My Secret Alora

My Secret Alora
Orang Lain


Semesta menagis kembali hari ini. Sepertinya musim hujan sudah memberikan tanda. Gadis imut dengan pakaian rapi, lengkap dengan sneakers putih dan rambut yang terurai, hanya mampu menatap langit yang diselimuti awan hitam.


Di pintu depan gedung jurusan psikologi, Lia hanya berdiri sendiri karena ia tidak membawa payung di saat hujan begini. Gadis itu hanya menghela berat nafasnya beberapa kali.


Terdengar bunyi langkah sepatu menyentuh lantai dari belakangnya. Lia tidak memperdulikan ia hanya bediri menunggu hujan reda.


"Lia?" Suara itu merambat ke telinga gadis itu.


Lia menoleh lalu terkejut, matanya membulat sempurna, dahinya perlahan mengkerut dan senyum cerahnya menghilang, gadis itu menemukan sesosok pemuda dengan seringai mengerikan yang membuatnya membeku di tempatnya.


...


Di sisi lain, Alora baru sampai di kampus bersama Andre. Mereka berangkat menggunakan mobil Andre makanya mereka terlihat kering meski di luar hujan. Dua remaja kasmaran itu salin menggenggam tangan satu sama lain, walau sebenarnya Alora agak malu saat orang-orang melempar tatap padanya.


Tak lama berjalan menyusuri gedung jurusan, mereka tiba di depan tangga menuju lantai 2. Seorang gadis cantik dan modis bernama Ziva itu melambai ke arah Andre sembari memanggil "Andre!" Dengan senyum merekah di wajahnya.


Andre langsung melepas tangannya dari genggaman Alora untuk membalas lambaian Ziva. Perhatian Alora terkecoh, gadis itu menatap tangannya yang dilepas begitu saja oleh Andre. Walau sebenarnya sisi tangan Andre yang lain sedang membawa tas laptop.


"Ke lantai 2 kan?" Tanya Ziva dengan senyuman ceria itu.


"Iya yok! Kita barengan aja!" Sahut Andre yang juga menaikkan kedua ujung bibirnya.


Alora tampak hanya menatap dari belakang mereka yang langsung menaiki tangga dan ia hanya bisa mengekor mengikuti.


Tiba saja, gadis itu merasakan getaran dari kantung celana jeansnya, ia mengambil hpnya terlihat panggilan dari Lia. Alora menggesek tombol di layar Androidnya untuk menjawab lalu menempelkan hp di telinganya.


"Halo bestie! How are you!" Sapa Alora namun tidak ada jawaban dari sisi penelpon.


"Lia? Halo! Loe dimana?" Alora masih belum mendapatkan jawaban ia hanya mendengar suara terengah-engah dari hp nya.


Tidak tinggal diam, Alora langsung berlari keluar dari gedung fakultas Ekonomi menuju gedung jurusan psycologi untuk mengecek kondisi sahabatnya itu. Gadis itu tidak memerdulikan hujan yang sedang turun, yang ia tau Lia sedang membutuhkan bantuannya. Jika ada panggilan kosong dari Lia berarti Lia kenapa-napa.


Andre yang tadinya sedang naik tangga tidak menyadari Alora sudah hilang dari jangkauannya. Ia baru tau saat menoleh ke belakang Alora sudah tidak bersamanya. Ia hanya melihat sekilas seseorang mirip Alora berlari keluar gedung. Andre celingak-celinguk memindai seorang gadis yang hilang dari pandangannya.


"Yang lari tadi.. apa beneran Alora ya? Tapi kenapa? Kemana dia?" Andre masih terlihat ragu dan langkahnya sudah jauh tertinggal dari Ziva.


"Loe kenapa Ndre?" Tanya Ziva yang ikut terhenti.


"Alora mana ya?"


"Siapa Alora?" Tanya Ziva lagi.


"Cewe yang bareng gua tadi!"


"Sekelas sama kita?"


"Enggak sih!"


"Udah naik duluan kali! Bisa aja arah kelasnya beda kan?"


"Iya sih!" Sahut Andre namun masih ragu, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju kelasnya, karena sebentar lagi dosen akan memasuki kelas.


Di sisi lain Alora masih berlari sekuat tenaga agar segera sampai di tempat Lia, bola mata menyorot segala penjuru menilik keberadaan sahabatnya. Akhirnya ia sampai dengan nafas terengah-engah dan langsung memasuki gedung itu.


Melirik kanan kiri dengan panik, lalu ia mendapati Lia yang terlihat kehabisan nafas karena gangguan paniknya menyerang. Alora langsung merangkul Lia yang gemetar duduk di samping dinding itu terlihat sekarat.


"Lia nggak apa-apa ya! Yang penting tetap bernafas kamu akan baik-baik aja! Ayo tarik nafas lagi.. hembuskan.. lagi Lia.. tarik nafas.." Alora juga tidak bisa membendung lebih lama lagi cairan bening yang mengalir begitu saja tak bisa ia kendalikan.


"Bagus Lia! Kamu berhasil!" Ucap Alora bersamaan tangisnya yang masih ia tahan. Alora memeluk Lia saat gadis itu sudah semakin tenang sembari menepuk pelan punggung gadis itu perlahan.


Alora yang tidak menyadari sudah membuat seluruh lantai basah karena pakaiannya yang di serbu hujan saat ia berlari. Lia semakin tenang, Alora membawa gadis itu bersamanya menuju klinik kampus mereka setelah meminjam payung dari sembarang orang yang ia temui.


Lia sudah berbaring dan terlelap di dalam klinik itu, sedangkan Alora harus mengunggu di luar karena tidak diperbolehkan masuk ia basah kuyup. Gadis itu duduk di kursi tunggu dengan posisi memeluk lututnya yang dilipat sembari menyembunyikan wajahnya dan tas yang ia letakkan di sampingnya. Sesekali terdengar helaan nafas berat dilanjutkan dengan tarikan nafas berat akibat tangisan.


Lia mengindap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat trauma dari masa lalu. Saat ia menghadapi kondisi yang membuatnya sangat ketakutan, serangan panik akan langsung dipicu oleh sarafnya. Sejak dulu jika ada panggilan kosong tanpa jawaban dari Lia, Alora selalu melakukan hal yang sama. Layaknya orang gila yang berlari tanpa arah untuk menemukan sahabatnya.


Hp Alora kembali berdering dari tasnya, namun gadis itu tidak menayadarinya, pikirannya kalut dan sangat mengkhawatirkan Lia.


"Hp kamu bunyi tuh!" Ucap seorang pemuda yang duduk di sisi Alora.


Alora mengangkat kepala yang ia sembunyikan di antara lututnya, lalu mengambil hp dari tasnya, ternyata Andre sudah beberapa kali menelponnya. Panggilan itu kembali mati, Alora hanya menatap kosong pemuda yang duduk di sisinya.


Hpnya kembali berdering, tapi Alora hanya melihat tanpa mengangkatnya. Akhirnya pemuda itu inisiatif mengangkat panggilan dari Andre itu, karena Alora masih terlihat shock dan sedih.


"Al, loe di mana? Kok loe nggak masuk kelas padahal tadi bareng gua? Loe sebenarnya kemana aja sih?" Suara Andre yang terdengar dari balik hp Alora.


"Halo!" Ucap pemuda itu.


"Loe siapa?" Tanya Andre.


"Sepertinya pemilik hp sedang tidak bisa menjawab, jadi.."


"Loe dimana sekarang? Cepetan jawab!" Andre mendesak.


"Klinik kampus!" Sahut pemuda itu.


Andre langsung berlari sambil menutup telepon, saat itu hujannya pun sudah reda.


Di sisi lain, Alora akhirnya mengatakan kalimat pertamanya.


"Makasih ya! Udah minjamin payung tadi"


"Iya sama-sama, kalo boleh tau teman kamu tadi sakit apa? Kok aku lihat dia lebih ke ketakutan dari pada kesakitan" tanya pemuda itu lagi.


"Makasih ya, kamu udah peduli... Gimana cara aku untuk balas kebaikan kamu? Soalnya aku nggak suka berhutang budi jadi aku akan membalas kebaikan kamu agar kita bisa impas!" Sahut Alora.


"Kamu akan ngelakuin itu sekarang? Kamu basah kuyup gini!"


Alora baru menyadarinya lalu merasakan aura dingin merasuki tubuhnya hingga ke tulang-tulangnya. Ia dengan segera memeluk tubuhnya dan menahan agar tidak menggigil. Sebagai cowo yang gentleman, pemuda itu melepas hoodi bertudung yang ia gunakan lalu memakaikannya buat Alora. Gadis itu tampak sangat kedinginan sekarang.


Andre yang baru masuk menyaksikan Alora yang mengenakan hoodie pemuda yang saat ini hanya memakai kaos itu. Ia juga menyaksikan detik pemuda itu memakaikan hoodie itu untuk Alora. Tatap dingin mulai merasuki, ia mulai memikirkan hal-hal buruk yang seharusnya tidak ia pikirkan.


.


.


.


Tbc