
Dahinya mengkerut lalu membuka mata yang tadinya tertutup namun kepalanya agak pusing. Kepalanya sontak terangkat dari meja itu ketika mendapati Beni yang juga tertidur di sampingnya. Wajah yang terlihat tampan dan damai itu membuatnya menggelengkan kepalanya.
"Lora sadarlah! Kok bisa loe ketiduran lagi sih?" Batin Alora menggerutu sambil menggaruk bagian tengah kepalanya lalu sedikit menarik rambutnya karena frustasi.
Gadis itu menyadari mereka ketiduran di meja sudut perpustakaan setelah belajar beberapa jam untuk persiapan Final. Ia juga menemukan Lia yang tertidur di sisinya juga.
"Bestie bangun! Pulang yok!" Alora menggoyangkan tubuh Lia dengan kedua tangannya.
"Omg! Kok gua ikutan ketiduran sih?" Lia baru saja mengangkat kepalanya lalu mengecek jam tangannya.
Beni juga ikut terbangun lalu meregangkan tubuhnya.
"Yok gua antar pulang!" Ucap Beni yang baru tersadar itu.
Beberapa menit kemudian, ketiga remaja itu tampak berjalan lesu di pekarangan kampus.
"Hasil ujian gua jelek semua! Beasiswanya bakal di cabut, jadi gua harus cari second plan!" Ucap Alore dengan nada lesu.
"Bestie! Gua juga sama! Kuliah lebih berat dari pada sekolah! Dulu gua pengen cepet-cepet kuliah, lah kenyataannya depresot gua!" Sahut Lia lalu menepuk pelan punggung sahabatnya itu. Kedua remaja itu melirik oknum tampan bertubuh tinggi di samping mereka seolah menunggu keluhan lainnya.
Beni menyadarinya lalu berkata, "apa?"
"Hmm.. dia mah udah kaya dari sono nya! Mau ngapain aja sih aman!" Lia terlihat semakin lesu, namun tiba saja ia menghentikan langkahnya membuat Alora yang dirangkul tangannya ikut terhenti.
Lia mendapati Andi yang berjalan ke arah mereka.
"Bareng aku yuk! Ada yang mau aku pastiin dari kalian!" Kata Andi segera setelah tiba di depan ketiga oknum itu.
"Mereka pulang bareng gua!" Kata Beni dengan angkuh sehingga mengundang perhatian kedua gadis di sisinya.
"Gua perlu nanya sesuatu sama Alora, untuk kelanjutan kecelakaan itu!" Ucap Andi menatap tajam ke arah Beni.
"Yaudah! Yok Lia!" Beni meraih tangan Lia lalu menariknya melangkah bersamanya.
Sedangkan Lia tampak bingung, gadis itu menoleh ke belakang beberapa kali setelah melirik pemuda yang menariknya.
"Sejak kapan mereka sedekat itu?" Kalimat Andi terdengar agak sendu.
"Entahlah! Tapi belakangan mereka sering barengan sih!" Sahut Alora.
Di sisi lain, Lia berusaha melepas tangannya dari Beni.
"Loe apaan sih? Gua pengen pulang bareng kak Andi! Tapi loe... mau loe apa sih?" Lia terlihat sangat kesal.
"Loe harus tarik ulur! Saatnya loe buat dia penasaran kenapa loe menjauh dari dia, biar dia merasa kehilangan!" Ucap Beni.
"Loe b*d*h? Kenapa gua harus menghilang di saat gua nggak ngapa-ngapain! Jangankan kehilangan, ada gua aja dia nggak terasa! Udah stop gangguin gua! Jangan ikut campur lagi!" Lia pergi sendirian.
...
Alora naik ke mobil Andi begitupun pemuda itu yang duduk di kursi driver.
"Gua mau loe ceritain semua tentang Steve, dimulai dari sejak kalian ketemu, kejadian apa aja yang terjadi. Kesaksian loe bisa menambah bukti baru!"
"Lora nggak akan bersaksi!" Sahut Alora.
"Huh? Kenapa? Kita harus tangkap dia supaya loe juga nggak digangguin lagi sama dia!"
"Semua udah berakhir kak! Dari awal tidak sepenuhnya salah Steve! Aku yang buat dia jadi jahat jadi aku memang pantas disalahkan!"
"Lora loe harus sadar! Tolong berhenti bersikap aneh!"
"Kak, dari awal Lora sengaja lompat ke tengah jalan agar Lora bisa pergi, tapi malah kakak yang jadi penolongnya, selanjutnya kebakaran Kafe, Lora nggak berniat keluar dari api itu, tapi Andre butuh bantuan, terakhir kecelakaan kemarin alangkah baiknya jika hanya Lora sendirian di mobil itu." Gadis itu tersenyum setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Kenapa kamu pengen pergi?" Bola mata Andi berkaca.
"Cepat atau lambat kita akan mati juga kan? Aku bisa aja bertahan jika kehidupanku berjalan lebih baik. Tapi hidup ini tidak pernah menjadi lebih baik. Seberapa keras aku berteriak, lorong hitam terus saja terlihat dan tidak ada siapapun di sana." Cairan bening yang sudah membendung akhirnya menemukan jalur untuk mengalir.
"Hidupku.. penuh luka dan duka! Seberapa lama pun aku mandi, darah itu terus keluar melumuri tubuhku."
Andi hanya terdiam lalu memeluk gadis di sisinya itu. "Saat ini apa loe masih pengen pergi?" Pertanyaan dari Andi lalu melepas peluknya.
...
Di sisi lain, tidak ada yang menyadari Andre yang berdiri sejauh 3 meter dari mobil itu melihat ketika kedua insan di dalam mobil itu berpelukan.
***
Tbc