
Jatuh cinta membuat seseorang berubah. Tidak semua cinta bisa saling memberi dan menerima.
-Bomy-
.
.
.
Alora ke rumah sakit untuk mengganti perban di kepala dan kakinya, namun kakinya tampak semakin bengkak apalagi setelah terantuk lantai terjatuh karena Mila menendang tongkatnya.
Ternyata memang ada tulang yang agak retak, sehingga membutuhkan waktu kurang lebih 3-4 bulan untuk sembuh. Mendengar pernyataan dokter, Andi semakin merasa bersalah.
"Setelah bengkak nya menghilang, kemungkinan setelah 1-2 minggu Alora akan bisa berjalan normal karena retaknya tidak parah hanya terlihat seperti luka gores, namun tidak boleh berlari ataupun mengangkat beban berat, dan juga tidak boleh berjalan terlalu lama" jelas dokter yang membuat kedua insan yang mendengarnya menghela berat.
"Kalo gitu saya nggak bisa bekerja dok?" Tanya Alora.
Dokter hanya menggeleng kepala sebagai jawaban.
Setelah dari ruang dokter, Andi langsung mengambil mobil dari tempat parkir lalu menjemput Alora yang menunggu di depan rumah sakit.
Setelah membantu Alora naik ke mobil, Andi kembali masuk dan berkata "Lora, aku akan ganti rugi untuk kompensasi yang harus kamu terima dari pekerjaan kamu, jadi kamu..." kata Andi dihentikan Alora.
"Nggak apa-apa! Kak, selama ini Andre juga udah banyak bantuin aku jadi kak Andi nggak perlu.." kata Alora kembali dihentikan pemuda itu.
"Itu Andre! Bukan aku! Tolonglah Lora, pokoknya aku akan ganti! Jadi kamu terima aja, ini salahku!" Bantah Andi.
"Nggak kak! Alora udah ngerepotin banget, jadi Lora nggak bisa terima lagi uang kakak!"
"Lora! Denger, tanpa penghasilan kamu mau makan apa? Aku akan sangat merasa bersalah kalo kamu ngga mau nerima ganti rugi aku! Ini salahku"
"Semua ini salah Lora kak! Lora yang berdiri di jalan itu dan saat itu Lora sadar lampunya warna hijau, jadi terimakasih banyak untuk semua tanggungjawab yang kak Andi berikan udah cukup, Lora juga akan merasa bersalah jika harus menerima berlebihan"
"Jadi kamu sadar lampu nya hijau? Lalu kenapa kamu berdiri di jalan waktu itu?" Tanya kak Andi serius.
Alora terdiam sesaat untuk berpikir, lalu menjawab setelah memutuskan
"Lora nggak bisa jawab kak!" Mengalihkan pandangannya dari Andi yang menantikan jawabannya.
"Kenapa?" Tanya Andi lagi masih menatap Alora.
"Nan syugoshipo! (Aku mau mati!)" Sahut Alora.
"Apa?"
"Lora ingin mengakhiri semua, coba aja kak Andi nggak nekan rem hari itu, semua akan berlalu"
"Kamu udah g*la? Mati nggak akan menyelesaikan semuanya! Dulu orang tuamu menyelamatkan kamu bukan untuk melihat kamu bunuh diri begitu!" Andi tampak emosi.
"Jadi mereka meninggal karena nyelamatin Alora? Lalu gimana caranya nyelamatin Lora di kehidupan ini lagi? Hidup yang terasa kurang dan terkurung dalam kesendirian" bola mata gadis itu mulai berkaca.
"Sebenarnya, Lora pengen banget tau tentang ingatan Lora yang hilang, tapi saat ini Lora takut..."cairan bening mengalir begitu saja.
Andi mencoba menepuk pelan punggung Alora yang tidak bisa menahan tangisnya lagi.
"Dibalik semua yang terjadi, jangan lupakan orang-orang yang menyayangi kamu! Nenek kamu, tante Ina, Lia bahkan Andre dan juga aku. Aku mewakili mereka bahwa kami tidak ingin kehilangan seorang Alora. Jalan kehidupan memang tidak bisa ditebak, pasti ada alasan dibalik aku yang nabrak kamu dan bukan orang lain, ini semua agar kamu tetap hidup!" Jelas Andi mencoba menghibur.
"Dulu aku juga pernah merasa paling gagal dalam hidup, di saat aku nggak bisa nyelamatin adik yang kusayang, aku hampir kehilangan dia (Andre), dan hampir saja menghancurkan diriku untuk memasuki api, namun seorang wanita baik mengorbankan dirinya tanpa tau bagaimana kehidupan anaknya nanti tanpa dirinya, sampai saat ini aku masih merasa bersalah pada anak itu" bola mata Andi ikut berkaca menatap Alora karena merasa emosional dengan cerita lamanya itu.
"Intinya circle kehidupan sudah tersusun rapi, aku menemukan anak itu dan akan terus membantunya, begitupun aku akan membantu kamu! Jadi terima saja!" Andi mengakhiri kalimatnya lalu menghidupkan mobilnya untuk pulang.
Dalam mobil itu kembali hening sepanjang perjalanan, Alora hanya menatap keluar jendela dengan sejuta kalimat dalam pikirannya.
Sesampai di rumah, Alora berpesan kepada Andi untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang yang mereka bicarakan hari ini.
***
Malamnya, Andi menemukan Andre yang sibuk belajar di kamarnya. Dia datang untuk mengganggu adik kesayangannya itu dengan tidur di kasur Andre.
"Loe ngapain sih? Loe nggak lihat masih rapi? Kalo mau tidur pindah ke kamar loe sendiri aja!" Andre yang tidak suka barangnya disentuh orang lain langsung melampiaskan kekesalannya.
"Loe pelit banget!" Balas Andi yang sudah membaringkan tubuhnya itu.
"Biarin!"
"Eh tapi, loe ke mana tadi pas pulang sekolah? Kok nggak bareng Lora? Gua liat Lia papah Lora sendirian, katanya sih Alora jatuh gitu, pas di cek malah rupanya ada tulang yang retak"
"Lora jatuh kenapa?
"Mana gua tau! Loe yang harusnya jagain dia, gantiin gua setidaknya! Perhatiin dia mentalnya lagi terguncang juga, jangan sampe fisiknya juga" kalimat itu keluar begitu saja dari bibir tipis Andi.
"Maksud loe apa bang? Gantiin loe? Ah apa? Mentalnya terguncang?" Andre yang penuh tanda tanya dalam dirinya.
"Ah maksud gua kan, mm.. dia baru habis kecelakaan gara-gara gua, jadi loe sebagai adik gua ikut jagain dia gitu, terlepas dari status pacar loe karena setelah kecelakaan mentalnya pasti nggak baik-baik aja" kalimat ngeles yang keluar begitu saja pula dari kepala pemuda berkedok abang itu.
Namun, Andre kembali dalam renungannya. Pikirannya kerap terus menanyakan apa yang membuat dirinya sedih saat ia tidak bisa menyadari apa yang sebenarnya ia inginkan. Selama ini dia bahagia memiliki Alora sebagai dinding untuk menghalangi dirinya dari keramaian yang ia benci. Namun mengapa rasanya berbeda saat ini?
Kenapa dia merasa sedih tiap kali melihat Alora dengan senyum palsu yang dipasang sebagai topeng. Seakan senyum palsu itu terpasang sebagai dinding yang menutup diri gadis itu.
"Sebenarnya luka seperti apa yang loe masih sembunyikan dari gua Al?" Batin Andre masih terjaga di tengah malam itu.
Alasan sebenarnya Andre membenci keramaian adalah dia tidak bisa mempercayai siapapun orang asing yang berada di dekatnya. Sebuah trauma yang disebabkan kecelakaan besar itu masih terasa segar di ingatannya. Terlepas dari kepribadiannya yang humble dan ramah, sebenarnya dia lebih menyukai kesendirian dan "me time" nya.
Luka dulu yang sekarang terasa bukan apa-apa, hingga orang lain tidak dapat melihat celahnya lagi, namun dalamnya masih tergores dan akan terasa kembali di saat-saat terpuruk dalam hidup.
Itu yang kurasakan saat ini!
.
.
.
Tbc