
Setelah mempelajari siklus akuntansi beserta penyusunan laporan keuangan untuk perusahaan jasa di mata kuliah pengantar Akuntansi, tampak hampir semua mahasiswa kelas itu merengut dan memelas. Pasalnya, Akuntansi tidak sesederhana itu namun juga tidak sesulit itu, akuntansi hanya rumit dalam setiap kasusnya berkelanjutan dan di perlukan pemahaman yang matang.
Tampak seperti murid yang rajin, Alora mencatat semuanya walau tidak ada yang bisa ia pahami. Semua penjelasan terdengar abu-abu dan ia masih ragu. Saat dosen pengajar keluar, ia langsung menutup semua buku lalu merebahkan kepalanya ke meja.
"Kenapa Lora?" Tanya Keysha yang duduk di sisinya.
"Mumet! Minggu depan midtest tapi gua masih bingung!" Sahut Alora.
"Santai aja! Bu Rini baik, beliau bakalan ngasih B buat mahasiswa yang rajin masuk kelas, kita incar B aja udah!" Sahut Keysha lagi dengan senyum nakalnya.
"Boleh juga ide loe hihi" Alora tampak setuju dan ikutan tertawa.
Dari belakang, Steve sudah mengincar targetnya, ia bangkit dari kursi lalu menuju meja Alora.
"Pinjam catatan loe dong!" Ucap Steve pada Alora.
Raut wajah Alora seketika berubah, baru saja ia tertawa bersama Key, tapi sekarang tampak seperti sedang marah, namun disembunyikan di balik wajah datar itu.
"Loe budek? Buku catatan loe sini! Gua lihat loe banyak nyatat tadi!" Steve mulai memaksa.
Siapa sangka Beni yang duduk di sisi kiri dengan santai mengambil catatan Alora lalu berkata "loe telat! Bukunya udah duluan gua pinjam!".
Steve langsung menilik pemuda yang ikut campur itu.
"Loe siapa?" Tanya Steve pada Beni.
"Loe nggak perlu tau! Pergi sana!" Sahut Beni santai lalu bangkit dari kursinya.
Steve tersenyum sinis "loe jangan bodoh! Cewe ini cuman manfaatin loe! Dari dulu dia suka porotin cowo-cowo kaya, gua juga lihat cowo lain bareng dia tadi pagi" Steve berbisik pada Beni.
Senyuman si psyco kembali setelah lama tidak ia gunakan. Sorot mata tajam mengarah ke dua manik pemuda di depannya. Beni melangkahkan kakinya setelah mengangkat tasnya, dan tak ragu Beni menyenggol bahu Steve saat seketika senyumnya pudar.
Alora juga ikut pergi mengikuti Beni, ia tidak ingin meminjamkan bukunya. Setelah menjauh dari kelas, Alora menghentikan langkah Beni dengan meraih lengan pemuda itu. Beni membalikkan tubuhnya untuk menghadap Alora.
"Buku gua dong! Gua butuh buat belajar!" Ucap Alora dengan tangan terangkat menunggu bukunya dikembalikan.
"Gua pinjam!" Sahut Beni dengan sikap dingin.
"Nggak bisa dong! Gua harus ngerjain tugas nanti malam, balikin!" Sahut Alora lagi dengan wajah datar.
"Loe nggak bisa kasih bentar? sebagai ucapan terimakasih kek!"
"Buat apa ngucapin terimakasih? Gua nggak minta bantuan loe kok!" Helaan nafas Alora terdengar kesal "yaudah loe fotocopy sana! Gua tunggu di kantin! Jangan lama-lama! Gua mau pulang"
Alora mengubah arah tujuannya, berjalan lesu dengan wajah kesal. Ia terpaksa sendirian ke kantin, gadis itu hanya memesan pop ice sambil menunggu bukunya dikembalikan. Tak lama pesanannya datang, ia hanya duduk terdiam dengan pandangan satu arah sambil menyeruput pop ice-nya.
"Tunggu! Beni bakalan balik kan? Jangan sampe percuma gua nunggu di sini buang-buang waktu" pikur Alora yang termenung itu.
"Hey!" Suara itu masuk ke telinga Alora.
Pandangan Alora teralih dan menemukan Dian sudah duduk di depannya.
"Sendirian aja?" Tanya Dian.
"Menurut loe?" Alora tidak bisa menyembunyikan kesalnya yang terus berkelanjutan.
Dian tertawa lalu mengangguk. Lia juga muncul lalu duduk di sisi Alora.
"Bestiee.. gua kangen!" Lia si lebay kembali, gadis itu memeluk Alora dan menepuk punggunya. Alora juga ikut menepuk punggung Lia.
"Eh! Dia siapa?" Tanya Lia pada Alora saat melirik Dian ada di depan mereka.
"Kenalin gua Dian!" Pemuda itu langsung menjulurkan tangannya dengan melempqr senyum manis ke arah Lia.
"Dia yang minjamin payung!" Ucap Alora.
"Beberapa MK (mata kuliah) Kita sekelas loh! Loe nggak pernah lihat gua?" Tanya Dian penuh harap.
"Sorry! Gua nggak Lihat!" Sahut Lia.
"Kalo gitu boleh dong kita saling kenal biar bisa lebih dekat, kita bisa saling sharing ilmu apalagi kita sekelas kan hahaha" Dian tampak bersemangat sejak Lia datang. Sedangkan Lia hanya membalas anggukan dengan senyum canggung. Dari lirikan mata itu, Dian tampak tertarik pada Lia.
Saat sesi perkenalan berlangsung seru, ketiga insan yang duduk di pojokan kantin tampak sedang saling bercanda dan tertawa. Namun tiba saja layaknya jatuh dari langit, buku catatan Alora di lempar Beni dan jatuh tepat di atas meja depan Alora. Pemuda itu langsung pergi setelah melancarkan aksinya dan tentu saja dengan wajah datar, tatap dan sikap angkuh bahkan dari punggungnya menjelaskan pemuda itu sangat dingin.
"Itu cowo kenapa?" Tanya Dian.
"Oiya gua hampir lupa! Dia (Beni) nggak gangguin loe kan? Loe okey aja kan di kelas?" Tanya Lia yang khawatir.
"Udah nggak usah khawatir! Dia udah mulai berubah kok!" Sahut Alora santai.
"Emang tu cowo kenapa?" Dian dan rasa penasarannya.
"Julukannya si Psyco handsome! Yaah karna dia memang ganteng tapi atitude nya nggak ada! Suka semena-mena sama orang, nggak pernah senyum, kasar lagi!" Lia sangat menjiwai perannya.
"Yaah walaupun kadang dia baik sih! Tapi kebaikan dia itu dibarengi sikap kasar gitu, paham nggak? Dia baik tapi semena-mena.. gitulah pokoknya" sambung Lia yang sudah menyerah menjelaskan Beni.
"Loe suka sama dia?" Tanya Dian lagi.
"Siapa? Beni? Enggaklah!" Lia tampak nge-gas karena memikirkannya saja ngeri.
"Baguslah kalo enggak!" Ucap Dian lalu tersenyum.
***
Alora tampak menuju ke sebuah supermarket. Saat Dian dan Lia harus kembali masuk kelas, Alora memutuskan pulang, apalagi Andre yang masih sibuk dengan mata kuliahnya.
"Hai! Lora udah sampe?" Ucap kasir di supermarket itu.
"Ah iya, Halo kak! Lora ganti baju dulu ya!" Sahut Alora lalu menuju ke gudang.
Sejak beberapa hari yang lalu, Alora sering keluyuran setelah pulang dari kampus sendirian. Gadis itu tidak tahan terus bersantai, karena tubuhnya sudah terbiasa beraktivitas dan bekerja sejak ia SMP. Selain itu, saat ia sendirian overthingking yang selalu menyapa tidak bisa ia hentikan. Luka lamanya terus bermunculan saat ia hanya duduk sendirian tanpa kegiatan apapun. Baik itu tentang orang tuanya ataupun luka akibat hinaan ataupun tragedi masa lalu yang terkadang menyapa tanpa permisi.
Alora bekerja sebagai staf menggantikan pekerja lama yang harus cuti karena masalah internal. Karena sudah terbiasa bekerja, tentu saja Alora sangat alami seolah sudah bekerja sebulan padahal baru satu hari. Walau ia akan kembali terlihat menyedihkan dan orang-orang akan meremehkannya lagi karena kemiskinannya.
Jam 20.00 WIB shif nya berakhir, ia juga membawa beberapa barang yang harus ia beli untuk kelangsungan hidupnya. Gadis itu pulang berjalan kaki karena supermarket itu hanya berjarak 15 menit dari rumahnya. Kebiasaan hemat dengan rutinitas padat memang tidak bisa ia hilangkan dari hidupnya.
Perlahan tapi pasti, Alora merasakan seseorang mengikutinya. Ia melihat sekilas tampak seseorang dengan celana dan jaket hitam serta mengenakan topi hitam pula.
"Siapa sih tuh? Jangan-jangan orang yang sama yang ngikutin Lia hari itu!" Batin Alora menggerutu, gadis itu tetap merasa ketakutan walau ia selalu berusaha tangguh.
Alora mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke belakang sekalipun ia sangat ingin. Kertas belanjaan yang ia jinjing memperberat langkahnya. Ia merasakan seseorang semakin dekat dengannya, namun ia tidak bisa berlari akibat bawaan berat di tangannya, selain itu kakinya masih terasa sakit setelah ia memaksakan lari di hari Lia sekarat. Retak tulang yang diakibatkan kecelakaan tahun lalu belum sepenuhnya sembuh.
Tiba saja seseorang merangkul bahunya, langkah gadis itu terhenti. Ketakutan tergambar jelas di wajahnya.
"Loe tenang aja ini gua!"
.
.
.
Tbc