
Hari ini hujan, sepertinya aku galau lagi tiap hujan turun, kenapa ya?
-Bomy-
.
.
.
Alora duduk di depan kelas, di atas kursi yang sengaja dia bawa ke sana untuk menatap langit mendung. Kaki nya yang belum bisa ditekuk membuatnya harus menyediakan kursi karena tidak bisa lesehan di lantai.
Perlahan rintik hujan turun, membuat para siswa berlarian untuk mencari tempat teduh pagi itu. Gadis itu datang cepat pagi ini karena semalam tante Ina menginap bersamanya. Jadi tante Ina yang mengantarkan Alora sekolah pagi ini.
Beberapa siswi lain yang agak kebasahan percikan hujan juga ikut bergabung bersama Alora di depan kelas itu.
"Kaki loe masih nggak ada perkembangan untuk sembuh Ra?" Tanya Nia yang baru bergabung di sana.
"Udah lumayan nggak sakit sih, cuman kata dokter nggak boleh terlalu banyak penekanan dulu" sahut Alora.
Tampak dari kelasnya, Mila melirik Alora yang duduk sambil mengobrol dengan siswi lain.
"Alora? Apa alasannya ya? Dia nggak secantik itu, dibanding dengan Lia lebih cantik Lia, tapi kenapa gadis tempramen itu?" Batin Mila meragukan apa yang ia pikirkan.
"Kenapa dia nggak takut apapun? Dan kenapa dia minta dibunuh? Tu cewe aneh banget!" Mila masih membantin lalu berjalan mendekati Alora. Namun ia menghentikan langkahnya saat melihat Andre dengan payung nya baru sampai di kelas itu.
Melihat payung yang dipegang Andre, Alora bangkit dari kursi itu dan berkata
"Gua pinjem payung loe ya!"
"Loe mau kemana?" Tanya Andre.
"Gua mau ke kantin!" Sahut Alora, namun di cegah Andre.
Pemuda itu berlari ke dalam kelas untuk meletakkan ranselnya lalu keluar dan membuka kembali payungnya yang tadi ditutup saat Alora memintanya.
"Yok biar gua anterin!" Ucap pemuda itu yang membuat para siswi yang menonton senyam-senyum dan beberapa menutup mulut mereka.
"Eh tapi, kalo loe pakek tongkat bahaya, ada lantai licin loe bakalan kepleset.." Andre menekuk lutut lalu memberikan punggungnya di depan Alora.
"Sini naik biar gua gendong aja!" Kata Andre yang berhasil membuat iri para gadis itu.
"So sweet banget nggak sih?" Ucap Nia sambil tersenyum iri menatapnya seperti gadis-gadis lainnya.
"Nggak ah! Nggak apa gua jalan aja!" Alora yang merasa nggak enak.
"Naik atau gua gendong dari depan?" Ancam Andre yang berhasil membuat gadis itu naik.
Dengan posisi, Alora di punggung Andre memegangi payung agar mereka tidak basah. Meski mereka hanya diam saja, namun siapapun yang melihat mereka pasti mengelengkan kepala karena tidak percaya.
Pemuda yang tampannya seakan baru keluar dari buku komik itu menggendong seorang gadis biasa yang kakinya masih menggunakan gips. Berita demikian menyebar dan menggemparkan satu sekolah. Bagaimana tidak, hal ini juga menunjukkan ketulusan Andre sebagai sang pacar.
Akhirnya mereka sampai di kantin, karena meninggalkan tongkatnya di kelas tadi, otomatis Alora hanya bisa duduk dan Andre yang memesan nasi.
"Loe laper banget?" Tanya Andre yang baru saja kembali setelah memesan.
"Iya, semalam gua cuman makan mie instan.." kata Alora terhenti saat ia menatap wajah Andre yang memasang ekspresi datar itu.
"Pasti mie instan yang loe beli kemaren itu ya? Kan udah gua bilangin Mie instan itu nggak sehat!" Ceramah Andre sembari memasang wajah cemberut yang tampan.
Alora tersenyum kecil, lalu melanjutkan katanya.
"Iya gua juga tau! Tapi kan kalo beli beras duit gua nggak cukup buat sebulan, untung semalam ada tante Ina yang bawain gua makanan"
"Berarti loe makan dong? Kenapa bilang cuman makan mie?"
"Gua memang makan! Kan gua belom selesai ngomong tadi!"
"Iya deh"
"Andre! Loe sayang nggak sama gua?" pertanyaan random Alora yang berhasil membuat Andre tercengang.
"Kok loe tiba-tiba nanya gitu?"
"Nggak apa sih! Gua cuman nanya aja!"
Alora si gadis tidak peka dan bahkan tidak mengerti perasaannya sendiri.
...
Jam pelajaran berlalu begitu saja tanpa ada guru yang masuk. Hujan memang menghambat kegiatan apapun, namun dibalik semua itu ada siswa-siswi yang menikmati masa SMA mereka yang hampir berakhir. Dengan saling mengobrol mereka dapat memahami satu sama lain.
Masa di mana seakan mereka tidak ingin cepat berakhir. Menikmati fase akhir masa remaja sebelum kerasnya kenyataan yang akan menjadi tantangan baru dalam menghadapi fase awal kedewasaan.
Jam istirahat, keempat remaja yang telah berjanji belajar kelompok itu berkumpul di salah satu meja perpustakaan. Layaknya siswa pada umumnya, mereka terlihat baik-baik saja jika dilihat dari jauh. Namun jika dilihat dari dekat, mereka hanyalah remaja yang tumbuh dari masalah yang harus mereka pecahkan masing-masing. Berbeda cara penyelesaian, ada yang mudah menerima, ada yang sekuat tenaga menyanggahi kenyataan, dan ada yang hanya mencoba bertahan.
***
Ketika pulang sekolah, Lia tampak lebih pucat dari biasanya.
"Loe nggak apa kan?" Tanya Alora setelah membereskan buku-bukunya.
"Iya gua nggak apa!" Sahut Lia lalu tersenyum.
"Nggak usah les hari ini ya! Biar gua yang minta ijin sama nyokap loe" ucap Alora yang mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Gua baik-baik aja kok! Loe nggak usaha khawatir!" Lia bangkit dari kursinya lalu membantu Alora berdiri dan mengambil tongkat gadis itu.
"Ayo!" Keduanya berjalan pelan menuju gerbang sekolah.
Alora kerap kali melirik gadis yang berjalan di sisinya itu. Karena mereka berjalan sangat pelan sehingga tertinggal sangat belakang di sekolah yang mulai sepi itu.
Dubrak!!
Lia jatuh terkapar di jalan keluar itu dan di bawah matahari yang terik. Alora melepas tongkatnya lalu menekuk kakinya yang sakit agar dapat menyentuh Lia.
"Lia! Bangun! Loe kenapa?" Alora panik lalu berteriak "tolong! Tolong!".
Namun karena sekolah sudah sepi, tidak ada yang mendengar. Tanpa sengaja Alora mendapati Beni yang berjalan santai di belakang mereka sembari memakai earphone di kedua telinganya.
"BENIIIIIIIII! TOLONGIN KITAAAA!" Alora meng-setting volume terbesar hingga berhasil menarik perhatian Beni yang langsung mendekat.
"Tolongin Lia! Cepetan!" Alora panik dengan bola mata yang sudah berkaca.
"Dia kenapa?" Tanya Beni yang mencoba memeriksa Lia.
"Cepetan bawa ke rumah sakit! Dari tadi dia pucat!" Sahut Alora yang hampir telihat seperti menangis.
Beni langsung menggendong Lia di kedua tangannya sambil membawa lari menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
Alora juga mencoba bangkit sendiri setelah meraih tongkatnya yang jatuh agak jauh darinya. Dengan tongkat yang digerakkan dengan cepat, kakinya juga dipaksa jalan secepat mungkin walau sudah jauh tertinggal dari langkah besar Beni.
Srraaak!!
Alora menabrak seseorang hingga tongkatnya terlepas lagi dari tangannya. Keseimbangan kakinya juga terancam, seolah berputar layaknya penari balet dengan sebelah kaki, akhirnya ia meraih tangan seseorang dan berakhir di pelukan pemuda itu.
Keempat mata itu saling menatap sebegitu dekat. Pemuda itu adalah Andre yang baru keluar dari toilet.
"Loe kenapa buru-buru gitu? Kasihani kaki loe!" Ucap Andre sembari membantu Alora berdiri tegak lalu mengambilkan tongkat gadis itu.
"Lia pingsan, kita harus cepat nyusul!"
"Sekarang dia di mana?"
"Di bawa Beni ke mobilnya! Ayo cepat!" Alora mencoba melangkah sebesar mungkin agar cepat sampai, namun dihentikan Andre.
"Yaudah naik lagi ke punggung gua biar cepet!" Ucap Andre sembari berlutut memberika punggungnya lagi untuk Alora.
Gadis itu langsung menerima tawaran itu, dan memegangi tongkatnya sendiri agar tidak terlalu menyusahkan Andre.
Lia kenapa ya?
.
.
.
Tbc