
Hari paling menyedihkan baginya, gadis yang duduk di kursi tepi jendela bus yang melaju itu memejamkan matanya, fakta bahwa "mereka bukan orang tua kandungnya" terus terngiang dalam kepalanya.
"Kenapa mereka berbohong? Apa yang harus kulakukan? Kenapa rasanya sangat sesak? Kenapa semua orang tidak menghargaiku? Apa aku seburuk itu?" Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan.
Turun dari bus, gadis berambut panjang yang masih dengan seragam sekolah di balut hodie tipis itu duduk di bangku halte dekat rumahnya. Sampai saat ini Alora masih mampu menahan tangisnya dengan cairan yang membendung di kedua matanya, berusaha berkedip berkali-kali agar cairan itu tidak menyentuh pipinya.
Gadis itu enggan pulang ke rumah karena kesendirian-nya akan sangat terasa. Namun ia harus pulang karena hari sudah gelap.
Di sisi lain, Lia sedang bercermin di kamarnya, menilik setiap sudut berharga wajahnya.
Masuk chat dari nama kontak psycoBeni
'Temenin sahabat loe!'
Lia hanya diam terpaku menatap layar a-phone miliknya, lalu tiba saja berlari keluar kamar.
"Maah nginep di rumah Loraa yaa!" Ucapnya saat melihat ibunya di dapur sambil berlari keluar rumah.
"Kenapa? Alora kenapa?" Tanya ibunya Lia namun anaknya sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Sesampainya di rumah Alora, gadis itu buru-buru merogoh sakunya mengambil kunci lalu membuka pintu dan masuk. Mendapati ruang tamu kosong Lia langsung menuju kamar kecil milik Alora.
Terdengar isakan tangis dari bawah selimut. Bola mata Lia ikut berkaca.
"Lora!" Panggil Lia pelan membuat sahabatnya itu membuka sebagian selimut yang menutupi seluruh tubuhnya menoleh ke arahnya.
Tatap sendu di balut derai tangis sambil bangkit duduk membuat Lia langsung memeluk Alora.
"Keluarin aja semua, jangan di tahan, nangis aja agar loe lega!" Kata Lia sambil memeluk gadis itu.
"Gua ada di sini buat loe kok!" Sambung Lia sembari menepuk pelan punggung Alora.
Pecah tangis Alora malam itu.
Keesokan paginya, tampak Alora sedang duduk di teras rumahnya sembari menatap langit biru cerah yang sama sekali tidak terasa saat mendung batinnya masih belum reda.
Lia yang baru bangun ikut keluar, saat menatap punggung Alora yang terlihat kesepian itu ia mengambil langkah lalu duduk di dekat gadis yang ia panggil bestie itu.
"Lora! Gua jatuh cinta!" Ucap Lia setelah beberapa saat duduk. Pernyataan Lia yang tiba-tiba membuat Alora menoleh dan bertanya
"Jatuh cinta?"
"Iya, gua jatuh cinta sama loe!" Sahut Lia sembari menunjukkan lengkungan bibir indah dari wajahnya.
"Apaan sih? Jangan ngadi-ngadi, aneh loe!" Alora merasa geli mendengar jawaban Lia.
"Loe tau nggak kalo loe itu keren? Loe rajin jalanin hidup loe dan nggak peduli sama kata orang, loe cuman jalanin kata tuhan. Nggak semua orang mampu bertahan kayak loe!"
Alora hanya terdiam lalu mengalihkan pandangannya.
"Lora! Gua akan tetap di sisi loe, jadi tetap semangat ya! Gua yakin semua akan baik-baik aja!" Sambung gadis mungil di sisi Alora sembari merangkul bahu Alora.
Alora membalas dengan anggukan lalu tersenyum ke arah sahabatnya itu.
"Gitu dong senyum! Baru bener Lora gua xixi" seru Lia sembari tertawa yang membuat Alora ikut tertawa.
"Loe kerja gak hari ini? Jalan yok!" Tanya Lia.
"Gua harus masuk kerja, walaupun gua gak mau, soalnya udah dua hari gua cuti" Sahut Alora lesu.
"Loe mau gua bantu ngomong sama Beni?"
"Ngomong apa?"
"Agar loe bisa cuti sehari lagi!"
"Jangan, itu anak lagi marah sama gua soalnya kemaren gua nolak bantuin dia"
"Yaudah kalo gitu".
Setelah ngobrol sekitar 30 menit, Lia mendapati seseorang yang familiar.
"Lora, lihat deh itu yang lewat tadi Andre kan?" Lia tampak sangat penasaran.
"Iya!"
"Tapi cewe di belakang motornya siapa? Loe masih belum tau cewe itu siapa?"
"Iya!" Sahut Alora.
"Loe gimana sih, kasus begini juga bisa merusak nama baik loe, pokoknya loe harus cari tau dan lapor sama gua!" Jiwa ingin tau Lia sangat meronta sekaligus ia khawatir jika rumor aneh akan tersebar membuat Alora bersedih lagi.
***
Pemuda tampan berkedok pacar yang duduk di sisi gadis yang duduk termenung itu sedang memiringkan kepalanya menatap wajah gadis yang tertutupi rambut panjang terurai itu.
"Alora?" Panggil Andre dengan mata berbinar.
"Apa gua mati aja?" Gumam Alora tanpa sadar.
Tatap Andre berubah dan senyum di wajahnya hilang.
"Alora loe ada masalah?" Tanya Andre tampak khawatir.
"Huh? Apaan sih?" Alora akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Ke kantin yok!" Ajak Andre.
"Yaudah hayuk!" Alora melempar senyum manisnya lalu bangkit dari kursinya.
Di kantin, tampak Alora lahap memakan makanan miliknya sedangkan Andre hanya terdiam larut dalam pikirannya.
Bagaimana bisa seseorang yang baru saja mengatakan "Apa gua mati aja?" Semenit kemudian tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa. Andre menatap gadis di depannya serius. Gadis itu makan dengan lahap seolah dirinya baik-baik saja.
"Loe kenapa liatin gua gitu amat? Ada yang salah di muka gua?" Tanya Alora sembari mengunyah makanan di mulutnya.
"Nggak kok!" Pemuda itu mengalihkan pandangannya lalu memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
"Jangan sering-sering natap gua gitu, nanti loe jatuh cinta!" Canda Alora lalu tersenyum manis menunjukkan sederet gigi rapi dan lesung pipi yang hampir tidak diketahui bahwa ia ada.
Andre tersedak makanan yang ia makan mendengar perkataan Alora, tenggorokannya perih dan gatal di saat bersamaan.
"Loe nggak apa? Nih minum" Alora tampak khawatir sembari memberi minuman sebagai pertolongan pertama.
"Makanya makan pelan-pelan, gimana udah enakan?"
"Iya" Sahut Andre sambil menatap Alora.
"Loe banyak senyum hari ini, ini beneran Alora kan?" Andre tampak bingung.
"Iyalah, maksud loe apa? Gua Alora buatan gitu?"
"Soalnya aneh aja gitu, loe yang gak pernah senyum tiba-tiba ramah gitu! Loe gak ada masalah kan?"
"Menutupi luka dengan tawa bukanlah penyembuhan, tapi pelarian. Gua baik-baik aja! Jadi berhenti nanya gua ini itu, karna loe juga belum bilang ke gua apa yang loe tutupin" jelas Alora.
"Maksud loe apa? Emang gua nutupin apa?" Tanya Andre.
"Pagi kemaren loe kemana sama siapa? Loe boleh ngelakuin apa aja karna itu hidup loe, tapi jangan sampai kehidupan gua juga terseret, gua udah terlalu capek sama keadaan gua sendiri, jadi mari saling menjaga ya!" Kata Alora dan kembali tersenyum.
Andre masih khawatir dengan sikap dan jawaban tidak terduga pacar imitasinya itu. Walau hanya imitasi, ketika hal itu semakin bermakna maka semua hal tidak bisa lagi sama seperti dulu.
...
Setelah beberapa saat, Mila datang dengan seragam sekolah ketat ia langsung duduk di sisi Andre dan memeluk lengan Andre di depan Alora.
Keempat bola mata yang saling bertemu itu menatap tajam selain Andre yang berusaha menarik tangannya yang di peluk erat Mila.
"Tujuan loe apa? Lepasin Andre! Loe gak lihat dia risih di pegang loe?" Ucap Alora mencoba bicara baik-baik.
"Andre milik gua! Loe aja yang gak tau..." kata Mila terpotong saat Alora melontarkan katanya
"Gua gak mau tau! Saat ini gua pacarnya. Ndre loe milih siapa?" Tanya Alora tegas.
Andre yang masih berusaha melepas belenggu berbentuk manusia itu menjawab "pasti gua milih Alora lah! Lepasin gua!"
"Loe nggak denger? Lepas!" Tegas Alora pada Mila.
Namun gadis aneh itu masih saja pada pendiriannya membuat Alora bangkit dari duduknya.
"Selain lintah, julukan gua psyco tau! Karena semua yang ada di sini akan sadar yang lintah itu loe! Lihat aja loe nempelin pacar orang gak tau malu" kata Alora sukses membuat Mila melepas tangan Andre karena ikut bangkit.
Alora menuju sisi Andre, menggenggam tangan pemuda tampan itu lalu pergi dari sana saat semua pandangan berpusat pada mereka.
Mila yang sangat kesal hanya bisa diam saja karena rasa malu.
Di sisi lain Beni si psyco sesungguhnya menyaksikan moment itu dengan wajah datarnya, namun tiba saja tatap pemuda itu berubah, sebelah ujung bibirnya naik tersenyum sinis, sepertinya jiwa psyco-nya menginginkan korban.
...