My Secret Alora

My Secret Alora
Why?


Karena mereka tidak akan mengerti apa yang terjadi, jadi biarkan saja.


-bomy-


.


.


Andre tampak bersemangat saat menyelesaikan mata kuliah terakhirnya, ia ingin mengajak pacarnya jalan-jalan. Tiba saja, seseorang menarik tangannya saat ia keluar dari kelas itu.


"Huh? Ziva kenapa loe narik gua?" Tanya Andre begitu menoleh.


"Ah.. itu.. jadi kan kita buat tugas kelompok komunikasi bisnis?" Gadis itu tampak mencari alasan lalu menyela rambut yang melewati telinganya, seakan ia ingin Andre teralih perhatian padanya.


"Bukannya besok kita buatnya?" Sahut Andre agak bingung.


"Aahh... besok ya?" Ziva berpura-pura lupa.


"Iya! Hari ini gua nggak bisa! Bye!" Andre berlalu pergi.


Setelah mencari, mengirim pesan dan menelpon, Alora tetap tak ditemukannya. Gadis itu tidak membalas atau menerima panggilan dari pacarnya. Tentu saja, Alora sedang sibuk mengangkut barang di tempat kerjanya. Gadis yang rajin itu sedang merawat mentalnya agar tidak memikirkan hal yang tidak perlu ia ingat.


Setelah berkeliling di sekitar kampus, pemuda itu mencari di tempat-tempat Alora kemungkinan ada hingga berakhir di gedung psikologi. Lia dan Dian baru saja dari kantin melihat Andre.


"Ndre! Loe mau kemana? Lora mana?" Tanya Lia dengan wajah yang tidak seceria dulu.


"Itu juga yang pengen gua tanya sama loe!" Sahut Andre.


"Loh? Apa mungkin dia langsung pulang? Tapi dia bilang kalo sendirian dia banyak pikiran dan malas di rumah!" Sambung Lia dengan alis tertaut.


"Trus dia kemana dong?" Alis Andre juga ikut tertaut.


"Loe si pacar ya?" Sahut Dian tiba-tiba dengan pertanyaan randomnya.


"Huh?" Andre tampak bingung.


"Loe kalah lagi kali ini? Gua lihat lora udah keluar kampus duluan tadi, dan ... gua juga Liat si cowo baju ngikutin di belakang" pemuda ini tersenyum.


"Apa? Siapa si cowo baju?" Ingatan Andre mengarah di hari pertama ia menemukan pemuda itu "Maksud loe Beni?"


"Iya!" Pria ber alis tebal itu menggerakkan sebelah alisnya sambil mengangguk-angguk.


"Bentar! Loe lihat nya kapan?" Tanya Lia yang heran karena sedari tadi mereka selalu bersama.


"Tadi! Pas kita keluar MK lalu ke kantin gua lihat Lora keluar dari perpus lalu menuju gerbang keluar" jawab Dian sangat yakin.


...


Dari balik kaca mobil Beni memantau keberadaan Alora. Mobil yang sengaja ia parkir di Kafe depan supermarket tempat Alora bekerja. Setelah beberapa menit memantau dari mobilnya, saat ini Beni meneduh Di Kafe tersebut dengan memesan minuman dingin. Dengan segaja Beni memilih meja di dekat dinding kaca agar lebih mudah menemukan gerak-gerik Alora yang keluar masuk mengangkut barang.


Walau kehidupannya sudah lebih baik, namun kondisi jiwanya yang belum mampu menerima kebenaran dari kenyataan yang terjadi. Alora selalu terlihat tegar dengan senyum palsu sebagai topeng. Namun, dibalik semua itu rasa bersalahnya selalu menghantui.


"Apakah pilihanku sudah benar? Tapi kenapa aku merasa kosong dan ini tidak benar?" Kata hati sering kali muncul saat ia sendirian.


Setelah dua jam, Beni akhirnya keluar dari Kafe menuju tempat Alora bekerja. Setiap langkah ia melirik dan mencari keberadaan gadis itu, saat menemukannya ia berpura-pura tidak tau dan bersikap seolah ingin belanja.


Keributan semakin menjadi sehingga manajer supermarket harus datang langsung untuk menanganinya. Seperti biasa Beni hanya menonton tiap hal yang seru baginya untuk di tonton.


Sebab akibat alhasil Alora dipecat hanya karena alasan "pelanggan adalah raja!" Walaupun gadis itu tidak melakukan apapun namun berhasil jadi tertuduh.


Beni kembali melihat sisi menyedihkan gadis itu. "Kenapa tu cewe nggak membela diri? Malah diam aja?" Batin Beni dengan wajah yang terlihat kesal.


"Kamu dipecat ya Alora!" Ucap Manajer yang tidak bisa meredam amarah pelanggannya.


Beni yang sudah tidak tahan pun keluar dari persembunyiannya. Pemuda itu melangkah menuju Alora lalu menggenggam pergelangan tangan Alora lalu menarik gadis itu. Tentu saja langkah Alora otomatis bergerak reflek saat sebagian tubuhnya tertarik. Bola mata yang membulat sendirinya, karena sedari tadi ia hanya menunduk jadi ia tidak tau siapa yang menariknya. Walau tarikan kuat itu membuatnya menduga seseorang yang ia kenal yang melakukannya.


Beni menghentikan langkahnya setelah keluar dari supermarket itu dan ia juga melepas genggaman kuatnya dari tangan Alora.


"Loe ngapain sih?" Bentak Beni dengan emosi yang tidak stabil itu.


Alora yang hanya diam saja dengan wajah sendu, tatapnya terfokus pada satu titik. Tampaknya gadis itu sedang terpukul ia masih tidak mengerti kenapa semua orang berusaha menyalahkannya.


"Loe berhenti jadi menyedihkan!" Bentak Beni berkelanjutan.


"Kalo loe butuh kerjaan bilang ke gua biar gua masuin ke supermarket milik bokap gua!" Beni masih belum mampu meredam emosinya.


Pendengaran Alora seakan berhenti bekerja.


"Apa gua bersalah hanya karna gua hidup ya? Semua orang benci sama gua kayaknya!" Kata Alora dengan wajah datar.


Tatap Beni menjadi lebih serius dan alisnya mengkerut saat mendengar kalimat aneh dari gadis itu.


"Harusnya gua mati aja hari itu!" Ucap Alora lalu tersenyum lebar selama dua detik dan kehilangan senyumnya lagi. Seolah dirasuki tatap gadis itu tidak sama lagi, penuh tekad entah apa yang ia pikirkan.


"Rasa bersalah? Apa mencintai juga salah? Harusnya loe jadi orang baik supaya gua sukanya sama loe bukan dia!" Ucap Alora lalu memukul-mukul pelan dada Beni dan kemudian di hentikan saat Beni menggenggam lagi tangan kecil itu.


Beni mendekat lalu menyentuh kedua bahu Alora lalu mengguncang tubuh gadis itu agar kembali tersadar.


"Hahahahahhahahahha" tiba saja Alora tertawa keras, seakan hal yang sangat lucu sedang terputar di kepalanya.


"Loe Beni kan? Ngapain gua ngomong gitu ke elloe ya? Nggak guna! Loe bakalan lebih dulu bunuh gua daripada nunggu gua mati hahahah" oceh Alora lalu memukul keras kepalanya.


...


Seseorang tiba saja menculik Alora dari pandangan Beni. Lagi-lagi tangan Alora layaknya tali yang ditarik-tarik sesuka mereka. Steve yang muncul entah dari mana datang dan ikut campur.


Setelah 2 meter jauh dari pandangan Beni, Steve berbisik di telinga Alora dengan senyum seringai. Tentu saja Beni tidak langsung menangani, seorang Beni butuh alasan kuat untuk bertindak karena ia malas berurusan ketika harus menjelaskan alasan yang tidak ia miliki.


Setelah berbisik, Steve melirik sebentar Beni lalu dengan tatap sinis itu pergi seolah tugasnya sudah selesai. Alora sedang tidak baik-baik saja.


"kenapaaaaa?" teriak Alora kesal dengan bola mata yang berair itu.


.


.


.


tbc