
Rutinitas belajar bersama sebagai sebuah syarat untuk menyelesaikan misi sudah di mulai. Hal ini terlihat dari meja di perpustakaan yang biasa digunakan sebagai tempat tidur Alora namun di setiap bangkunya sudah berpenghuni.
Andre sang pacar duduk di sisi Alora dan Beni yang tidak mau kalah duduk di depan Alora, sisanya Lia yang duduk di sisi Beni. Seperti Lia sudah terbiasa dengan tempramen Beni jadi ia sudah pasrah duduk di mana saja.
Keempat remaja itu terlihat sungguh-sungguh dan sibuk dengan buku masing-masing. Si paling pintar Lia senantiasa juga jadi guru privat gratis mereka. Si paling caper Andre selalu melirik Alora dan mencoba membantunya ketika gadis itu terlihat kehilangan arah. Si paling Tempramen Beni selalu terganggu setiap mendapati gerak-gerik Andre selangkah di depannya. Dan yang terakhir si paling diam Alora hanya diam saja menatap bukunya dengan pikiran kosong namun tampak belajar seolah hal itu akan sangat berguna baginya.
Tidak hanya mereka, sebenarnya siswa kelas 12 lebih diberikan waktu untuk belajar mandiri agar mereka dengan bebas menentukan pilihan masa depan mereka, tidak sangat terikat dengan pelajaran khusus di sekolah.
Waktu istirahat akhirnya tiba, satu persatu manusia di perpustakaan itu menghilang. Begitupun dengan ketiga remaja selain Alora. Pemuda tampan bermana Andre itu masih di tempatnya memastikan Beni keluar duluan, setelah itu ia baru ikut keluar dan disusul Lia yang juga ikut untuk membeli makanan.
Seperti biasa setelah memaksakan otaknya, Alora merebahkan kepalanya di meja itu lalu tertidur. Belum sepenuhnya lelap, seseorang menarik kursi dan duduk di sisinya. Alora membuka matanya melirik ternyata.
"Loe selain nggak tau diri, ternyata caper dan suka ngadu juga!" Ucap Mila yang membuat Alora kembali menegakkan kepalanya.
"Apaan sih? Mau tidur aja sesusah itu" sahut Alora yang malas meladeni.
Di sisi lain Alora juga seseorang datang dan duduk di sana.
"Loe pakek pelet apa sih sama Andre? Gua mau temenan sama loe!" Ucap Gebi yang bari duduk itu membuat Alora bahkan Mila ikutan tercengang mendengarnya.
"Loe siapa?" Mila bertanya pada Gebi.
"Gua Gebi dari kelas 11b"
"Maksud loe apa nanya-nanya Andre sama Alora?" Tanya Mila lagi.
"Gua suka sama Andre, urusan loe apa?" Balas Gebi.
Alora yang duduk di tengah sangat tidak nyaman, ia mendorong meja agar bisa bangun lalu mencoba keluar dari perdebatan yang akan dimulai dua gadis di sisinya.
"Urusan gualah! Gak boleh! Andre itu milik gua! Gua yang akan dijodohin orang tuanya buat Andre!" Mila tidak ingin kalah.
"Selama dia masih bebas siapapun bisa aja dapatin hatinya kak Andre!" Sahut Gebi lagi.
"Loe berani rebut milik gua?" Mila terlohat marah lalu menjambak rambut Gebi.
Begitupun Gebi yang terbawa emosi jadi ikutan membalas jambakan itu. Untung saja Alora sudah lepas dari tengah sana, jadi dia aman yang saat berada di pintu perpustakaan untuk keluar. Ia menoleh ke arah dua remaja yang saling menjambak itu lalu menggeleng kepalanya.
"Capek banget hidup sama harapan semu!" ucap Alora lalu keluar dari perpustakaan.
Alora berjalan pelan di lorong sekolah dengan tongkatnya. Ia melirik betapa luasnya halaman sekolah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Perasaannya bercampur aduk, walaupun hanya secuil kenangan manis yang ia punya di sekolah ini, namun terasa akan menjadi long term memory yang sulit dilupakan.
Ia terus berjalan lalu menuju kantin, tempat yang hanya dan baru didatanginya ketika Andre menjadi pacar palsunya. Di sana terlihat Lia yang duduk di depan Andre sembari tertawa dengan obrolan mereka. Tadinya Alora berniat menyusul mereka, namun melihat mereka yang tampak mengobrol seru, ia tidak ingin merusak suasana hanya karena kedatangannya.
Tatap Alora mengatakan hal lain, tatap yang terlihat sendu dan merasa ada yang berbeda pada perasaannya. Sebuah rasa yang sulit ia jelaskan bahkan terasa pudar untuk dipahami. Ia berbalik menuju kelas dengan jalan yang tertatih hingga tanpa sengaja seseorang yang sedang berlari menabraknya. Dan kembali berakhir di UKS.
"Harusnya gua bolos sekolah aja tadi pagi!" Gumam Alora yang terbaring di salah satu ranjang UKS.
"Tapi gini lebih baik, jadi gua bisa sendirian nggak perlu ngapa-ngapain dan gua bisa tidur!" Ucapnya lalu menarik selimut dan menutup matanya.
"Jadi kak Andi belum pernah pacaran?" Tanya Lia memastikan kalimat yang di dengarnya tadi dari Andre.
"Iya, dia tuh nggak punya waktu untuk jatuh cinta, katanya sih!" Sahut Andre.
Lia otomatis melengkungkan bibirnya ke bawah. "Jadi kak Andi suka cewe kayak gimana?"
"Gua kurang tau juga sih, coba aja loe pancing nanya pas ngobrol sama dia"
"Tapi itu masalahnya, kalo gua chat duluan, gua nggak ada alasan gitu yang bisa dijadiin topik"
"Loe kan bisa pura-pura nanya pelajaran atau hal yang loe nggak ngerti"
"Oiya juga ya! Eh tapi aneh nggak tiba-tiba nanya gitu?"
"Coba aja! Mana tau berhasil!" saran Andre yang merasa dirinya sangat berpengalaman.
***
Dua manusia yang terlibat saling menjambak rambut akhirnya ketahuan guru dan dilarikan ke kantor guru untum saling meminta maaf dan menulis surat permintaan maaf atas keributan yang mereka timbulkan. Selain itu, mereka juga harus membersihkan toilet selama seminggu.
Setelah urusan administrasi di kantor guru selesai keduanya di bawa pak Lukman ke UKS agar bekas cakaran yang mulai terasa perih di wajah masing-masing dapat di obati.
Kembali lagi bertemu, Alora yang terlihat terlelap dalam tidurnya di ranjang itu.
"Itu siswi itu kenapa buk?" Tanya pak Lukman pada dokter UKS.
"Tadi dia ditabrak siswa lain, jadi kakinya yang masih sakit terasa nyutnyutan dan agak perih katanya, jadi saya sarankan untuk istirahat dulu, supaya kakinya juga istirahat, sebenarnya dalam kondisi itu pergi ke sekolah bahaya bagi dia" jelas dokter itu panjang kali lebar.
"Dia separah itu ya buk?" Tanya Mila yang terbesit rasa bersalah dibenaknya.
"Iya, walaupun retaknya nggak seberapa parah, penyembuhannya butuh waktu lama, selain itu luka akibat benturan juga membuat kulit lebam yang tidak hanya di luar, tapi di dalam kulit juga ikut terluka, sehingga butuh waktu juga penyembuhannya" jelas dokter itu lagi.
Mila menatap Alora sembari menunggu gilirannya untuk diobati. "Apa gua udah berlebihan nendang tongkatnya hari itu ya?" Batin Mila.
"Itu orang kenapa sih diam aja? Kalo dia balas perbuatan gua ke dia, gua akan merasa lebih baik.." Mila masih membatin.
"Tapi gua nggak suka dia yang dipilih Andre!" Akhirnya Mila menyelesaikan kalimat dalam hatinya lalu duduk di bangku itu untuk diobati dokter.
.
.
.
tbc