
Jalanan agak basah di basuh hujan terus-terusan selama seminggu. Weekend yang tampak cerah di pagi hari dengan udara segar terhirup nyaman masuk ke dalam jantung. Alora sedang berdiam diri di depan rumah Lia menatap kosong pohon beringin yang tumbuh subur di seberang jalan rumah itu.
"Lora! Ayo sarapan dulu! Jangan pulang dulu! Lia mau nitip tugasnya buat hari senin!" Teriak Mamanya Lia yang sedang menata meja makan.
"Iya tante, bentar lagi Lora masuk!" Sahut gadis dengan setelan hodienya.
Sesuai perkataannya, Lora masuk dan sarapan bersama Lia yang masih demam. Usai sarapan Lia membawa bukunya ke ruang tamu agar Alora membawanya untuk dikembalikan ke perpustakaan kampus.
"Tolong ya bestie!" Lia mengedipkan kelopak mata kanannya sambil tersenyum.
"Loe kapan sembuh? Kok lama banget sih?" Alora memelas lalu memeluk Lia dan mengelus punggung Lia.
"Kan? Badan loe masih hangat gini!" Sambung Alora lalu melepas peluknya.
"Biasalah tipes gua kambuh! Lusa gua udah bisa ngampus lagi kok! Ini aja udah kuat gua," Lia mendekatkan wajahnya ke arah Alora lalu berbisik, "loe tau sendiri nyokap gua over protectiv! Nggak dibolehin pergi hihi!"
"Kalo gitu gua balik dulu! Bokap gua pasti nyariin semalam gua lupa bilang nginap di rumah loe!"
"Ya ampun kan bisa loe telpon! Loe hidup di jaman apa sih?" Lia yang frustasi dengan sahabatnya yang satu itu.
"Oiya! Gua lupa! Gua balik dulu ya! Bye!" Alora keluar dari rumah sambil melambai. Tak lama ia kembali lagi.
"Cepet sembuh bestie!" Kalimat terakhirnya lalu tertawa dan pergi.
"Itu Lora hpnya ketinggalan deh kayaknya! Bunyi tuh di kamarmu sayang!" Kata Mamanya Lia.
"Ya ampun bener lagi! Aloraaa pikirannya ke mana sih?" Lia frustasi kedua kalinya.
Setelah beberapa menit, Lia sudah siap dengan jaketnya agar tidak kedinginan di pagi yang sejuk itu.
"Mah! Lia pergi yaa! Balikin hp nya Lora!" Teriak Lia dari depan pintu rumahnya.
"Jangan sayang! Nanti demamnya naik..."
"Maah kata dokter Lia harus banyak olahraga biar sehat! Pergi dulu bye!" Lia yang ngotot pergi dengan berlari kecil di awal agar tidak mendengar omelan Mamanya.
...
Lia yang tampak bahagia berjalan santai menghirup udara luar setelah beberapa hari terbaring di kasurnya. Namun, kebahagiaan selalu tidak bertahan lama. Gadis itu tiba saja mendapati seseorang yang mencurigakan dengan setelan serba hitam, kepalanya ditutupi jaket tudung di atas topi hitam pula. Sosok yang familiar membuatnya ketakutan walau matahari baru saja terbit.
Pada saat ketakutan itu tiba, maka langkah utama adalah dengan cepat mengambil hp dan menekan tombol panggilan darurat agar ada yang datang. Lia yang kalang kabut tanpa berpikir mengambil hp di sakunya lalu menekan tombol 1 untuk memanggil Alora. Ia bahkan lupa bahwa tujuannya awalnya adalah mengembalikan hp Alora yang tinggal di rumahnya.
Namun, di tengah dering panggilan yang belum terjawab itu ia teringat bahwa hp Alora bersamanya. Gadis itu mengernyitkan dahinya dan perlahan menarik hp yang ia letakkan di telinga.
"Halo Lia!" Suara dari hp itu.
Lia yang terkejut sontak membuka mulutnya, walau bingung bagaimana bisa ada yang menjawab panggilan itu, Lia tetap meminta bantuan sambil berbisik.
"Tolongin Lia! Ada yang ngikutin, Lia takut! Lagi jalan ke rumah Alora!" Bola mata Lia sudah berkaca.
"Terus jalan! Jangan takut! Tungguin aku akan datang secepatnya!" Suara itu terdengar bersamaan dengan hembusan nafas.
"Tolong cepaaat! Liaa takut!" Lia masih berbisik di hp nya.
Setelah 3 menit, tampak seorang pemuda berlari sangat cepat dari arah depan Lia. Lelaki itu langsung merangkul bahu Lia begitu tiba dengan nafas terengah-engah.
"Jangan takut! Ini aku Andi! Terus jalan!" Ucap Andi dengan nafas tidak teratur itu.
Andi memeriksa ke belakang, orang yang mencurigakan itu berbalik arah lalu berjalan kembali ke habitatnya.
"Loe tenang aja dia udah pergi!" Suara Andi masih bercampur nafas karena kelelahan.
"Makasih banyak kak Andi udah datang!" Ucap Lia dalam peluk itu. Dan Andi merasakan cairan hangat membasahi bahunya serta tubuh hangat Lia yang masih demam itu.
Setelah berjalan semakin jauh dan hampir sampai di rumah Alora, Lia baru menyadari ternyata Andi tidak mengenakan alas kaki. Kaki telanjang yang memerah menyentuh aspal apalagi dengan tekanan saat ia berlari.
Sebenarnya, begitu menerima telepon dari Lia, Andi sudah khawatir apalagi saat Lia baru mengatakan tolong, Andi sontak berlari dengan kencang dari kamarnya tanpa menyadari lupa mengenakan sandal.
Di rumah Alora, ketiganya duduk di ruang tamu dan saling terdiam.
"Kak Andi makasih ya udah datang buat Lia!"
"Sebentar! Kok bisa panggilan darurat Lia masuk ke nomor kak Andi? Perasaan Lia setting-nya nomor Alora." Lia yang ingin mengklarifikasi keanehan yang terjadi.
"Jadi tuh..." kata Alora yang ingin menjelaskan terpotong.
"Aku nyuruh Alora buat ganti jadi nomorku! Soalnya bahaya kalo kalian sesama cewe yang datang kan jadi rumit nantinya!" Andi yang menjelaskan menggantikan Alora.
"Huh?" Lia masih bingung lalu melirik Alora yang mengangguk pelan kepadanya.
"Tapi kenapa kak Andi segitunya buat Lia? Lia kan jadi salah paham nanti! Kalo ketahuan pacar kakak gimana? Nanti malah rumit jadinya!" Lia memanyunkan bibirnya, cemberut dan rasa bersalah bercampur jadi satu.
"Nggak akan ketahuan kok! Aku yang sekarang single! Nggak akan ada yang marah, jadi Lia boleh telpon aku kapan aja Lia mau ya!" Andi tersenyum lembut ke arah Lia.
Alora yang menjadi penonton itu hanya melirik kedua oknum di depannya yang saling melempar tatap. Yang satu melempar jurus yang satunya lagi menahan senyum kegirangan seolah menerima kode kemenangan.
...
Di hari yang sama, tampak pemandangan langka Andre dan Beni duduk di Kafe itu saling berhadapan sembari meneguk minuman dari cangkir masing-masing.
"Apaan? Dari tadi loe lihatin gua terus, awas jatuh cinta!" Suara Beni yang terdengar malas namun tetap bersua.
Andre mengehela berat malas meladeni kalimat aneh yang ia dengar itu.
"Loe pasti tau sesuatu, tolong bilang ke gua apapun itu!" Ucap Andre pada Beni yang merespon dengan menyeruput minuman miliknya.
"Tentang Alora? Gua nggak tau! Tanya aja sendiri ke orangnya!" Sahut Beni santai.
"Gua minta tolong loh! Kasih tau aja kenapa?" Andre tampak frustasi.
Beni melirik Andre yang mengacak rambutnya pasrah dan lelah.
"Harusnya gua nggak ke sini! Gua juga udah tau loe bakal tutup mulut!" Andre yang menyerah lalu meneguk minumannya.
"Gua punya saran!" Kata Beni tapi tidak membuat Andre ingin mendengarnya.
"Buat dia percaya sama loe!" Beni melanjutkan kalimatnya.
"Jadi maksud loe, Alora selama ini nggak percaya sama gua gitu? Tapi kenapa? Gua kurang di mana?"
"Loe terlalu fokus dengan apa yang loe cari sampai loe lupa apa yang terbentang di depan mata loe!"
.
.
.
Tbc