
Akhirnya keempat remaja yang beranjak dewasa itu naik ke mobil dan Andre siap menyetir dengan mengambil langkah pertama yaitu membelokkan mobil itu.
"Guys! Mumpung lagi ngumpul... kita ke pantai yuk!" Ajak Alora penuh semangat.
"Loe nggak capek?" Tanya Andre, namun Alora menjawab dengan menggeleng kepalanya dengan ekspresi imut dan polos.
"Yaudah gimana semuanya? Lia? Loe sanggup? Kita gas?" Tanya Andre.
"Lets go lah! Kapan lagi bisa gini kan? Gaaas!!" Sahut Lia dengan semangat 45.
"Ben! Loe ikut?" Tanya Lia pada pemuda yang duduk bersamanya.
Namun Beni yang malas menjawab hanya memberi isyarat dengan lehernya.
...
Sesampainya di pantai, suasana sore yang damai itu membuat mereka tidak ingin menyia-nyiakan udara laut yang menyegarkan tanpa polusi itu. Begitu turun dari mobil mereka langsung menuju ke tepi pantai dan merasakan air laut menyentuh kaki mereka.
"Uwah dingin! Ahhahah" Ucap Lia lalu tertawa.
"Iya! Dingin hahah!" Sahut Alora sambil bermain-main dengan air.
Andre hanya menatap di tepi, namun Alora menarik pacarnya agar ikut basah bersama mereka. Mereka saling memercik walau sedikit, tergambar jelas kebahagian kecil yang hanya bisa di dapat di saat-saat seperti ini.
Di sisi lain, masih ada Beni yang hanya memantau. Tentu sorot mata pemuda itu hanya tertuju pada Alora dan sesekali pada Andre dan Lia.
"Gua harus apa ya? Apa ikhlasin aja? Padahal dia bisa lebih bahagia dari itu jika mau!" Ucap Beni pada angin yang berlalu.
"Kasian banget juga Lia! Dia tersenyum bahagia tanpa tau apa-apa! Lia juga akan terpuruk, apa Alora nggak bisa pertimbangkan orang-orang yang akan kehilangan dia dibanding satu orang yang pengen dia buat bahagia? Kenapa jawaban termudah dari semua masalah hanyalah mati?" Gumam Beni sembari menatap ketiga temannya itu.
Hari semakin gelap, sudah saatnya mereka pulang. Perjalanan pulang berjalan begitu damai, Lia sudah tertidur di mobil begitupun Alora yang sudah menutup matanya. Beni masih membuka mata untuk menemani Andre yang menyetir.
"Loe nggak mau gantian nyetir?" Tanya Beni.
"Nggak apa gua aja! Tumben loe baik!" Sahut Andre.
"Yaudah!" Beni menatap keluar jendela.
Pulangnya, Alora meminta untuk di antarkan ke rumah Lia. Malam ini gadis itu ingin menghabiskan waktunya bersama sahabatnya.
...
Di rumah Lia, kedua gadis itu sedang bersiap untuk tidur.
"Lia loe laper nggak?" Tanya Alora.
"Kenapa? Loe lapar?" Sahut Lia yang terlihat lelah.
"Nggak juga sih! Cuman pengen aja! Yaudah tidur aja yuk!" Sahut Alora lagi saat melihat Lia tampak lelah beraktivitas seharian.
Keduanya menarik selimut dan tidur. Namun Alora kembali membuka matanya lalu membalikkan badannya menatap Lia yang juga tidur miring ke arahnya.
"Lia maafin Lora yaa!" Ucap Alora berbisik dan tampaknya Lia sudah benar-benar tertidur karena kelelahan.
"Lora udah ngambil keputusan ini! Sebenarnya Lora banyak mengambil haknya Ali sebagai anak, harusnya Ali adalah anak tunggal yang di sayang penuh oleh orangtuanya. Tapi gua hadir sehingga kasih sayang itu terbagi, untuk mengembalikan hak dia, aku harus lergi kan? Lora nggak bisa pergi ke luar negri ataupun luar daerah karena nggak punya cukul uang. Tapi Lora punya cukup keberanian untuk mengganti dunia. Maafin Lora ya Lia!" Batin Alora sembari menatap sahabatnya itu.
...
Di sisi lain, Alora yang tidak pulang membuat Hilman semakin khawatir walau Alora sudah memberi kabar ia menginap di rumah Lia.
Setelah menyiapkan makan malam, pria itu makan bersama anak tunggalnya. Hilman juga melirik Ali yang hanya diam saja sedari tadi.
"Ali masih marah sama papah?" Tanya Hilman.
"Pah! Stop deh! Ali pengen makan tenang sekali aja!" Sahut Ali lalu melanjutkan makannya.
"Karena Ali udah mulai beranjak dewasa, papah rasa Ali akan mengerti. Kesalahan terbesar papah adalah terlalu membiarkan anak papah sendirian. Ali selalu ikut ayah ke mana pun, tapi Lora selalu tinggal sendirian di rumah, gitu juga sampe dia harus bersikap dewasa lebih cepat dari umurnya." Hilman mulai bercerita.
"Tapi anak malang itu tidak peduli dia terabaikan, dia hanya butuh sedikit kasih sayang saja!"
"Papah harap kamu bisa mengerti nak! Tidak ada yang salah dalam kisah ini, hanya takdir kita yang kurang beruntung!" Hilman menyelesaikan ceritanya.
"Apaan sih pah!" Ali bangkit dari kursinya laku masuk ke kamarnya karena telah menghabiskan makanannya.
Hilman meneteskan cairan beningĀ dari bola matanya, dahinya berkerut tampak frustasi.
***
D-2
Alora bangun pagi sekali, ia melewatkan sarapan dan langsung pulang. Ia pulang tanpa sengaja bertemu Ali di depan pintu gerbang rumahnya. Mata keduanya senpat bertemu. Namun Ali langsung mengabaikan Alora.
"Tunggu!" Ucap Alora sehingga Ali menghentikan langkahnya sebentar.
"Gua bakal transfer uangnya ke rekening loe!" Sambung Alora nanum hanya di balas dengan, "Ck!" Oleh Ali lalu langsung pergi.
...
Alora masuk ke rumah lalu memeluk ayahnya dari belakang yang sedang mencuci piring sebelum berangkat kerja.
"Siapa nih?" Tanya Hilman.
"Anak papah dong!" Sahut Alora dengan senyum di wajahnya.
Hilman melepas sarung tangan cuci piring, lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk anak gadisnya.
"Oya pah! Papah pengen makan apa? Biar Alora buatin!" Kalimat Alora yang membuat Hilman seketika khawatir.
"Lora udah sarapan? Kita makan di luar aja yuk! Kita makan enak hari ini!" Pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Yah! Sayang banget, Lora ada janji hari ini!"
"Yaudah kamu siap-siap sana, biar papah siapin sarapan di meja ya!"
"Nggak apa pah, Lora bisa siapin sendiri kok!"
"Papah maksa nih, biar papah siapin makanannya, Lora sana sial-siap!" Ucap Hilman lalu melanjutkan kerjanya.
...
Tak lama, Alora kembali masih dengan setelan trainingnya seperti sebelumnya.
"Lora belum siap?" Tanya Hilman yang telah menyiapkan lagi meja makan.
"Lora pengen makan bareng papah dulu! Kan bentar lagi papah mau berangkat kerja!" Sahut gadis itu lalu duduk di meja makan.
"Yaudah, anak ayah makan yang banyak yaa!" Hilman hanya menatap anak angkatnya itu makan dengan lahap.
"Anak ayah udah sebesar ini aja! Lora jangan pernah ninggalin ayah ya!" Ucap Hilman dengan tatap sendu.
Sorot mata gadis itu tampak linglung begitu mendengar kalimat itu. Bola matanya berkaca begitu saja. Air asin itu ikut menaburkan rasa garam di makanannya. Alora menegakkan kepalanya yang pipinya sudah basah itu lalu bertanya,
"Lora harus gimana?"
Melihat tangisan Alora, Hilman bangkit dari kursinya lalu memeluk anaknya.
.
.
.
Tbc