My Secret Alora

My Secret Alora
D-Day


Seorang pemuda sedang berkeliling di sebuah mall, ia tampak serius mencari sesuatu. Namun tak heran keberadaannya juga memikat banyak orang dan terus berjalan sendiri walau sudah menggunakan topi. Sampai ia menemukan seseorang yang ia kenal langsung di seret bersamanya.


"Ali! Temenin gua bentar yok!" Ucap pemuda itu pada remaja SMA itu.


"Kenapa sih kak Andre? Gua ke sini bareng temen-temen gua!" Ali melirik beberapa temannya yang juga menatapnya.


"Itu mereka kak!" Sambung Ali lalu melirik Andre.


"Loe temenin gua bentar, nanti gua beliin hadiah deh! Guys gua pinjam dia bentar ya!" Ucap Andre.


"Oke kak! Aman!" Sahut salah satu teman Ali, lalu mereka pergi.


"Oke, kakak loe suka barang apa sih?" Tanya Andre.


"Gua nggak tau! Kayaknya dia..." tiba-tiba Ali menyadari sesuatu bahwa tidak ada satupun yang ia tau tentang kakaknya.


"Kalo jam dia suka nggak? Kalo gua beliin kalung dia pasti nolak karna kemahalan, kakak loe itu terlalu menghargai uang!" Lanjut Andre.


"Iya!" Sahut Ali seadanya.


"Loe tau kenapa dia begitu? Karna dia udah belajar mencari uang sejak kecil dan tau bagaimana susahnya bahkan untuk dapat Rp.1! Dia beda dari kita yang hanya tinggal meminta dan menerima."


Ali tampak sedikit termenung,


"Kalo gitu beliin dia hoodie aja! Gua lihat dia sering banget pakek hoodie dan training!" Ucap Ali.


"Ide bagus tuh! Ayo!" Andre bergegas memilih hoodie dan tentu saja di bantu Ali.


Setelah selesai memilih dan membayar saatnya Andre mentraktir Ali.


"Btw kenapa loe beli hadiah buat Alora sendirian gini? Kenapa loe nggak ajak dia aja langsung?" Tanya Ali.


"Buat hadiah ultahnya, loe tau nggak? Tanggal ultah Lora yang sebenarnya itu adalah besok bertepatan dengan hari kematian kedua orang tuanya, apa menurut loe dia mau bersenang-senang beli hadiah?" Jelas Andre.


Ali tampak syok mendengar pernyataan itu.


"Oya loe mau beli apa? Gua denger loe suka jaket, Alora selalu bilang pengen beliin loe jaket saat dia punya uang! Loe pilih aja mau yang mana?" Andre juga ikut melihat-lihat untuk menambah koleksinya.


Di sisi lain, Ali yang juga melihat-lihat jaket, ia tampak tidak fokus karena kepikiran kakaknya.


"Kalo gitu? Dia pengen bunuh diri di hari ulang tahunnya dan bertepatan kematian orang tuanya?" Batin Ali.


Andre mendekat ke arah Ali lalu bertanya lagi,


"Gua juga ulang tahun besok, menurut loe Alora siapin apa ya buat gua? Nggak sabar deh!" Kalimat Andre kembali memukul Ali dengan rasa bersalahnya.


"Hadiah?" Tanya Ali lalu ia membatin, "kesedihan tak berujung!"


***


D-Day


Di tengah larutnya malam, ada seorang gadis yang meringkuk sendirian di balik selimutnya, ia kedinginan namun tubuhnya hangat, ia sangat mengantuk tapi tidak bisa tertidur, begitu banyak suara riuh memenuhi kepalanya.


"Alora sadar! Sadar!!" (Suara Beni).


"Jangan tinggalin papah Lora!" (Suara Ayah).


"Lora berhenti nyalahin diri kamu! Kamu nggak salah!" (Suara nenek).


"Coba aja loe mati waktu itu! Kita nggak perlu lagi hidup kayak gini!" (Suara Ali).


"Jangan tinggalin aku ya sayang!" (Suara Andre).


"Lia nggak bisa hidup tanpa Loraa!" (Suara Lia)


"Loe pembawa masalah!" (Suara Dian).


"Lora hiduplah bahagia ya!" (Suara nenek).


"Lora stop!"


Suara yang terdengar bercampuran di kepalanya tanpa henti membuatnya meringkuk dalam tangis. Bayangan kesedihan kembali tergambar, ingatannya ketika kehilangan orang tuanya kembali terlukis jelas. Semua buyar seolah ia merasa dirinya adalah sebuah kesalahan karena terlahir.


"Aku kacau! Apa sebutannya? Emosiku berantakan! Apa aku benar-benar punya luka? Padahal aku sudah diberi kehidupan, dengan demikian semua orang berpikir aku akan baik-baik aja! Pada kenyataannya kehidupan terlalu sesak bahkan untuk bernafas. Aku lelah bertanya kenapa, tapi satu yang ku tau..."


"Walau keadaannya menjadi lebih baik, tapi lukaku tergores terlalu dalam dan masalahnya... luka itu tidak pernah terobati dan kadang masih terasa nyeri..."


"Alora belum sembuh maah! Bukan! Alora nggak bisa sembuh semudah itu!"


Bantal yang terus menghisap cairan asin membuatnya menjadi lembab, begitupun selimut yang mulai kehilangan fungsinya di cuaca yang semakin dingin itu. Perlahan mata sembab itu layuh dan mulai tertutup, namun bisikan ghaib masih meraja lela dalam ubun-ubun nya. Rasa kantuk itu akhirnya menang, gadis itu tertidur walau terdengar isak tangisnya.


...


Pagi menyapa dengan sempurna, bagaimana semesta mendukung kisah sedih ini dengan menurunkan hujan di hari banyak air mata akan berjatuhan. Kedua kelopak mata yang baru terlelap selama tiga jam itu kembali terbuka. Rintik hujan tampak dari jendela yang tirainya berterbangan di tiup angin.


Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya, ia menuju meja belajar di dekat jendela lalu membuka tirai dan duduk di bangkunya. Ia mendongak menatap langit yang di selimuti awan hitam, namun air tanpa dasar itu terus berjatuhan membuatnya membatin.


"Dari mana jatuhnya air ini? Kenapa tidak terlihat?" Gadis berambut berantakan itu menaikkan kedua kakinya ke atas kursi lalu memeluk lututnya sambil menatap lurus ke luar jendela di mana percikan air hujan yang membuat bumi basah tanpa bersalah.


"Langit tidak menunjukkan asal air (kesedihan) itu datang, tapi tetap mencurahkan sesuka hatinya, dan kembali terlihat cerah saat awan hitam itu pergi!"


"Namun suasana hati manusia bekerja sebaliknya, walau tak seorangpun tau sumbernya rasa sakit itu, namun ia akan tetap kesakitan walau kembali tertutupi saat topeng itu terpasang kembali."


"Rain! Take me home!"


...


Walau semesta masih menghadiahkan rintik hujan yang tak kunjung reda, namun Alora sudah bersiap pergi dengan payung di tangannya.


"Lora mau ke mana? Ini masih lagi dan masih hujan juga!" Ucap Ayah lalu mendekati anak gadisnya itu.


Tak lama Ali juga lewat sana dan hanya melirik sebentar kakaknya.


"Lora mau pergi kuliah pah! Kan hari ini nggak libur!" Sahut Alora lalu memakai sepatu sneakers-nya. Gadis itu bahkan memaksa senyum yang bahkan batinnya menolaknya melakukan itu.


"Ayah antar ya!" Ucap Hilam lalu bergerak hendak mengambil jaketnya yang tergantung di kamarnya.


"Pah jangan! Lora pengen jalan sendirian!" Alora menghentikan ayahnya dengan meraih tangan pria itu lalu memeluk erat ayahnya.


"Pah! Alora janji akan kembali pulang! Jangan khawatir ya!" Tambah gadis itu lalu melepas peluk itu.


Alora membuka payungnya yang lebar itu, lalu berjalan pelan di dalam hujan itu. Ia berjalan hingga ke halte dan naik bus saat ada bus datang. Gadis itu hanya duduk termenung di sisi jendela bus, di mana saat kepalanya sedikit terantuk dengan jendela bus karena menempelkan kepala di dinding itu, ia bahkan tidak merasakannya.


...


Bus terhenti di jalurnya, gadis itu turun disebuah halte, namun bukan halte dekat kampus, melainkan halte dekat dengan rumah neneknya. Gadis itu berjalan pelan ke arah taman hingga tiba di kuburan ayah dan ibu kandungnya. Ia duduk di sisi-nya lalu menaburkan bunga yang dikeluarkan dari tasnya.


"Lora datang mah, pah!"


Gadis itu hanya diam saja, kali ini ia tidak menangis lagi, ia hanya menarik nafas panjang lalu menghela berat.


"Lora pengen ketemu mamah sama papah! Lora kangen banget!" Ucap gadis itu.


Setelah beberapa menit, Alora bangkit dari sana dan berhenti lalu duduk di taman itu. Gadis itu hanya terdiam dan sendu. Hujan mulai menampakkan dirinya lagi, gadis itu hanya membuka payungnya dengan tetap duduk di sana.


"Apa sudah saatnya?"


.


.


.


Tbc