
Seorang pemuda tampan dengan setelan kaos di dalam kemeja yang tidak di kancing lengkap dengan celana jeans, Beni sedang duduk termenung di bangkunya di kelas sekaligus men-cosplay jadi mahasiswa rajin hari ini. Di sisi lain, Alora yang masih ada sedikit sisa rasa mengganjal di hatinya akibat perdebatan mereka hari itu, seolah masih ada yang belum terselesaikan dari sana.
Setelah dosen pengampu mata kuliah keluar, Alora mendekati meja Beni lalu duduk di sisinya. Mendapati Beni yang masih larut dalam lamunannya, Alora berinisiatif mengetuk meja tiga kali dengan tangannya seolah mengetuk pintu dan memang berhasil membuat pemuda itu menatapnya.
"Loe masih hidup?" Tanya Beni untuk mengejek gadis itu, namun dengan nada datar.
"Iya nih! Sayang banget kan?" Sahut Alora lalu hanya terdiam melirik Beni.
Di sisi lain, Beni sedang memasukkan buku dan laptop ke dalam tasnya, merasakan tatap itu terus mengarah padanya tanpa berkedip seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Apaan? Loe mau bilang apa?" Tanya Beni masih dengan nada datar.
"Guaa.. merasa ada yang kurang! Karna itu gua memilih hidup dan masalah gua terselesaikan!" Sahut Alora namun Beni hanya diam saja.
"Jadi? Loe mau pamer masalah loe selesai ke gua?" Pertanyaan dari Beni setelah beberapa saat.
"Bukan gitu, gua.. terlalu egois mementingkan luka gua sendiri tanpa pertimbangkan perasaan orang-orang di sekitar gua, kini gua sadar yang paling penting adalah kebahagian sendiri!" Jelas Alora yang sebenarnya ingin mengatakan, "maaf gua nggak percaya perkataan loe hari itu," namun malah terucap yang lain.
"Terus?" Tanya Beni lagi.
"Gua nggak akan minta maaf soal hari itu, walaupun perkataan loe bener. Karna loe juga bentak gua waktu itu bukannya kasih tau baik-baik!" Jelas Alora lagi lalu bangkit dati kursi itu hendak keluar.
"Terus, gimana cara loe bisa sadar? Apa yang membuat loe memilih terus lanjut?" Pertanyaan lain yang menghentikan langkah gadis itu.
"Karena gua teringat cinta dari orang tua gua, cinta dari ayah gua, cinta nenek gua, cinta dari tante, cinta dari Lia sahabat gua, cinta dari pacar gua dan cinta dari loe!"
Kalimat terakhir Alora lalu kembali melangkah untuk pergi dan lagi-lagi dihentikan dengan pertanyaan lain lagi.
"Karna ada cinta dari gua, boleh nggak gua peluk loe sekali aja?" Pertanyaan yang membuat Alora menoleh ke belakang dan kelas itu sudah kosong saat ini.
Karena tanpa jawaban dari gadis itu, Beni memperkuat pertanyaannya.
"Karna loe cinta pertama gua, biarkan gua peluk loe untuk kali terakhir, sebelum gua menyerah untuk ngerebut loe dari Andre!" Beni mendekati Alora perlahan.
Alora masih terdiam, gadis itu tampak memikirkan nya dengan matang.
"Gua cuma minta peluk bukan cium!" Beni sudah di depan gadis itu lalu membuka tangannya dengan segera melingkarkan tangannya di tubuh gadis itu tanpa menyentuhnya.
"Terima kasih udah jadikan gua cinta pertama loe! Dan maaf loe udah tau juga kenyataannya!" Kata Alora dalam peluk angin Beni itu.
Akhirnya Beni berdiri tegak kembali dengan kedua tangannya terjatuh seolah terlempar oleh kenyataan. Alora langsung pergi meninggalkan Beni menuju pacarnya yang sedang menunggu di depan pintu kelas itu. Beni hanya memasang seringai kecil lalu berkata.
"Selamat! Loe menang! (Andre)"
***
Beni yang kesepian selalu berakhir nongkrong sendirian di Kafe-nya. Fathia yang terus meliriknya sejak ua datang hingga saat ini Beni sudah satu jam duduk di sana dengan laptop mati yang dibuka di depannya seolah ia sedang sibuk padahal hanya menatap siluet bayangannya sendiri di layar laptop. Tentu saja pemuda itu sedang patah hati.
Mengingat ia juga ikut mencari Alora hari itu, namun takdir berkata lain ia tidak berhasil menemukan Alora dan beruntung Andre datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan gadis itu. Tapi rasanya usaha iti sia-sia mengingat perasaan hancur melukai perasaannya saat ini.
Fathia membawa minuman dingin ke arah Beni lalu meletakkan gelas itu di depan Beni. Gadis itu juga duduk di depan meja yang Beni duduki. Pemuda itu mengarahkan sorot matanya ke arah adiknya itu yang tampak canggung dan ingin mengatakan sesuatu.
"Apaan?" Suara Beni terdengar agak kasar.
"Eh...anu..itu..gua ..mau.." Fathia masih belum memantapkan dirinya untuk bertanya.
"Gua orangnya nggak sabaran celetan mau ngomong apa?" Beni terlihat sedang menahan diri untuk tidak marah.
"Ini tentang gua yang kenyataannya.. gua.." kalimat bertele-tele Fathia langsung di potong oleh Beni.
"Sini hp loe!" Perintah Beni yang membuat Fathia langsung menyerahkan hp nya.
Beni memasukkan nomor hpnya ke hp Fathia lalu memanggil nomornya sendiri. Kemudian ia mengambil nomor itu dan mengirimkan nomor Herman ke Fathia.
"Itu nomor bokap loe! Kalo ada pertanyaan hubungi langsung beliau! Jangan ganggu gua!" Ucap Beni lagi lalu merogoh tasnya mencari earphone untuk dipasangkan di telinganya agar tidak ada lagi yang mengganggunya.
"Ah satu lagi! Gua..." kalimat Fathia kembali dipotong Beni.
"Apaan lagi sih? Gua bilang jangan ganggu gua, maka jangan diganggu!" Beni yang sedang galau itu mensetting volume keras musik agar ia tenang lalu memejamkan matanya.
Caranya kali ini berhasil.membuat Fathia pergi. Gadis itu asik menatap layar hpnya yang tertera nomor ayah kandungnya dan ia masih ragu untuk bertanya kembali.
"Apa yang harus gua lakuin? Gua bingung kalo gini!" Dahi Fathia tampak mengkerut dan wajah yang terlihat sendu.
Di sisi lain ada Lia yang menyaksikan yang juga syok ketika mendengar kalimat Beni yang mengatakan Fathia adiknya.
"Jadi memang benar Fathia adiknya Beni? Tapi kenapa sikapnya Beni dingin banget ke adeknya? Oiya gua lupa, emang kapan Beni pernah bersikap hangat ke orang lain? Bahkan bokapnya sendiri aja di buat dingin!" Lia membatin sembari menggeleng kecil.
Gadis itu menghampiri meja yang diduduki Beni itu laku duduk di depan pemuda itu. Beni kembali membuka mata saat merasakan ada gesekan meja yang membuatnya membuka matanya karena mengira ada orang yang mendekatinya. Memang benar orang itu adalah Lia yang sedang menatapnya saat ini.
Mereka hanya saling tatap, tiba saja Lia bangkit dari kursi itu malah duduk di samping Beni saat ini dan kembali menatap pemuda di sisinya.
"Apaan?" Tanya Beni dengan pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya dengan tiga orang yang berbeda hari ini.
Lia terdiam masih menahan pertanyaannya.
"Tolonglah jangan buat gua bertanya untuk kedua kalinya!" Beni terlihat lelah meladeni orang-orang yang ingin curhat padanya, apalagi hari ini bukan waktu yang tepat mendengar curahan hati orang lain.
"Boleh nggak gua peluk loe sekali aja?" Pertanyaan Lia yang sukses membuat bola mata Beni melebar, seolah Lia meng-copy paste pertanyaan miliknya tadi untuk Alora.
"Loe kenapa lagi?" Tanya Beni, namun Lia langsung melingkarkan tangannya di tubuh Beni dan membiarkan kepalanya bersandar pada dada pemuda itu.
"Gua kangen sama kak Andi!" Sahut Lia.
"Terus kenapa loe peluk gua kalo kangen sama Andi? Salah sasaran nggak?" Tanya Beni lagi yang merasa aneh.
"Loe pernah bilang kan? 'Datang ke pelukan gua kalo Andi ninggalin Loe!' Ini gua datang karena masih gagal sama perasaan gua!" Sahut Lia menjelaskan dengan tepat.
"Apa udah saatnya gua nyerah sama kak Andi? Cinta sepihak gini nyakitin hati gua banget!" Kalimat Lia terdengar sendu dan masih memeluk Beni, walau pemuda itu hanya diam saja tanpa balasan.
Namun ada takdir yang menulis dengan giatnya, hari ini berakhir dengan ending yang agak rumit. Tanpa mereka sadari, Andi melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi di depan matanya.
"Lia? Gua juga cinta sama loe!"
.
.
.
Tbc
Note:
Maafkan typo ya guys! Kadang suka oleng dan salah ketik, kalo ada typo komen aja yaa, biar author perbaiki.
Happy Reading!! See you next part!