My Secret Alora

My Secret Alora
Ketiduran


Andi tampak khawatir bahkan setelah mengantar Lia pulang. Terdengar suara pintu terbuka ternyata Andre sudah pulang mendapati abangnya yang duduk manis di kursi belajar miliknya menghadap jendela di kamar itu.


Andre menghela berat lalu berkata,


"Loe ngapain di kamar gua? Di saat pemiliknya nggak ada lagi!"


"Pelit banget sih loe! Cuman numpang! Gua duduk aja lagian nggak ngapa-ngapain!" Sahut Andi masih dengan posisi yang sama.


"Kamar loe sendiri buat apa? Tiap hari loe ke sini, sampe-sampe loe nginap di kamar gua hampir tiap malam!" Andre yang menatap tajam punggung abangnya itu.


"Loe tau sendiri kamar gua ada pengawasnya! Mami selalu keluar masuk kamar gua jadinya nggak aman. Kamar loe yang paling aman ngapa-ngapain!" Sahut Andi menoleh Andre yang sedang mengganti pakaiannya sebentar.


"Siapa suruh jadi anak kesayangan?" Andre mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi sekaligus menghindari jawaban yang tidak ingin didengarnya.


Usai mandi Andre masih saja menemukan Andi dengan posisi yang sama.


"Lagi galau loe?" Tanya Andre sembari membuka lemarinya.


"Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi sama Lia ya?" Kata Andi pelan.


"Gua juga nggak tau! Tapi kayaknya ada hubungannya sama Steve! Tadi gua denger loe yang anterin Lia?"


"Iya! Tapi kenapa gua sedih ya? Melihat Lia sesakit itu kenapa gua sedih?" Tanya Andi pada adiknya yang baru keluar dari kamar mandi untuk mengganti baju.


"Kemungkinan cinta Lia terbalas tuh kayaknya!" Sahut Andre.


"Huh? Tapi gua punya pacar!" Sahut Andi.


"Loe punya pacar? Siapa? Kok nggak pernah ngasih tau gua?"


"Tadi gua bareng dia ke taman, tapi tiba-tiba... OMG gua lupain dia pas panik nenangin Lia gua ninggalin dia di taman dan malah nganter Lia!" Mata Andi membulat dan mulutnya terbuka lebar.


"Mampus gua!" Andi berlari ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


...


Di rumah lain, Lia terlihat tidur tenang di ranjangnya. Dan Alora yang duduk di kasur itu di samping Lia sambil terus menatap bestienya. Sebuah helaan berat keluar begitu saja.


"Semua ini salah gua! Harusnya waktu itu gua aja yang pergi ke sana bukan loe! Kenapa hidup gua selalu berakhir begini? Kenapa waktu itu gua bisa sebodoh itu? Maafin gua Lia!" Beberapa tetes sudah mengalir, namun dengan cepat Alora menyekanya karena tidak ingin terlihat oleh siapapun.


"Gua pasti udah gila! Kenapa gua harus nangis di depan mereka tadi? Apa gunanya?" Sebuah helaan berat lainnya menyusul.


***


Seorang gadis dengan kebiasaan buruknya yang tertidur di mana saja akibat kelelahan, siapa lagi kalau bukan Alora. Contohnya hari ini, gadis yang rambutnya terurai menutupi wajahnya tertidur dengan tenang di sepanjang kelas tanpa ketauhan dosen. Alora sengaja memilih tempat duduk paling belakang agar dosen tidak me-notice-nya. Belakangan ini gadis itu merangkap shif hingga tengah malam yang akhirnya tidak pulang ke rumah, namun menginap di ruang staf Kafe.


Kelas itu usai, semua satu persatu meninggalkan kelas namun Alora masih tidur di tempatnya. Beni hanya melempar lirikan pada Alora sebentar lalu bangkit dari kursinya dan keluar dari kelas itu. Namun, Beni kembali setelah beberapa detik menuju meja Alora. Sejak tadi ada hal yang mengganggunya, pemuda itu menarik tirai jendela agar tertutup hingga tidak menyilaukan Alora. Setelah menyelesaikan tugasnya pemuda itu langsung keluar lagi.


Namun, siapa sangka Alora tidak bangun-bangun. Seseorang menepuk-tepuk bahu gadis itu hingga ia terbangun. Anehnya ia mendapati orang-orang asing di kelas itu dan dosen di kelas itu ketika membuka matanya.


"Ini kelas apa?" Tanya Alora canggung.


"Akuntansi manajemen!" Sahut wanita yang menepuk bahunya tadi.


"Huh? Sudah ganti matkul rupanya? Mohon maaf pak! Tadi saya ketiduran!" Alora membungkukkan sedikit badannya meminta maaf lalu keluar dari kelas itu sambil menunduk karena merasa malu.


...


Di sisi lain selama Alora tertudur, ada oknum lain yang menjalankan misinya untuk merebut hati Andre. Ziva terus mengekor kemana saja Andre melangkah.


"Ke kantin yok!" Ajak Ziva dengan senyum merekah di wajahnya.


"Yaudah gua ikut!" Sahut gadis kaya itu.


...


Alora yang masih membekas rasa malu dibenaknya, sedang menggerutu sendirian karena kesal.


"Kok bisa gua nggak bangun! Memang Lia yang terbaik! Cuman dia yang bangunin gua dan selalu ada kapanpun!" Batin Alora.


Tiba saja langkah gadis itu diiringi oleh langkah kaki jenjang lainnya.


"Eh sumber penghasilan gua!" Steve dengan mulut semberononya.


"Masalah lagi nih!" Gumam Alora yang terdengar malas.


"Gua udah terima tranferan dari loe! Tapi masih kurang banyak!"


"Gimana sayang? Masih semangatkan cari duitnya? Mau gua nyemangatin? Atau mau sentuhan dari gua biar loe makin fresh biar nggak kayak orang bangun tidur!" Steve masih mengoceh.


"Bukan urusan loe!" Sahut Alora malas lalu menghela berat.


"Harusnya loe bersyukur karena gua baik!" Steve tidak bisa menghentikan ocehannya dan terus mengimbangi langkah Alora walau sudah dipercepat.


"Siapa lagi yang sebaik gua mau minjamin uang sebanyak itu buat nyokap mantan dan gua nggak minta bunga sepeserpun dalam pembayarannya!" Pemuda itu berlagak bangga pada dirinya sendiri.


"Bukan baik, tapi kebodohan!" Sahut Alora.


"Huh?"


"Orang waras mana yang mau minjamin sebanyak itu ke sembarang orang tanpa jaminan atau surat apapun! Loe harusnya bersyukur gua mau bayar!" Alora melepas kesalnya.


"Oh jadi loe bilang ini kebodohan?"


"Loe mau tau kenapa gua mau bayarin ke elloe? Gua tau nyokap gua nggak berhutang sebanyak itu, dan gua tetap diam dah bahkan nggak nuntut loe atas penipuan! Tapi... gua kasihan sama loe!"


"Apa?" Alis pemuda itu tertaut dan terdengar marah.


"Gua kasihan siapa tau loe lagi butuh duit, makanya menipu dan banyak ngomong!" Alora terus melanjutkan langkahnya dengan cepat.


Wajah Steve agak memerah karena menahan amarahnya. Ia terus membuntuti Alora dengan tatap tajam itu. Pemuda itu kesulitan menahan emosi, saat itu ia mengangkat tangannya ke arah Alora lalu meraih tangan gadis itu. Tarikan kuat itu menghentikan langkah Alora sekaligus membuat langkah Alora tertarik ke arah lain akibat seretan dari Steve.


"Lepasin tangan gua!" Alora berusaha melepaskan diri.


"Loe mau tau kenapa loe dibenci pas SMP?" Teriakan Alora berhasil mengegntikan langkah pemuda itu namun belum melepas genggaman kuat itu.


"Apa maksud loe?" Bentak Steve ke wajah Alora.


"Karna loe b*d*h! Mereka yang manfaatin kekayaan loe! Tapi loe minta ganti rugi ke gua! Loe cuman bank berjalan, tanpa uang loe sama sekali nggak berharga!" Ketika emosi Alora dipancing maka keluarlah kata kasar.


Steve mengangkat tangan dan mengayunkan ke arah Alora. Namun ayunan tangan itu terhenti.


"Jangan ganggu pacar gua!"


.


.


.


Tbc