My Secret Alora

My Secret Alora
Under The Rain


Alora mengeluarkan map note dari tasnya, lalu membuka bukunya dan sibuk membaca. Gadis itu walau sebenarnya sangat malas dan mager tapi ia harus tetap belajar untuk kuis. Ia tidak ingin menyia-nyiakan beasiswa yang ia dapatkan.


Tak lama, seseorang mendekati mejanya lalu memukul keras meja Alora dengan tujuan untuk mengejutkan gadis itu. Namun sayangnya, Alora yang tahan banting itu sama sekali tidak terkejut seolah ia sudah menduga dan punya firasat saat orang itu mendekat ke arahnya. Transisi bola mata yang tadinya menatap ke bawah, terlihat menakutkan saat gadis itu mengarahkan manik hitam itu ke atas mendekati kelopak matanya.


"Alora? Ternyata loe beneran Alora yang itu?" Senyum seringai dan sorot mata tajam terpancar dari wajah seorang pemuda yang terlihat tidak asing bagi gadis itu.


"Mari kita lihat! Make up? No! Outfit nya big No! Tampilan? Exactly No!" Pemuda itu mencoba mengkritik penampilan Alora.


Alora hanya menatap pemuda itu dengan sorot tajam yang tidak lepas dari pandangannya. Bola mata berair itu menyatakan seolah menoreh sebuah misteri di baliknya.


"Kayaknya loe masih miskin!" pemuda itu mengangguk-angguk lalu melanjutkan kalimatnya.


"Gimana? Ada cowo yang loe deketin kali ini? Yang bisa loe porotin duitnya? Ha ha ha" pemuda itu tertawa terbahak-bahak dengan niat terselubung.


Keysha yang baru masuk ke kelas itu ikut menaruh rasa penasaran bersama beberapa mahasiswa lain yang sudah menyaksikan pertunjukan itu dari awal. Tak terkecuali Beni yang hanya menatap pemuda itu dengan tatapan psyconya.


"Kenapa loe diam aja?" Pemuda itu kembali memasang senyum menyebalkan.


Alora menghela berat nafasnya lalu menguap. "Udah semua? Kalo masih ada lagi lanjutin aja! Biar gua jawab sekalian!"


"Sombong loe? Cewe miskin kayak loe yang cuman jadi preman SMP sombong?"


"Denger ya pak!" Alora menarik nafas panjang hingga membuat semua orang menunggu jawaban darinya.


"Terrserah!" Cetos Alora dengan bola mata melebar, lalu melanjutkan katanya "tuh bu Rini udah di depan kelas mending loe siap-siap belajar sana!".


Pemuda itu terlihat kesal dengan terpaksa kembali ke bangkunya.


Di sisi lain Beni masih saja menatap pemuda itu dan sangat penasaran apa yang terjadi di antara mereka. Hingga akhirnya ia menemukan bahwa pemuda itu bernama Steve saat absensi yang dilakukan oleh bu Rini.


...


Kelas berakhir, namun Steve masih belum puas selain itu ia juga kesal dengan jawaban Alora yang terdengar sombong baginya.


Namun, si pemantau sudah ready untuk bertindak. Beni langsung duduk di sisi Alora yang masih membereskan alat tulisnya, saat ia melihat Steve si pemuda dengan alis agak tebal namun manis dan tinggi itu ingin mendekati Alora.


"Mau pulang bareng gua?" Tanya Beni dengan wajah datar itu.


"Nggak! Makasih" sahut Alora dengan wajah datar juga lalu bangkit dari kursinya.


Beni berhasil mencegah Steve melakukan tindakan konyol lagi pada Alora.


"Loe nunggu dia? (Andre)" tanya Beni sambil mengekor di belakang Alora.


Alora berhenti sebentar dan langkah Beni juga ikut terhenti.


"Harus banget gua jawab pertanyaan loe?" Alora tampak malas lalu melanjutkan langkahnya ke perpustakaan untuk mencari referensi makalah.


Sesampainya di perpustakaan, Alora menyimpan tas di tempat penyimpanan tas dan langsung masuk menuju rak buku untuk mencari apa yang ia butuhkan. Sampai saat ini si psyco Beni masih mengekor dengan memilih alasan yang sama dengan Alora saat di tanya.


Saat setumpuk buku di rangkulnya ke meja pengurus perpustakaan untuk di pinjam, ia melihat Andre yang sedang sibuk bersama sekelompok remaja lainnya. Dengan 3 orang gadis dan dua pemuda lain. Tampaknya mereka sedang bekerja kelompok karena Ziva juga berada di sana.


"Tuh cowo loe! Kayaknya dia seneng banget tuh!" Ucap Beni yang melewati Alora lalu memproses buku-buku yang ia bawa untuk di pinjam.


Alora juga memproses peminjaman buku lalu bergegas keluar dari perpustakaan. Tampak Alora menghela nafas berat saat mengambil tasnya dan memasukkan buku-buku itu dalam tasnya. Beni hanya melirik sembari melanjutkan apa yang ia kerjakan.


Begitu keluar gedung ternyata hujan deras, Alora kembali menghela nafas berat. Beni kembali datang dan berdiri di samping Alora.


"Loe nggak mau bareng gua?" Beni kembali menawarkan.


Alora tampak seperti sedang merenung. "Ben, Maksud loe apa yang hari itu?"


"Yang loe bilang panggilan nama atau panggilan sayang... itu maksud loe apa?"


Beni sedikit menaikkan ujung bibirnya karena senang melihat Alora terhasut perkataannya.


"Panggilan sayang berarti dia ingin semua orang tau bahwa dia punya pacar, memanggil pacar dengan nama di depan orang lain bisa berarti dia tidak ingin orang lain tau kalo dia punya pacar" jelas Beni dengan tangan di kedua sakunya.


"Kalo nggak manggil apa-apa? Apa artinya?" Alora menatap Beni menunggu jawaban. Beni menikmati tatapan dari Alora selama beberapa detik menelusuri bola mata kecoklatan itu.


"Tanyain pacar loe sana! Mana gua tau!" Pungkas Beni lalu mengalihkan pandangannya.


Tentu dahi Alora mengkerut karena kesal, pemuda ini tidak bisa diajak serius. Ia hanya menatap tetesan air dari langit yang berkumpul di tanah. 


"Nggak pulang loe?" Beni kembali bertanya.


"Loe nggak lihat? Hujan bro!" Alora menjawab dengan kesal.


"Makanya pulang bareng gua naik mobil!" Beni agak memaksakan kalimatnya. "Trus loe mau nungguin pacar loe sambil buang-buang waktu di sini?"


Gadis itu mengusap rambut panjangnya dari dahi ke belakang untuk meredam kesalnya.


"Trus Steve belagu itu bakalan lihat loe nempel sama Andre dan ngatain loe lagi!" Kata Beni yang terbawa emosi.


"Apa? Nempel sama Andre? Dia itu pacar gua! Loe yang dari tadi ngapain ikutin gua? Kalo mau pulang, sana pulang!" Alora semakin kesal dan tidak bisa menahan diri.


"Ribet banget hidup loe!" Ucap Alora lalu melangkahkan kakinya di bawah hujan itu menuju bangunan universitas lainnya.


Beni menghela nafas berat melihat kelakuan gadis konyol itu, bagaimanapun Alora menerobos hujan karena tidak tahan dengan perkataan darinya. Beni melepas jaketnya lalu menyusul Alora. Jaket itu digunakan sebagai payung untuk menutupi kepala Alora agar gadis itu tidak jatuh sakit. Namun, kepalanya sendiri basah, Beni hanya mementingkan Alora entah apa yang ada di pikirannya.


Alora menarik lengan Beni agar juga berada di bawah jaket oversize itu. Bola mata Beni membulat saat gadis itu menariknya semakin dekat.


"Kenapa? Loe merasa bersalah? Sampe nyusulin gua dalam hujan begini?" Tanya Alora.


"Nggak!" Sahut Beni.


Bola mata Alora memutar lalu berpikir "apa yang bisa diharapin dari pemuda yang satu ini".


"Pinjamin gua jawaban tugas besok! Gua nggak nyatat materinya. Loe kan bisa kuliah berkat gua, setidaknya pinjamin gua yang begituan sebagai ucapan terima kasih" Beni memang sesuatu, otaknya mengarah ke hal yang tidak bisa ditebak.


"Gua tuh harus kuliah gara-gara loe! Loe nggak tau kan sebenarnya gua nggak mau kuliah? Gua tuh.. cu.." kata Alora dihentikan Beni.


"Gua tau! Loe kuliah karena rasa bersalah  atas kebaikan bokap gua, dan hutang budi yang membuat loe nggak bisa menolak kebaikan orang lain" sahut Beni memperdalam menatap Alora yang langkahnya terhenti di bawah hujan itu.


"Loe tau itu?" Alora terlihat tidak percaya apa yang ia dengar.


"Gua tau semuanya tentang loe! Jadi jangan macam-macam!".


Di sisi lain, Andre sempat melihat Alora di perpustakaan, jadi pemuda itu memutuskan untuk pulang lebih awal. Tapi siapa tahu, ia melihat pacarnya yang berduaan bersama rivalnya di bawah hujan pula. Pemuda itu berlari menerobos hujan, karena tidak rela gadisnya bersama seorang psyco.


Andre langsung mengisi ruang kecil di tengah kedua oknum lainnya itu, lalu membuka payung yang sedari tadi digenggamnya. Namun Andre tidak bisa menyembunyikan amarahnya, pemuda itu langsung melempar sorot tajam ke arah Beni lalu merangkul gadisnya di bawah payung itu.


"Gua lebih tau tentang loe dibandingkan pacar imitasi loe ini!"


.


.


.


Tbc