My Secret Alora

My Secret Alora
Lanjut Hidup


Di rumah Alora


Tampak Alora yang turun dari mobil tante Ina dengan dua tongkat untuk berjalan.


"Sini tongkatnya! Biar gua papah aja loe nya" ucap Andre yang juga ada di sana.


Gadis itu memberikan tongkatnya dan membiarkan tangannya merangkul Andre yang memapahnya namun dengan ekspresi datarnya.


Hari ini hari kepulangan Alora dari rumah sakit. Selain Andre, seorang pemuda lainnya juga ikut, yaitu si responsible Andi dan Lia juga yang tidak boleh tinggal. Mereka ikut membantu mengangkut barang bawaan Alora di rumah sakit, walau hanya sebuah tas dan bantal tidur saja.


"Lora nggak apa nih? Kan kalo di sini Lora sendirian, nanti tante anterin nenek ke sini deh biar Lora ada yang jagain" ucap Ina yang khawatir pada keponakannya.


"Nggak apa tante nenek lagi kurang sehat juga, di sini ada Lia juga, ya kan bestie?" Sahut Alora yang mengkode sahabatnya itu.


"Iya tante, Lia bakalan jagain Lora kok!" Sahut Lia dengan senyum cerahnya.


"Kalo gitu besok biar tante anterin ke sekolah, Lora tunggu tante ya jangan naik angkot"


"Masalah pergi sekolah aman tante, bisa bareng Andre sama kak Andi, kalo dari sana tante kan jauh" sahut Andre.


"Iya, biar bareng kami aja nanti sekolahnya biar aku yang anterin mereka, jadi tante nggak usah khawatir ya" sambung Andi.


Di sisi lain, ada seseorang dengan mata berbinar menatap Andi dan dalam batinnya berkata "ya ampun, baik banget orangnya, udah ganteng, bertanggung jawab lagi komplit pokoknya, tapi gimana cara dapetinnya??" Lia menjerit dalam hatinya sambil memasang wajah berharap dan terus menatap Andi yang tersenyum.


"Liatin gua dong sesekali" harapan kecil terbesit di hati Lia.


Tak lama, Lia pun ternotice "Lia jagain Lora yang bener ya!" Ucap Andi dengan senyuman menawan itu. Setelah itu Andi pamit untuk pergi kerja setelah cuti setengah hari.


"Ndre! Kenapa abang loe ganteng banget sih! Lemes nih kaki gua" cetos Lia setelah Andi pergi dan berhasil membuat semua orang di ruangan itu tersenyum bahkan tertawa.


"Loe suka sama abang gua?" Tanya Andre yang berniat jahil.


Tiba saja Lia menghela nafas berat yang membuat semua menatap serius.


"Apa mungkin ya? Pasti kak Andi udah punya pacar di kantornya. Gak bakalan lah dia tertarik sama anak SMA kayak gua!" Lia memasang raut pasrah.


"Loe belon juga coba udah nyerah aja nih ceritanya?" Tanya Andre.


"Lia jangan nyerah gitu dong!" Ucap tante Ina yang ikut menyemangati.


"Loe tenang aja! Abang gua kayaknya belom punya pacar kok! Dia nggak sempat pacaran, sibuk belajar makanya masih 21 tahun udah lulus aja, dia ngantor sambil lanjut s2" jelas Andre.


"Waah suami idaman banget!" Seru Lia denganwajah penuh harap itu.


Andre yang geli mendengar pujian untuk kakaknya, memasang raut seolah ingin muntah.


"Kalo menurut loe All, gua suami idaman nggak?" Tanya Andre yang ingin dipuji juga.


"Hmmm... menurut gua..." jeda panjang yang disengaja Alora itu membuat kesabaran Andre habis.


"Hmm apaan? Lama banget!" Tanya Andre.


Alora malah tidak menjawabnya dengan mengalihkan perhatiannya pada buku diary-nya yang tergeletak di lantai dan coba mengambilnya.


"Buku ini, halaman terakhirnya adalah hari itu? Gua harus beli buku lain deh, udah ful juga" kata Alora yang tanpa sadar sudah diperhatikan oleh Lia dan Andre.


Tante Ina pamit pulang karena hari sudah semakin gelap.


Namun Lia dan Andre tetap sangat penasaran kenapa dia sampai tertabrak pada hari itu.


"Lora! Jawab jujur ngapain loe di jalan itu hari itu?" Tanya Lia yang serius.


"Gua ingat di jalan itu terakhir kali gua ingat lihat almarhum bokap gua yang masih senyum tapi sudah berlumur darah" Alora tampak tenang bercerita di saat kedua pendengar terlihat syok.


"Jadi ingatan loe udah pulih?" Tanya Lia lagi.


"Sebagiannya aja, cuman itu yang gua ingat"


"Trus yang menyebabkan loe amnesia apa?" Tanya Andre.


"Gua nggak tau, tapi gua rasa ada satu orang selain nenek gua yang tau. Karena nenek nggak bakalan cerita meski udah ditanyain"


"Siapa orangnya?" Lia sudah sangat penasaran, namun seperti biasa Alora dengan kebiasaannya yang malas bercerita tidak menjawab.


***


Malamnya, gadis yang masih sakit itu duduk diatas kasur hanya menatap sebuah kartu nama di tangan kirinya dan hp di tangan kanannya. Ia masih memikirkan bagaimana cara bertemu Andi dan meminta pemuda itu untuk mencerikan semuanya. Namun akan terlalu rancu jika langsung memintanya begitu saja, selain itu akan canggung juga karena Andi tidak sedekat Andre.


***


Keesokan harinya, Alora dengan tongkatnya bersama Lia sudah menunggu di depan rumah. Mereka menunggu Andi menjemput mereka untuk ke sekolah.


Begitu mobil Andi tiba, kedua gadis itu naik dan mereka berangkat.


Setibanya di sekolah, Alora memang agak menarik pertatian. Banyak yang meliriknya dalam rasa penasaran. Andre yang juga ada di mobil itu turun paning akhir laku ia memegangi Alora yang berjalan pelan itu bersama Lia hingga sampai ke kelas.


Tentu saja sepasang mata yang tidak ingin melihat adegan di atas terjadi merasa panas. Iya benar, dia adalah Mila yang baru sampai dan turun dari mobil itu. Gadis itu  merasa kalah dari Alora yang menurutnya hanya bersandiwara agar menarik perhatian Andre.


"Lihat aja dan tunggu aja!" Batin Mila dengan segudang ide liciknya.


...


Sejak datang Alora belum bangun atau berpindah dari tempat duduknya. Gadis yang tidak suka repot atau lebih tepatnya mager itu tinggal sendirian di jam istirahat di kelas itu.


Di sisi lain, ini kesempatan bagi mereka yang mau deketin Andre dan kesempatan juga untuk balas Alora.


Andre yang ke kantin untuk beli makanan, sedang mengantri tertib seperti yang lain. Seperti biasa gadis manapun yang melihatnya serasa tidak ingin melepas pandangannya. Walau para cewe tidak sudah berkumpul seperti dulu dan hanya menjerit dalam hatinya, namun ada satu yang masih tidak menghiraukan hubungan Andre dengan Alora, gadis itu adalah Gebi.


Gebi selalu mengambil kesempatan untuk mendekati Andre. Kini entah rayuan apa yang ia pakai, ia tiba saja sudah berada di antrian belakang Andre.


"Eh kak Andre ya?" Cetos gadis sebahu Andre itu dari belakang hingga pemuda itu menoleh.


"Bukan!" Sahut Andre yang menyesal menoleh tadi. "Kenapa belenggu ini ada lagi? Mau hidup tenang aja sesusah itu woi" batin Andre.


"Bener kok! Mana ada yang bisa nandingin ke-gantengan kak Andre di sekolah ini? Haha" oceh Gebi.


"Kak boleh nggak minta nomor WA nya?" Tanya gadia itu lagi tapi Andre berusaha mengabaikannya dengan tidak menjawab.


Saat ini Andre membeli beberapa roti, lalu membayarnya. Saat ingin kembali ke kelas, tiba saja gebi dengan sengaja meletakkan kakinya agar terinjak oleh Andre.


"Aww aaahh sakit" desis gadis itu yang membuat banyak pandangan teralih padanya.


"Kak Andre! Tanggung jawab dong!" Panggil Gebi saat melihat Andre tidak peduli dan hanya berjalan pada tujuannya.


Andre menoleh dan dengan santai menjawab "loe sendiri yang naruh kaki loe di situ, kalo nggak mau di injak jaga dong! (Harga diri loe!)" Lalu kembali ke kelas.


...


Di sisi lain, Alora yang hanya men-scroll hp nya melihat-lihat contoh soal ujian yang dikirim Lia. Terdengar suara gesekan sepatu menyentuh lantai lalu menarik kursi di sisi Alora dan duduk.


"Andre loe beli..." kata Alora terhenti, mendapati bahwa bukannya Andre tapi Beni yang sudah duduk di sampingnya.


Pemuda itu meletakkan kotak bekal di depan Alora lalu mengambil hp di tangan Alora dan mematikannya.


"Ini makanan sehat buat orang sakit! Bokap gua nitip, makan!" ucap Beni.


Alora melirik Beni sebentar lalu bertanya "ini ada racunnya?"


"Hobi loe buat orang emosi memang huh?" Sahut Beni yang cepat tersinggung.


Alora merebut hp nya kembali lalu mengirimkan contoh soal untuk Beni.


"Itu udah gua kirimin contoh soal dan pembahasannya! Pelajarin! Berkas pendaftaran udah loe kirimin kan?"


"Gua maunya belajar bareng!" Sahut Beni yang agak memaksa.


"Loe nggak lihat kondisi gua? Jalan aja susah!"


"Kalo gitu biar gua gendong!"


Tanpa mereka sadari Andre yang membawa rotinya untuk Alora sudah beberapa menit yang lalu berdiri di luar pintu menyaksikan Beni mendekati Alora. Tatapannya mulai surut, pemuda ini masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa Alora harus segitunya nurutin perkataan Beni?" Batin Beni.


.


.


.


.


tbc