
Sore itu tampak motor Andre ter-parkir rapi bersama motor lainnya. Pemuda itu baru datang lalu memasuki Kafe di mana Beni pasti ada di sana, Iyap benar Kafe Beni.
Begitu masuk, sepasang mata itu tampak mencari targetnya yang akhirnya ia temukan di sudut Kafe sedang fokus pada hpnya. Tentu Andre langsung mendatangi orang itu lalu duduk di depannya sambil terus menatap orang itu tanpa sepatah katapun.
"Apaan loe liatin gua gitu?" Iyap kalimat yang terdengar agak kasar dan suara tak asing itu berasal dari pemuda dengan julukan Psyco baik hati nan bijak (julukan baru!).
"Gua mau tanya.. apa alasan terbesar Al selalu pengen bunuh diri? Bahkan saat hidupnya itu baik-baik aja kayak hari itu!" Tanya Andre yang sebenarnya sudah menyerah menunggu, pemuda ini bahkan mengumpulkan niat sekian lama untuk bertanya pada oknum di depannya ini.
"Kenapa nanyak ke gua? Sama orangnya langsung dong! Gua..." kalimat Beni langsung ditebas Andre.
"Gua lihat sendiri hari itu loe berantem sama Al masalah itu! Loe pasti tau! Al nggak bakal kasih tau gua karna dia pasti nggak mau gua ikut kepikiran masalahnya dia!" Sahut Andre lagi.
"Loe tau Al gitu, tapi masih diam aja? Loe tanya! Dia bakal jawab kalo loe tanya!" Beni tampak agak kesal.
"Gua nggak bisa ngungkit luka lama Al! Butuh waktu lama untuk nyembuhin.. gua nggak bisa buat dia terluka lagi! Makanya loe bilang ke gua alasannya! Biar gua bisa sesuaikan dan nyembuhin luka Alora!" Ucap Andre yang sedikit membuat hati Beni tergerak.
"Ternyata Alora benar! Cara orang lain mengekspresikan kasih sayang berbeda dengan kami yang kekurangan kasih sayang!" Batin Beni.
"Dari pada alasan kenapa dia mau mati, lebih baik gua kasih saran aja! Loe harus pastiin dia menerima kasih sayang yang banyak, karena dia kekurangan itu! Terus jangan tinggalin dia, dia sudah terlalu banyak kehilangan. Terus..." tiba saja kalimat Beni terhenti.
"Okey sejauh ini saran loe bermanfaat walaupun gua udah tau juga sih, lanjut terus apa?" Sahut Andre.
"Jangan biarin dia nagis sendirian! Kalo dia nangis.. dia pasti akan teringat kembali dengan semua lukanya!" Kata Beni lalu mendekatkan wajahnya ke arah Andre.
"Gua tau loe orang baik! Loe pasti bisa jagain dia!" Kalimat saran terakhir dari Beni lalu menjauhkan lagi kepalanya semula.
"Loe juga baik! Meskipun psyco...gua tau loe baik! Thanks ya!" Sahut Andre lalu bangkit dari kursinya dan pergi.
...
Beberapa saat setelah Andre pulang Beni sudah berpindah tempat dan sudah merubah perannya dari yang tadinya pelanggan sekarang jadi pelayan. Pemuda itu sedang membuat kopi untuk tamu yang baru saja masuk.
Seorang gadis ceria yang membuka daun pintu Kafe itu langsung menuju oknum yang ia cari itu.
"Beni! Beni! Beni!" Panggil Lia yang terlihat sangat bersemangat.
"Loe kemana aja belakangan ini kok susah banget ditemuin?" Tanya Lia lagi yang berdiri di balik tembok pembatas antara pelanggan dan pekerja.
"Apaan? Loe kangen sama gua?" Kalimat pertama Beni yang masih sibuk dengan tugasnya.
"Idih! Gr banget loe! Gua cuman pengen bilang gua udah jadian sama kak Andi!" Ucap Lia bersemangat.
"Baguslah! Akhirnya loe nggak perlu nempel ke gua lagi! Lanjutkan!" Sahut Beni lagi.
Lia agak kecewa dengan tanggapan Beni yang biasa aja, yaah walau dia sendiri tau bagaimana kalimat ngeselin dari pemuda itu selalu berhasil membuatnya menjadi lebih baik.
"Respon loe gitu aja?" Tanya Lia.
"Trus gua harus gimana? Udah pergi sana jangan gangguin gua kerja," sahut Beni lagi yang sampai saat ini dia masih belum menatap Lia.
Sebaliknya Lia yang kesal setelah tadinya sangat excited, gadis itu menatap tajam pemuda di depannya dengan wajah cemberut namun terlihat imut.
"Kenapa natap gua gitu? Awas jatuh cinta loe nanti! Kasian pacar loe kan?" Ucap Beni akhirnya menatap gadis di depannya itu.
"Dih apaan sih loe?" Sahut Lia.
"Mau pesan apa loe?" Tanya Beni.
"Terserah loe!" Lia terlihat kesal lalu duduk di kursi sudut tempat Beni duduk tadi. Sedangkan Beni melanjutkan tugasnya sebagai pegawai Kafe.
***
Hari cerah lainnya menyapa, di mana matahari menyinari bumi dengan semangatnya tanpa peduli penduduk bumi yang selalu mengeluh dengan rahmat yang mereka dapatkan. Usai kuliah, Alora menuju perpustakaan untuk meminjam beberapa buku sebagai pedoman menyelesaikan tugas kuliah tersebut.
Gadis itu berkeliling mencari buku yang ia maksud, tiba saja terdengar suara bisikan yang entah mengapa me-notice dirinya.
"Eh tuh dia! Cewe yang katanya pacarnya Andre!" Suara bisikan pertama dari para gadis yang berkumpul di meja belajar dekat dengan rak buku yang Alora datangi.
"Iya! Tapi cewenya biasa gitu ya!" Sahut temannya yang lain.
Alora yang sudah terbiasa dengan bisikan semacam itu hanya membalas dengan seringai tajam di bibirnya. Ia dengan sengaja berjalan menabrak kursi salah satu gadis itu.
"Oops! Sorry nggak sengaja!" Ucap Alora menggunakan wajah polosnya.
"Kalo jalan lihat-lihat dong! Punya mata kan?" Sahut gadis itu tampak kesal.
"Sorry ya! Gua tadi lagi terpesona sama cowo di depan gua itu!" Ucap Alora yang membuat semua gadis itu menoleh ke belakang mendapati Andre yang sedang tersenyum lalu memberikan ciuman melayang alias kiss bye untuk pacarnya.
Tentu tampilan boyfriend material dengan wajah mempesona itu di tambah apapun yang pemuda itu lakukan tetap keren di mata para gadis membuat ketiga gadis itu membuka mulut mereka tanpa sadar.
Alora langsung menghampiri Andre lalu meraih tangan pemuda itu untuk digenggam. Tentu sebuah pembalasan yang setimpal untuk para gadis iri yang meliriknya hanya sebagai belenggu di hidup Andre. Mereka tidak pernah tau arti seseorang dalam hidup orang lain.
Alora dan Andre jadi sering menghabiskan waktu bersama. Dimulai dari belajar bareng, jalan bareng, nge-date, makan bareng, dan lain-lain deh pokoknya. Perlahan Alora mendapatkan kasih sayang yang lebih dan kerap di manjakan oleh pacarnya.
...
Di sisi lain, ada satu orang lagi yang masih kekurangan kasih sayang. Pemuda itu pulang ke rumah saat langit sudah gelap. Ia masuk ke rumah nya mendapati ayahnya yang sedang duduk dengan adiknya sembari menikmati makan malam.
"Ben! Yok kita makan dulu!" Ucap Herman.
"Udah makan!" Sahut Beni lalu masuk ke kamarnya.
Sebuah helaan nafas yang terdengar berat keluar dari mulut pria itu.
"Beni kenapa pah? Kok selalu gitu kalo di ajak makan?" Tanya Fathia pada ayahnya.
"Biarkan aja dia! Nanti dia makan sendiri!" Sahut Herman lalu melanjutkan makannya.
Namun Fathia merasa ada yang janggal yang membuatnya kembali bertanya.
"Apa karena Fathia ya pah? Apa karena dia benci keluarganya?" Pertanyaan itu berhasil menghentikan tangan Herman yang baru saja menyendok nasinya.
"Beni nggak benci kok sama Fathi, dia cuma..."
"Marah pah?" Tanya Fathia lagi.
"Dia cuma belum bisa memaafkan keadaan yang membuat dirinya seperti sekarang! Dari awal dia nggak jahat, dia cuman benci sama keadaan yang membuatnya terlihat jahat!" Sahut Herman menjelaskan.
"Maksudnya pah?"
"Dari dulu Beni nggak mau makan bareng papah, karena itu tidak mengubah apapun, keluarganya tetap tidak akan lengkap katanya. Jadinya dia sering makan di luar sendirian." Jelas Herman.
"Pah, kenapa sih Beni benci banget sama mamah?" Tanya Fathia setelah beberapa saat berpikir.
"Siapa yang nggak benci sama orang yang ninggalin kita? Selain itu Beni sering ditelantarkan sama Dwita, tiap dia pengen dimanja pasti dimarahin. Intinya dia nggak dapat perhatian yang sama dari ibu kamu! Papah juga belum bisa maafin kesalahan Dwita!" Sahut Herman.
"Kalo papah belum bisa maafin mama, kenapa papah mau bayarin biaya rumah sakit mama?" Tanya Fathia lagi.
"Karena papah nggak mau anak papah kesusahan! Papah pengen kamu tetap sekolah dan nikmatin hasil jerih payah papah untuk anak-anak papah!"
"Tapi pah.. sebenarnya.." kalimat Fathia di potong.
"Udah kamu makan dulu, nanti keburu makanannya jadi dingin tuh!" Ucap Herman.
"Apa mamah sejahat itu sama Beni?" Batin Fathia.
.
.
.
Tbc