
Lia pulang les kemalaman, lalu menuju Kafe untuk menjemput Alora supaya bisa pulang bareng.
Dalam perjalan 10 meter menuju Kafe gadis cantik itu melihat Alora keluar dari pintu Kafe. Namun tak lama Beni langsung menarik tangan Alora menjauh 5 langkah dari Kafe. Tentu saja Lia mengikuti mereka untuk memastikan apa yang terjadi.
"Apaan? Gua mau pulang!" Ucap Alora yang terlihat lelah.
"Yok kuliah bareng!" Ucapan Beni yang berhasil membuat Lia sebagai penonton membuka lebar mulutnya.
Lia langsung melirik Alora menunggu jawaban, namun Alora hanya diam saja sembari berpikir. Beni juga greget menunggu Alora yang tidak kunjung membuka mulutnya.
"Kenapa loe diam?" Tanya Beni.
"Kuliah aja sendiri!" Sahut Alora lalu melangkahkan kakinya untuk pulang.
"Apa?" Beni kembali menarik tangan Alora untuk menghentikan gadis itu. "Heh! Loe main-main sama gua?"
"Apanya? Kalo mau kuliah, kuliah aja!" Balas Alora santai.
"Beberapa hari yang lalu loe yang ngajak gua..."
"Tapi kan sekarang udah enggak! Harus nya loe belajar manfaatin waktu dong! Selama seminggu gua sia-siain waktu gua buat nawarin loe, tapi loe nolak. Sekarang loe malah mengajukan diri? Udah telat! Gua bakalan ngajak pacar gua aja!" Jelas Alora lalu berusaha untuk pergi ketiga kalinya.
Beni hanya diam saja merenungi kalimat panjang dari gadis berambut lurus tadi.
Di sisi lain Lia mengejar Alora untuk pulang.
"Loraa tungguin Liaa" panggilnya.
Alora menghentikan langkahnya lalu merangkul bahu Lia begitu sampai.
"Gua lihat Beni berdiri di sana, gimana berhasil loe bujuk dia?" Lia pura-pura bertanya.
Namun Alora menarik nafas panjang lalu menghela berat.
"Gua gagal!" Balas Alora.
"Bukan karna loe nolak dia yang ngajuin diri buat kuliah bareng?" Tanya Lia dengan raut kesal.
"Kok loe tau?"
"Gua denger semua tadi! Loe sok jelasin timing lagi sama dia, loe sendiri yang sia-siain semua kesempatan besar yang harisnya loe ambil. Sekarang hancur sudah harapan gua"
"Harapan?"
"Harapan gua buat liat loe bisa hidup dengan bersinar, tanpa harus khawatir dan nikmatin hidup loe, dan gua pengen lihat Lora yang happy ending" ucap Lia yang cemberut namun terlihat imut.
"Makasih Liaa udah sayang sama gua, gua juga pengen lihat loe bahagia dan bisa hidup tanpa perlu khawatirin gua tiap waktu" Alora merangkul sahabatnya itu lalu melanjutkan katanya.
"Tapi Lia, karna loe sahabat gua, gua nggak bisa kasih tau loe. Tapi gua harus pergi setelah selesai, gua udah cukup dengan semua ini"
Lia merasa ada yang janggal dengan kata-kata Alora karena sudah beberapa kali mendengarnya, namun mengabaikan nya untuk saat ini.
***
Perlahan Alora mempersiapkan diri, ia mentransfer sebagian tabungannya untuk neneknya. Hampir tiap akhir pekan ia mengunjungi rumah neneknya dan selalu berpesan
"Nenek jaga kesehatan baik-baik! Kalo ada apa-apa langsung telpon tante Ina"
"Emangnya Lora mau kemana?" Tanya nenek.
Namun Lora hanya tersenyum.
"Lora, nenek mau kamu hidup bahagia, sudah cukup kirim uang buat nenek. Saatnya pakai uangmu untuk senang-senang, nenek biar tante Ina yang urus.
"Iya Lora, bener kata nenek!" Sahut Ina yang merupakan anak kedua nenek yang baru pulang dari luar negeri.
"Tante udah lama banget ninggalin mamah tanpa tau kabar apa-apa. Gak ada yang hubungin tante, semua nomor tante coba hubungin tapi semua gak aktif. Tante mau pulang tapi belum bisa waktu itu. Tapi sekarang tante lega, semua baik-baik aja cuman minus kak Annira."
"Lora, sekarang tante yang akan jadi wali kamu! Kamu sekolah yang bener ya" sambung Ina yang tampak sangat menyayangi keluarganya itu.
"Iya tante"
"Oya kamu udah mutusin mau kuliah di mana dan jurusan apa?"
"Lora nggak akan kuliah tante"
"Loh kenapa? Kamu nggak perlu khawatirin biaya nya, tante dan suami tante yang bakalan biayain kamu. Dulu kak Annira, mamanya Lora selalu bantuin tante, pas tante kena omel mamah, atau pas tante bikin ulah di sekolah mama Lora selalu bantuin tante dan ending tante nggak kena omel, malah Kak Annira yang diomelin mamah" Ina tertawa sembari bernostalgia mengingat kakaknya.
Di sisi lain mata Alora berkaca tanpa sadar. Ia merindukan wanita yang dia sendiri tidak bisa mengingat wajahnya. Kesedihan seperti itu membuatnya seakan tidak layak dicintai.
"Oya mas Yanto gimana kabarnya sekarang?" Pertanyaan random tante Alora yang membuat gadis itu bingung.
"Iya, papa kamu!" Sahut Ina lagi.
Di sisi lain nenek mencoba menghentikan Ina agar tidak menanyakan tentang orang tua Alora dengan memukul punggung Ina agar wanita itu menoleh, lalu meletakkan jari telunjuknya dibibir agar Ina paham untuk menutup mulutnya.
"Alora ini kan udah hampir jam kamu kerja sebaiknya kamu berangkat jangan sampe telat"
Alora berangkat dengan kendaraan umum. Saat akhirnya Alora telah benar-benar pergi nenek menjelaskan alasannya menghentikan Ina tadi.
"Kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia lupa ingatan! Kamu harus itu dong, jangan bertanya soal itu, Lora pasti lagi sedih sekarang"
***
Di sisi lain, Lia yang menggrebek rumah Alora karena penasaran sebenarnya apa maksud Alora selalu bilang "akan pergi". Menggunakan kunci cadangan dia masuk rumah dan langsung ke kamar Alora.
Kamar itu tertata rapi dengan barang-barang yang sebagiannya menghilang terutama semua foto sudah dipindahkan ke dalam kotak kardus. Kamar yang biasanya berantakan itu, menurut Lia saat ini terlihat tidak menggambarkan seorang Alora.
Sesudah mencari tapi lebih ke melihat-lihat, Lia tidak menemukan apapun. Gadis itu hanya melihat barang seperti tumpukan sampah telah dikumpulkan Alora untuk dibakar.
Sorot mata Lia menemukan sebuah buku asing yang menarik perhatiannya. Gadis itu mengambilnya dan membukanya. Setelah dibuka ternyata buku catatan hidupnya atau sering disebut diary.
Setiap halaman hanya berisi kisah sedih dan diakhiri gambaran emot tersenyum di akhir kalimatnya. Dalam salah satu halaman yang penuh tanda tanya, bertuliskan
"Apa aku tidak pantas bahagia? Sebenarnya bahagia itu bagaimana? Aku lupa kapan terakhir kali aku bahagia, apa aku pernah? Aku lelah :)"
Air mata Lia tak tertahankan mengalir di setiap ukiran kata yang dibacanya. Halaman terakhir bertuliskan
"Aku akan pergi, Agustus 23... di jalan yang sama..."
Satu-satunya kalimat yang tertulis dengan tinta merah. Setahu Lia, 23 Agustus adalah hari ulang tahunnya.
Lia langsung menjatuhkan buku itu lalu berlari sekuat tenaga ke halte lalu memanggil taksi menuju Kafe, dan ternyata Alora tidak ada di sana. Lalu ia memutuskan menuju rumah nenek Alora.
Sesampainya di rumah nenek Alora, tentu saja Alora sudah pergi. Lia memutuskan bertanya
"Nenek tau hari ini ulang tahunnya Lora?"
"Yang bener kamu? Kok dia nggak bilang-bilang ya?" Tanya Ina.
"23 Agustus? Yaampun ternyata hari ini?" Nenek tampak khawatir.
"Kenapa nek? Alora pergi kemana?" Tanya Lia yang ikutan khawatir.
"23 Agustus bukan ulang tahun Alora tapi hari kematian kedua orang tuanya"
"Apa?" Sahut Ina dan Lia serentak.
"Selama ini dia bohong?" Lia tampak syok hingga menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Bukannya berbohong tapi, di akta kelahirannya salah cetak hingga ke ijazahnya. Karena sulit diubah maka mereka (orang tua angkat) membiarkannya saja. Karna hari Alora lahir adalah 29 Agustus nggak jauh beda".
"Setiap tanggal 23 Agustus dia merasa sesak dan sedih walau yang ia tau itu hari ulang tahunnya. Seandainya ingatannya kembali, apa yang akan terjadi?"
"Sekarang Alora di mana?" Tanya Lia lagi.
"1 jam yang lalu udah berangkat kerja" sahut sang tante.
"Tapi Lia udah ke Kafe Lora gak ada, udah Lia coba telpon juga tapi gak aktif nomornya".
...
Di sisi lain, Alora sedang berdiri di pinggir jalan dekat lampu merah lalu memaksakan senyumnya. Gadis itu berjalan pelan di zona menyebrang saat lampunya masih hijau. Jalan itu terlihat memang agak sepi karena hari libur.
Ada sebuah mobil yang melaju kencang, namun Alora tiba saja stuck dan kembali dalam guncangan itu. Ketakutan, tangis dan rasa sakit namun tubuhnya tidak mampu ia gerakkan.
Seketika gambaran ingatan masa kecilnya mucul acak dalam memorinya, layaknya scene yang tercampur.
Mobil itu berusaha menekan rem, namun tetap saja tidak dapat berhenti tepat sebelum menyentuh Alora. Mobil itu berakhir menabrak gadis itu. Walau tidak parah, namun kepala gadis itu terbentur di aspal.
Seorang pemuda keluar dari mobil itu untuk melihat korban tabrakan dan ingin bertanggung jawab walau tidak sepenuhnya salahnya.
"Alora?"
.
.
.
tbc