My Secret Alora

My Secret Alora
L for Lover


Rasa yang tumbuh tanpa disadari akan terus mengakar bahkan tanpa di siram akan semakin subur, hingga saat menyadarinya, akan sangat sakit ketika harus di cabut.


~nrtl00~


.


.


.


"Kalo Alora lagi di Kafe dia pacar gua!" Kata Beni sembari menatap tajam Andre.


Mulut Alora terbuka lebar dengan alis yang di tekuk, rasanya mau hidup tenang sesulit itu.


"Apaan lagi sekarang? Loe nggak bosan lihat gua menderita?" Alora angkat suara karena sangat marah.


"Ikut gua loe!" Giliran Alora yang menarik tangan Beni hingga ke belakang dapur saat ia dapati tempat yang agak sepi.


Andre hanya menatap khawatir lalu tampak berpikir.


"Mau loe apa?" Tanya Alora masih menahan amarah saat sampai di belakang dapur Kafe.


"Apaan? Loe takut pacar loe marah? Ahahahahah" Beni tertawa aneh.


Alora menatap serius dan sangat kesal.


Saat menyadari betapa serius diamnya Alora, pemuda itu berkata "Bilang ke bokap gua! Peringkat gua udah naik sesuai permintaan dan minta kembaliin fasilitas gua"


"Kenapa? Loe gak mau? Loe mau nolak gua lagi kayak hari itu?" Tambah pemuda tinggi itu saat melihat gadis itu masih diam.


"Okeh! Gua akan nelpon bokap loe sekarang juga!"


Alora membuka ponselnya lalu menekan beberapa sistem dan meletakkan ponsel di telinganya.


"Halo om, Alora cuma mau menginfokan kalo peringkat Beni udah naik dan dia minta fasilitasnya kembali" gadis itu langsung mematikan ponselnya begitu selesai.


"Udah kan? Loe puas? Cuman buat nyuruh gua bilang gitu aja loe nambahin masalah dalam hidup gua, thanks banget!" Ucap Alora lalu pergi dari tempat itu.


Sebenarnya Alora tidak menelepon ayahnya Beni namun hanya berpura-pura agar lepas dari si psyco, karena Alora sudah memberitahukan pada pria yang ia panggil om Herman itu beberapa hari yang lalu usai pengumuman hasil midtest saat Beni mencoba meminta bantuan padanya saat ia menolak membantu Beni hari itu.


Alora kembali ke meja Andre, namun pemuda itu sudah tidak ada. Gadis manis itu inisiatif keluar dan mendapati Andre di tempat parkir.


"Andre! Gua nggak..." kata Alora terpotong.


"Gak apa kok, lagian hubungan kita cuman.. ya loe tau lah!" Sahut Andre dengan wajah datar.


"Tapi gua setia kok! Gua gak ada apa-apa sama Beni, loe tau dia psyco aneh"


"All, kalo memang loe ada apa-apa sama Beni juga gak apa kok! Ikutin aja kata hati loe ya" ucap Andre pelan.


Bola mata Alora tidak mampu berbohong, cairan bening entah datang dari mana sudah tampak menyapa. Namun gadis itu hanya diam saja melihat Andre menaiki motornya lalu pulang.


"Kenapa rasanya sakit ya? Kok kayak berasa gua dicampakkan? Duh gua kenapa sih?" Batin Alora mulai bekerja sembari  mengelus pelan dadanya.


Ponsel Alora bergetar menerima pesan yang isinya bahwa transfer-an upah jadi pacar imitasi sudah di bayar.


***


Keesokan harinya ketika pulang sekolah, Alora berasa diculik saat tangannya di tarik paksa ke belakang sekolah. Biasanya kerjaan Beni namun kali ini, Mila dan kedua teman geng nya sedang memaki Alora. Masih dengan alasan yang sama


"Jauhin Andre!"


Plaks! Terdengar suara tamparan, Alora kesakitan hingga menyentuh pipinya dengan kepala tertunduk. Mila tersenyum sinis lalu menegakkan kepala Alora dengan jari telunjuk yang di letakkan di bawah dagu Alora.


"Loe masih belum sadar? Loe bawa pengaruh buruk buat Andre tau!" Kata Mila membentak.


"Terus apa? Loe bakalan pukul gua? Atau bunuh gua? Silahkan! Loe bisa lakuin apapun yang loe mau" kata Alora yang seisi kepalanya sudah menyerah bertahan.


"Luka fisik itu nggak seberapa dengan luka batin yang udah nggak terhitung jumlahnya. Silakahkan lampiaskan kemarahan loe!" Kalimat Alora di akhiri dengan senyuman lalu tertawa.


Mila melepas Alora "cewe aneh!" Lalu pergi bersama temannya, meninggalkan Alora yang masih tertawa namun dengan mata berkaca.


Di tengah semua itu tidak ada yang menyadari bahwa Beni menyaksikan kejadian tersebut dan hanya pergi saat selesai menonton.


Setelah dari kamar mandi mencuci wajah yang sebelah pipinya merah, Alora menarik nafas panjang lalu menghela berat dan mencoba memakai senyum palsu lalu berangkat ke tempatnya bekerja.


...


Ketika pulang kerja, seperti biasa ia harus berjalan kaki sekitar 10 menit menuju rumahnya setelah turun di halte bus sepi itu.


"Boleh nggak gua ngeluh?" Ia menatap poster seorang selebriti cantik yang tertempel di tembok halte.


"Hari ini adalah hari kesekian gua merasa nggak berguna, kapan semua akan baik-baik aja? Kayaknya gua gak akan bisa lagi bilang kalo gua nggak apa-apa! Gua harus gimana dong?" Alora masih menatap poster itu lalu menghela berat.


Earphone yang dikeluarkan dari tas sekolah lalu memasang di kedua telinganya. Musik ber-volume keras ia hidupkan lalu melangkah pulang. Dengan raut sendu ia hanya sendirian di jalan itu tanpa memikirkan betapa bahayanya jalan sepi tanpa bisa mendengar suara apapun karena musik keras yang ia putar.


Seorang pemuda dengan jaket hitam bertudung keluar dari belakang halte saat Alora melangkah pulang dan terus menatap punggung gadis itu sambil mengikutinya dari jauh.


...


Epilog


Ketika pulang sekolah setelah Mila dan temannya melabrak Alora, langkah mereka di hentikan seorang pemuda putih, tinggi,  dengan raut wajah datar tapi berwibawa namun psyco, siapa lagi kalau buka  Beni.


"Kalian habis ngapain?" Tanya Beni.


"Belajar! Dan sekarang mau pulang, emang kenapa?" Jawab Mila.


"Ini yang kalian pelajari?" Beni menunjukkan video mereka melecehkan Alora yang membuat ketiga gadis itu terkejut parah dan panik.


"Hapus videonya cepetan! Atau nggak gua akan..." kata Mila terhenti.


"Akan apa? Loe pikir gua siapa? Dengerin baik-baik, jangan pernah ganggu Alora lagi paham?" Beni meninggikan suaranya.


"Cuman gua yang boleh gangguin dia, jadi kalau kalian pengen hidup kalian aman, turutin kata-kata gua!" Tambah pemuda itu menunjukkan senyum psyconya.


...