My Secret Alora

My Secret Alora
Yok Kuliah Bareng (1)


Akhirnya batang hidung gadis berambut panjang dan lurus itu terlihat di kantin. Andre yang mengeluhkan belakangan di ganggu gadis bernama Gebi membuat Alora sebagai sang pacar harus lebih waspada dari sebelumnya. Yaah walaupun Andre tidak akan goyah dengan godaan xixi.


Pasangan remaja itu hanya sibuk dengan makanan mereka masing-masing, tampak sunyi seakan keduanya sedang marah satu sama lain.


Gebi yang mengincar Andre akhirnya menemukan targetnya bersama Alora yang duduk di sisi Andre. Namun gadis itu pantang menyerah, ia tetap memilih bangku di depan Andre dan mendudukinya.


Kedua oknum yang sedang makan itu terganggu, lalu melirik gadis itu.


"Hai kak Andre! Maaf ya ganggu, bangku yang lain ada, tapi nggak enak makan sendirian"


Kedua oknum itu saling melirik lalu fokus pada makanan mereka. Kesunyian memang sangat terasa. Saat selesai makan, Andre mengambil tisu untuk dirinya dan juga memberikan untuk Alora. Keduanya tampak mandiri satu sama lain, tidak ada romance remaja atau interaksi sepasang kekasih lainnya.


"Mereka betulan pacaran?" Batin Gebi bertanya-tanya.


Andre bangkit dari kursinya lalu berkata "udah makannya sayang?"


"Iya nih sayang!" Alora ikut berdiri lalu mengikuti Andre yang melangkah menuju kelas.


"Pacaran apaan? pegangan tangan aja enggak!" Gumam Gebi yang tampak curiga. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti mereka.


"Loe mimpi buruk semalam?" Tanya Andre pada Alora.


"Kok loe tau?"


"Gua lihat muka loe kusut dari pagi tadi"


"Bukannya tiap hari muka gua gini-gini aja ya?"


"Ya ampun rupanya loe sadar juga! Ckckck" Andre merasa lelah dengan tingkah Alora, yang ia bisa hanya menggeleng-geleng pelan kepalanya.


Di sisi lain, Gebi memantau dan menguping percakapan kedua oknum tadi. Dalam hatinya terbesit "di depan gua tadi ngomongnya pake panggilan sayang, di belakang gua ngomongnya pake loe-gua gimana sih? Fix ada yang nggak bener nih" kesimpulan Gebi dengan raut wajah yakin, lalu berhenti mengikuti mereka saat keduanya masuk ke kelas.


...


Di sisi lain Andre dan Alora duduk di meja belakang bersama Lia juga, tepatnya Andre duduk di bangku depan Alora.


"Al, loe kalo mimpi buruk lagi telpon juga aja ya, gua bakalan nemenin loe ngobrol sampe rasa takut loe hilang, kalo perlu juga nyanyiin loe nina bobok biar loe bisa cepet tidur lagi" ucap Andre dengan tampang sok coolnya.


"Kok loe tiba-tiba baik sih?" Tanya Alora karena heran.


"Gua emang dari dulu baik, loe aja yang mikir buruk tentang gua"


"Seingat gua dulu loe nggak sopan, bawel dan keras kepala"


"Apaan? Kapan gua gitu?"


"Pas pertama kali kita satu tim di pekan olahraga, loe susah banget di atur"


"Tapi endingnya kita menang juga kan? Gua bahkan nggak minta hadiahnya dari loe!"


"Jadi loe pamrih? Mau nagih sekarang?"


Lia yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya mengeluarkan kata pertamanya.


"Stop!" Dengan nada agak tinggi memastikan bahwa kedua remaja yang sedang berdebat itu berhenti.


"Kalian ini selalu ya? Kalo ada gua aja kalian debat lah atau berantem lah, putus, nyambung, suka-suka kalian! Tapi ini di kelas bentar lagi guru datang, Andre loe pindah ke bangku loe, Lora siapin buku! Okeh sekarang aman"


kalimat panjang Lia dipatuhi dengan tertib, Andre pindah bangku dan Alora mengeluarkan buku dari tasnya, membuat Lia tersenyum indah dengan bibir mungil itu.


"Sepertinya keinginan gua untuk buat cerita genre romance bakalan kandas" batin Lia yang sama sekali sudah tidak berharap lagi pada bestie-nya.


***


Ujian masuk Universitas semakin dekat, para siswa-siswi sibuk mendaftar dan menyiapkan berkas sekaligus harus belajar giat agar diterima di kampus impian. Berlainan dengan Andre dan Alora yang keduanya malah dengan urusan kemanusiaan.


Dalam kasus Andre, ibunya yang akan menyiapkan berkas dan mendaftarkannya. Andre bahkan tidak diberi kebebasan memilih jurusannya, semua diatur oleh orang tuanya namun kebebasan yang dibenarkan adalah boleh memilih universitas mana saja, asalkan universitas besar.


Andre sibuk harus ikut acara sosialisasi sekolah, sebagai pemuda tampan yang mewakili sekolah. Selain itu Andre adalah salah satu siswa yang aktif organisasi karena tuntutan orang tuanya, berorganisasi akan melatih kerja sama dan kepemimpinan atau sering disebut leadership. Setidaknya walaupun bukan salah satu siswa pandai, mental dan softskill-nya akan lebih baik dengan berorganisasi.


Alora yang hampir menghabiskan jam istirahatnya untuk mencari Beni, akhirnya teringat tempat persembunyian Beni.


Iya benar, di belakang pohon paling besar di lapangan sekolah tempat ternyaman untuk berteduh.


"Akhirnya gua nemuin juga" ucap Alora yang terengah-engah karena berlari.


"Ngapain di sini?" Tanya Beni yang tadinya duduk sekarang memilih berdiri.


"Gua mau tanya pendapat loe" nafas masih kurang teratur.


"Apaan?"


"Loe milih jurusan apa? Universitas mana?"


"Bukan urusan loe!" Jawab Beni lalu pergi. Namun Alora juga tidak gampang menyerah.


"Kasih tau gua dong! Gua mau masuk jurusan manajemen, menurut loe bagus nggak?" Pertanyaan Alora terlontarkan sembari mengikuti langkah Beni dari belakang.


"Loe tertarik nggak? Yok daftar bareng gua" Alora si remaja jompo itu kewalahan mengimbangi dan mengikuti langkah besar pemuda itu yang dengan kecepatan kilat.


Dan bisa dipastikan percobaannya kali ini yang ke-6 gagal lagi. Sebenarnya Alora sudah mencoba berbagai cara untuk mengobrol dengan pemuda misterius itu sebelumnya. Mulai dari basa-basi di tempat kerja, hingga mengejar-ngejar nya seperti hari ini namun hasilnya nihil.


Akhirnya Alora kembali ke kelas dan duduk di kursi miliknya dengan wajah lelah.


"Kenapa loe?" Tanya Lia sang bestie sekaligus teman sebangkunya.


"Gagal lagi!" Sahut gadis itu lesu.


"Tuh kan, mending loe berhenti aja deh! Biarin dia ngurus hidupnya sendiri"


"Bantuin gua dong Liaa" Alora memelas.


"Nggak akan! Kecuali loe juga akan ikut kuliah bareng gua! Titik!"


"Loe mau tau imbalan gua kalo berhasil dalam misi ini?"


"Apaan emang?"


"Beasiswa full dari om eh.. pak Herman, selain itu juga jaminan kerja ketika lulus"


Mulut Lia otomatis terbuka lebar "bagus dong! Tapi percuma aja loe nggak akan kuliah kan?"


"Gua nggak layak untuk hadiah sebesar itu, satu gua bukan murid pinter, dua gua juga nggak minat kuliah, tiga gua juga akan pergi"


"Pergi kemana loe? Ada-ada aja. Kuliah aja, udah! Jangan sia-siain kesempatan sebesar itu" Lia mencoba membujuk gadis itu. "Atau perlu gua laporan sama nenek loe?" Mengganti cara dengan mengancam.


Alora hanya diam saja dan berpikir.


"Okeh gua akan bantuin loe nanya ka Beni, puas kan loe?" Lia akhirnya menyerah setelah melihat wajah lesu itu.


"Beneran? Thanks banget, loe memang paling the best best best pokoknya" Alora gembira dan mengacungkan kedua jempolnya ke arah Lia yang terlihat memaksakan bibirnya senyum itu.


Namun dibalik senyum yang dipaksa itu, ada rencana besar untuk menyelesaikan misinya yaitu membuat Alora juga ikut kuliah. Mata Lia tampak berbinar dengan ide cemerlangnya.


.


.


.


.


Kira-kira Lia bakal ngapain?


Tbc