itu adalah sahabat nya Doni , begitu melihat kedatangan Doni , Pak Jaya pun meminta ijin untuk mencari kopi panas karena udara malam itu terasa dingin.
" Apa mau marah , sudah saya sebut sebagai seorang pecundang . Hanya seorang pecundang yang mampu melakukan perbuatan itu ." ucap Doni masih dengan wajah dingin .
" Udahlah Don , aku lagi gak minat buat debat . Iya saya ngaku salah sudah melakukan kekerasan pada Hana ". ucap Fandi drngan penuh penyesalan .
" cih ..." Doni berdecih geram terhadap sahabat nya .
Dan saat Doni akan melanjutkan kalimatnya, Para Dokter dan perawat berlari masuk ke ruang ICU tempat Pak Tiyo
sedang di rawat. sontak karena suara gaduh Ibu , Hana dan Mbok Jum pun terbangun dari tidur mereka .
" Fandi ada apa nak , kenapa banyak Dokter masuk ke ruangan bapak nak ." ucap Ibu Tuti dengan suara getar dan mata yang berkaca-kaca .
" belum tau Bu kita do'a aja ya Bu , semoga Bapak bisa lewati masa kritisnya." ucap Fandi sambil memeluk tubuh ringkih itu , Pandangan Fandi pun tertuju pada istri nya di lihatnya mata Hana pun sudah berlinang air mata dengan tubuh yang hampir limbung hingga dengan cepat Fandi melepaskan pelukan ibunya yang langsung di gantikan oleh Doni .
" Hana " teriak Fandi tepat saat Fadi menangkap tubuh ramping Hana yang pingsan dan hampir terjatuh . Semua mata pun langsung tertuju pada Hana dan mbok Jum pun langsung memberikan minyak angin pada Fandi untuk di olesi pada istri nya agar Hana cepat siuman.
" Hana bangun , bangun " ucap Fandi sambil mengolesi minyak angin di depan hidung nya.
Hana pun mulai tersadar dan pandangan nya pun langsung tertuju pada manik mata yang dulu selalu memancarkan cahaya cinta untuk nya tak menyia-nyiakan waktu ,Hana pun langsung menangis dan memeluk erat tubuh pria pertama yang memberikan cinta kasih yang sangat ia rindukan .
" Hu hu hu mas huuhuu" Isak tangis Hana
" hus udah ya ,sudah jangan menangis lagi , maafkan mas yaa sudah bikin kamu sakit ". ucap Fandi sambil membalas pelukan Istrinya . Dan saat Fandi sedang menenangkan hati Istrinya dengan masih memeluk tubuh istrinya tiba tiba pintu ruang ICU tempat Pak Tiyo di rawat pun terbuka dan memunculkan dua Dokter dan satu perawat dengan wajah yang menunduk . Doni pun langsung bertanya pada Dokter yang berdiri paling depan .
" Dok bagaimana keadaan bapak kami ..?"
" Dok jawab bagaimana keadaan bapak ?" Fandi pun tidak sabar untuk bertanya tentang keadaan Bapaknya .
" Huuuffttt ( dengan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya di balik masker yang Dokter pakai ) Maaf kami sudah berusah dengan semaksimal mungkin tapi sayang nyawa Bapak Tiyo tidak bisa kami selamatkan , karena penyakit jantung nya yang kambuh dan di perparah oleh luka akibat jatuh dari tangga ., hingga menyebabkan almarhum tidak kuat dan menyerah oleh rasa sakitnya."
ucap Dokter dengan raut wajah sedihnya
" Gak , gak mungkin BAPAK "
" BAPAK "
" Innalilahi wainailaihi Raji'un "
teriak dan tangis mereka semua saat mendengar kabar duka itu . Bu Tuti pun langsung pingsan dan langsung di topang oleh Doni yang memang sedang mendekap seorang wanita paruh baya yang sudah di anggap sebagai ibunya , Fandi yang makin mengeratkan pelukannya pada tubuh istri nya dengan rasa penyesalan dan kesedihan yang mendalam.
Dengan sigap pun Pak Jaya dan Doni pun langsung mengurus pemulangan jenazah Pak Tiyo.
*****
Semua orang pun hadir di acara pemakaman Pak Tiyo , tak tertinggal Pak Wahyu dan Bu Wina pun hadir serta anak dan menantunya Fani dan Rendi pun langsung datang setelah di beri kabar oleh fandi .
Raut kesedihan pun nampak di semua wajah orang yang datang .
Bu Wina pun menghampiri sang anak yang ia perhatikan wajah putrinya sangat pucat .
" Mbak Na kamu gak apa-apa nak ?" tanya Bu Wina saat dekat dengan ibunya.
" iya Bu , Hana gak apa-apa ko , emang kenapa Bu..? " Jawab Hana pada ibu dengan senyum manis nya .
" Ini wajah mu kenapa mba ..? terus kamu ko pucat nak ?" tanya ibu khawatir
" Hana gak apa-apa ko Bu , oh ini kejeduk gayung Bu saat mandiin adek Rafa ,kan ibu tau sendiri anak itu aktif banget ." ucap Hana berbohong kepada ibunya
Saat Ibu Wina mengobrol dengan Hana , Fandi dari tadi memperhatikan dan mencuri dengar pembicaraan ibu dan anak itu dan langsung ikut berbicara pada Ibu mertua nya.
" iya Bu , ini kemarin Hana kejeduk saat mandikan adek Rafa , tapi sudah di kasih obat ko Bu , Ibu jangan khawatir ya." kata Fandi tapi Bu Wina hanya diam dengan masih melihat Hana dan Fandi secara bergantian .
" Mbak Na , kalau ada apa-apa ngomong Ibu Bapak sayang , kami selalu ada untuk kamu nak ." ucap Bu Wina yang membuat dua pasangan itu tegang takut ketahuan.
" Deg "
" Dan nak Fandi , jangan pernah sakiti anak ibu ya , kalau memang sudah tak menginginkan nya pulang kan pada kami ya nak " . lanjut Bu Wina yang membuat hati mereka mencelos, Hana pun langsung memeluk tubuh wanita paruh baya yang melahirkan nya.
****
Tepat pada tahlih tujuh hari kematian Pak Tiyo .Hana sibuk mempersiapkan semua pernak pernik acara pengajian tahlil dari hari pertama hingga tujuh hari Bapak mertuanya dengan di bantu Fandi , mba Fani dan Mbok Jum. Ya setelah mendengar kata kata Bu Wina atau mertua nya sedikit demi sedikit sikap Fandi pun berubah lebih baik terhadap Hana.
Acara tahlil pun selesai dengan baik. Hana dan mbok Jum sedang membersihkan piring kotor bekas acara tahlil namun saat Hana mengelap piring tiba tiba kepalanya berdenyut sakit , pandangan nya pun mengabur , disertai perut yang seperti di aduk aduk hingga tubuh nya jatuh dan tak sadarkan diri.
****
" Hah ko bisa "
" Tidak mungkin …"
*****
Dukung terus ya teman-teman reader karya pertama ku .
Maaf jika masih banyak kesalahan 🙏🙏🙏