My Secret Alora

My Secret Alora
Cemberut


Jam istirahat, di kantin sekolah


Andre sedang menikmati makanannya sendirian, tentu saja karena Alora sang pacar sibuk ke perpustakaan, kali ini bukan untuk tidur tapi untuk belajar. Gadis itu terpaksa belajar untuk masuk universitas.


Gebi si gadis cantik dari kelas 11 itu mendapatkan kesempatan sempurna untuk dimanfaatkan. Dia menyuruh seluruh teman-teman sekelas untuk memenuhi bangku kantin agar dia bisa duduk di meja yang sama dengan Andre, berkedok "meja penuh" gadis itu berhasil mencapai tujuannya.


Gebi dengan rambut yang terurai dan kontak lensa baru membuat aura cantiknya lebih terpancar. Ia langsung mendekati meja Andre dan bertanya


"Kak Andre! Gebi boleh duduk di sini nggak? Soalnya meja lain pada penuh semua"


Andre melirik sekeliling lalu meng-iya-kan. Gadis itupun meletakkan makanannya di atas meja lalu duduk di depan Andre. Untuk menjaga image ia harus makan dengan pelan dan elegan dengan prasangka Andre akan memperhatikan dirinya.


Di sisi lain Andre hanya sibuk fokus pada hp-nya sambil makan. Ia memeriksa ruang chat kosong dengan nomor kontak bernama 'Alora' dan sibuk membatin


"Kami pacaran tapi room chat kosong! Apa gua mulai serakah? Awalnya gua bahkan gak peduli yang beginian, lalu kenapa kadang-kadang gua degdekan pas Alora nyentuh gua ya? Gua pasti udah gila, fix ini karena mau ujian masuk universitas aja, gua kadang-kadang jadi gugup. Fix ini karna ujian, seharusnya gua juga ikut belajar bareng Al"


"Kak Andre?" Panggil gadis yang duduk di depannya itu.


Andre sontak tersadar dari lamunannya. Lalu mengarahkan bola matanya pada gadis itu.


"Kak Andre belum jawab pertanyaan Gebi hari itu!"


"Loe nanya apa emang?"


"Gebi cantik nggak tanpa kacamata?"


"Sebelum gua jawab gua mau nanya, kenapa loe nanya itu sama gua?"


"Soalnya kak Andre ganteng, jadi Gebi pengen tau jawaban orang ganteng" gadis itu menjawab dengan kedua pipi memerah tersipu.


"Jadi menurut kak Andre gimana?" Sambungnya.


"Gua jujur aja ya karena ini menurut pendapat gua, Make up loe terlalu tebal, dan yang paling penting loe kalah cantik dari Alora" ucap pemuda itu lalu bangkit dari kursinya karena telah menyelesaikan makan siangnya lalu meninggalkan gadis itu yang tampak shock dengan jawaban Andre.


"Apa? Make up gua tebal? Gua kalah dari Alora? Gua bahkan cuma makek foundation tebal dari mana?" Gerutu Gebi yang sangat kesal sembari menggerutu gemas sekaligus marah.


"Alora pake pelet apa sih?"


...


Di sisi lain, Alora yang berkedok belajar di perpustakaan bukannya belajar malah melamun. Satu-satunya hal yang tidak disukai gadis itu adalah belajar, walau otaknya cerdas sekali belajar langsung bisa memahami materi. Yang terjadi malah Ia berpikir keras bagaimana cara mengetahui minat Beni pada kuliah. Ia tidak bisa bertanya langsung karena masih segar pertengkaran malam itu di ingatannya.


Alora akhirnya memutuskan mengganggu rekan belajarnya, siapa lagi kalau bukan Lia yang sangat setia itu. Gadis cantik itu sangat fokus pada buku yang dibacanya. Namun datanglah si sahabat yang mulai mengecoh fokusnya dengan mulai merengek di telinga bestie-nya itu.


"Lia bantuin gua dong!" Ucap Alora memelas.


"Apaan?" Jawab Lia yqng masih mencoba fokus pada bukunya.


"Loe coba hubungin Beni, ajak dia belajar bareng besok"


"Apa? Gila loe? Gak ah gua gak mau. Coba minta yang lain aja pasti gua turutin asal jangan itu. Jujur kalo belajar dia memang nggak seburuk itu, tapi tempramennya itu gua gak bisa" Lia menggeleng pelan di saat terakhir kalimatnya.


"Tapi gua harus buat dia kuliah, pertama gua harus tau dulu dia punya minat apa enggak dan kalau ada minatnya di bidang apa, gua udah janji sama Om Herman" Alora sudah terlihat lelah bahkan sebelum mencoba.


"Untuk apa loe mikirin kuliah orang lain? Kalo loe sendiri nggak mau kuliah!"


"Loe tau sendiri gua malas belajar, sebelum ujian masuk gua harus belajar, setelah masuk dan lulus pun gua harus belajar lebih banyak lagi, belum lagi nanti akan ada ujian lagi dan lebih berat lagi"


"Jangan pesimis gitu dong! Otak loe pinter gitu di sia-siain"


"Dan loe yang paling tau sejak awal gua nggak punya tujuan hidup, jadi kuliah nggak ada artinya untuk orang-orang kayak gua"


"Tujuan hidup ya? Sebenarnya nggak semua orang punya tujuan yang pasti, karena nggak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi, kuliah memang bukan standar yang harus ada di kehidupan tapi dia merupakan bekal dari menuju pertempuran dunia kehidupan sebenarnya"


"Loe mau kuliah?"


"Bukan, bantuin cari tau tentang Beni"


"Okey gua bakalan bantuin loe tapi syaratnya loe harus mau kuliah! Gua gak mau lihat loe jadi pegawai Kafe seumur hidup loe, gua akan bantu biar loe dapat beasiswa"


"Jadi, kalo mau kuliah gua bantuin" sambung Lia lalu kembali fokus pada bukunya.


Alora tampak berpikir serius, sampai tak berapa lama Andre tiba lalu ikut bergabung dengan mereka. Kelas mereka saat ini adalah jam bebas yang diberikan wali kelas mereka bagi siswa kelas 12 IPS 1 untuk belajar mandiri.


Setelah memilih buku-buku Andre menduduki bangku di depan Alora. Ia sedikit memajukan kepalanya memastika Alora membaca atau melamun. Mendapati Alora tidak bergeming akhirnya Andre mengetuk pelan meja di sisi buku yang Alora baca agar gadis itu tersadar.


"Beni?" Ucap Alora tanpa sadar lalu mendapati Andre yang memasang raut curiga duduk di depannya.


"Apa? Beni? Loe mikirin cowo lain?" Pertanyaan realistis dari seorang pacar.


"Nggak kok, gua nggak mikirin dia, gua cuman lagi oleng aja"


"Serius loe?"


"Eh ini perpus loh! Jangan berisik, nanti yang lain pada ke ganggu malah manggil penjaga perpus buat datang nanti"


Andre yang kesal namun harus menahan kesalnya karena berada tempat yang membuatnya harus bungkam dulu.


Saatnya gantian Andre yang tampak melamun memikirkan cara mengetahui kebenaran Alora dan Beni.


Sepulang sekolah, Andre menarik pelan tangan Alora setelah mengambil tasnya untuk mengikutinya ke tempat yang agak sepi.


"Loe harus jawab gua, kenapa tadi mikirin Beni?" Tanya Andre dengan wajah cemberut yang terlihat menggemaskan.


Alora sedikit tersenyum melihat wajah Andre lalu menjawab


"Gua punya misi dari om Herman!"


"Misi apaan?"


"Gua nggak bisa kasih tau loe dulu"


"Loe yakin cuman misi?" Tanya si pacar yang curiga.


Alora mengangguk dengan wajah datarnya namun terlihat agak imut hari ini.


"Loe nggak ada hubungan kan sama si pcycopath itu?" Andre tidak bisa menahan rasa penasaran sekaligus kekhawatirannya.


"Loe nggak percaya sama gua? Gini-gini gua setia!" Sahut Alora membela diri.


"Yaudah kalo gitu buktiin!"


"Gimana caranya?"


"Besok kita jalan ke taman sambil quality time berdua dan loe nggak boleh nolak titik!" Tegas Andre masih dengan wajah merajuknya lalu melangkahkan kakinya menuju tempat parkir.


Gadis yang menjadi sasaran oknum tampan itu mengangkat kedua ujung bibirnya tersenyum. Sikap dan tingkah Andre sangat menggemaskan layaknya seorang pacar yang bertingkah enggan tapi mau.


.


.


.


tbc