
Kukira sudah baik-baik saja setelah mengubur dalam luka, tapi kenapa rasa itu suka datang menyapa, ingatan itu tidak bisakah hilang saja, agar aku bisa dengan mudah melanjutkan hidupku tanpa trauma.
-Bomy-
.
.
.
Gadis yang biasa di panggil Lora itu tampak sudah siap dengan setelan jeans scuba dan kaos polos dibalut kemeja motif kotak sebagai atasan dan rambut lurus yang dibiarkan terurai begitu saja. Dilihat bagaimanapun, itu adalah penampilan paling seadanya tanpa memikirkan unsur fashion sebagai seorang wanita.
Andre yang baru saja sampai dengan tampilan rapi sebagai boyfriend material. Dilihat bagaimanapun dan siapapun yang melihatnya akan jatuh hati, bertolak belakang dengan penampilan apa adanya Alora yang hanya memadukan beberapa baju yang ada di lemarinya.
Seperti katanya Andre membawa Alora ke salah satu wisata taman terbesar di daerah mereka menggunakan motornya.
Sesampainya di sana, ada beberapa pengunjung yang datang dari kalangan mana saja. Dan seperti biasa para gadis akan teralih fokusnya pada si cowo tampan di sisi gadis biasa itu.
Setelah menitipkan motor kesayangan itu pada tukang parkir, keduanya pun memasuki taman itu. Mereka menuju market taman untuk mencari makanan, namun hanya 2 stan yang buka.
"Kita datangnya kepagian ya? Makanya belum ada yang buka" ucap Andre lalu tersenyum.
Di sisi lain Alora hanya melirik sekelilingnya karena merasa takjub dengan keindahan alam.
Menghirup udara segar setelah sekian lama dengan hidup yang menyesakkan membuatnya sempat lupa bahwa banyak hal dunia ini yang sangat menarik. Bagaimana seseorang yang telah kehilangan tujuannya berpikir bahwa setelah menyelesaikan tugasnya saat ini maka ia akan pergi.
Gadis itu menunjukkan lesung kecil di pipi sisi kananya lalu menghela berat nafasnya. Keduanya memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berkeliling. Sepasang remaja yang duduk berdampingan namun tampak berbeda dari satu sama lain.
“Loe suka di sini?” Tanya Andre dengan senyuman dan wajah cerah itu.
Alora mengangguk sembari membatin “gua lupa selama ini gua punya orang ini dalam hidup gua, senyumnya begitu cerah, terasa jauh untuk dicapai tapi ada di depan mata” bola mata yang terus menatap Andre itu akhirnya menemukan targetnya saat pemuda itu juga menatap gadis itu.
“Ada yang pengen gua tanyain, tapi nanti aja sekarang kita makan dulu” ucap Alora yang melihat waiter mengantarkan pesanan mereka.
“Tentang apa? Ada clue nya nggak? Gua penasaran” Tanya Andre dengan ekpresi penasarannya yang terlihat tampan. Sebenarnya orang ganteng bebas ngapain aja tetap ganteng, enggak adil bukan?
Alora melirik Andre sebentar lalu tersenyum, gadis itu kembali fokus pada makanannya lalu mengambil sesendok dan memakannya.
Di tengah makan, datanglah seorang gadis manis berwajah imut yang menghampiri Andre.
“Halo kak! Boleh numpang nanya nggak?” ucap gadis itu.
“Boleh!” sahut Alora.
“Bukan mbak, tapi kakak yang ini!” tegas gadis itu menunjukkan bahwa ingin jawaban Andre.
“Apa?” akhirnya Andre angkat suara.
“Nama kakak siapa?”
“Untuk apa? Saya kurang suka memperkenalkan diri kepada orang lain” sahut pemuda itu.
“Sebenarnya saya tertarik sama kakak, boleh minta nomor WA-nya kak?”
Alora yang duduk di sisi Andre tampak berpikir lalu memutuskan menjawab.
“Maaf ya mbak, saya managernya orang ini, jadi untuk hal pribadi kami masih belum mempublishnya karna sebentar lagi dia akan debut jadi Idol Kpop, jangan lupa masuk nanti fandomnya ya mbak” kata-kata Alora yang membuat Andre tidak bisa menahan tawanya.
“Mpfffttt maaf ya mbak pacar saya memang suka aneh-aneh” tambah Andre sembari tertawa.
Percakapan konyol itu berhasil mengusir gadis tadi dan melanjutkan quality time mereka. Setelah makan mereka memutuskan untuk keliling menikmati pemandangan yang terpampang nyata itu. Alora yang narsis itu tidak lupa mengeluarkan androidnya untuk mengabadikan view alam yang ia lihat.
“Loe mau gua fotoin?” Tanya Andre lalu mengeluarkan A-Phone miliknya.
“huh?”
“Di situ! Coba berdiri di situ!” Andre memindahkan Alora yang enggan berfoto lalu memotretnya. Cekrek!
Berkeliling selama 10 menit lalu menemukan danau yang terlihat menyegarkan, yang di sisinya terdapat beberapa pohon besar untuk berteduh. Andre melipat kedua kakinya lalu duduk di atas rumput di bawah salah satu pohon tepi danau itu.
“Loe udah capek?” Tanya Alora.
“Duduk di samping gua cepet!” ucap Andre sembari menunjuk sisi kanannya.
Alora hanya menurut dan ikut duduk.
“Tadi Loe mau nanya apa sama gua?” Tanya Andre menagih perkataan Alora.
“Hmm… sebenarnya gua penasaran kenapa loe nggak suka dikagumi orang-orang, bukannya enak? Loe bisa punya circle friendship yang luas daripada berhubungan dengan orang yang sama sekali tidak mungkin ada di circle itu, seperti gua”
“Dari sejak gua kecil, dikagumi dan disukai adalah hal biasa, tapi suatu hari semua orang-orang itu pergi di saat gua paling membutuhkan bantuan. Jadinya gua benci cinta palsu sepeti itu”
“Kalau gua boleh tau kejadiannya seperti apa?”
“Di hari perayaan ulang tahun gua yang ke-6, tiba-tiba dapur gedung party-nya terbakar tepat setelah gua buat permohonan lalu tiup lilin. Bunyi alarm membuat semua orang lari termasuk ibu gua, mereka meninggalkan gua yang nggak tau apa-apa waktu itu. Apinya langsung menyebar dan membakar se-isi gedung itu. Berkali gua minta tolong saat gua terjebak di antara api, tapi orang-orang yang tadinya menggumi dan bilang sayang tidak ada yang peduli. Beruntung ada seorang ibu yang kembali nolongin gua, tapi sayangnya beliau meninggal di tempat setelah menggendong gua melewati api. Gua sangat bersyukur tapi juga menyesal dan merasa bersalah pada anak yang kehilangan ibunya. Gua ingat anak laki-laki itu menangis memanggil ibunya hendak berlari ke api saat gua di evakuasi tim medis”
“Gimana kabarnya ya sekarang” pertanyaan yang muncul setelah cerita panjang itu.
“Yang pastinya hidup tanpa seorang ibu itu sulit, kasih sayang berharga yang tidak dimiliki, apalagi tanpa keduanya” sahut Alora yang cukup berpengalaman.
“Andai gua bisa nemuin anak itu dan minta maaf”
“Sebaiknya jangan, ketika loe datang hanya akan mengungkit luka masa lalunya. Akan ada saat-saat ia teringat dan mengenang ibunya, tapi akan beda rasanya ketika membawa kembali rasa sakit itu”
“Tapi Ndre, kenapa cerita loe hampir sama dengan mimpi gua? Garis besarnya sama tapi detailnya agak berbeda” tambah Alora.
“Loe mimpi buruk?” Tanya Andre.
“Yah begitulah, mimpi itu kadang-kadang menyapa. Setelah itu gua nggak akan bisa tidur lagi, itu juga alasan kenapa gua selalu ngantuk di kelas dan tidur di perpus”
“Loe pasti ketakutan sendirian”
“Gua hanya udah terbiasa, ketakutan itu akan sembuh setelah beberapa jam lalu gua akan membaik”
“Gua seneng loe udah lebih terbuka sama gua” ucap Andre lalu tersenyum ke arah Alora.
Alora si gadis tidak peka itu hanya diam saja dan memilih menatap danau di depan mereka.
.
.
.
Tbc