
Lia tampak lesu duduk di bangkunya sendirian. Selama jam pelajaran berlalu ia hanya duduk dan mencoba fokus pada apa yang dijelaskan guru.
Di sisi lain Andre juga merasa getir, rasanya ia tidak sabar untuk menjenguk Alora dan mengetahui keadaannya.
Saat suara bel terdengar, pemuda itu langsung berpindah tempat dan duduk di bangku Alora.
"Lia!" Panggil Andre.
"Kenapa loe?" Sahut Lia sembari membereskan buku-bukunya.
"Alora gimana kabarnya?" Tanya Andre namun mecoba tidak menatap Lia yang sudah meliriknya.
"Loe tau dari mana? Oya kak Andi kan abang loe" Lia mendekatkan wajahnya ke arah Andre dan melanjutkan katanya "Kayaknya Alora mencoba bunuh diri deh!"
"Maksud loe apa?" Andre tampak panik.
"Akhir-akhir ini gua sering denger dia bilang mau pergi, tapi pergi kemana? Dan di buku diary-nya dia menulis "ingin mengakhiri" dan halaman terakhirnya ada tanggal kemaren, 23 agustus dengan kata-kata "di jalan yang sama" aneh kan?"
"Iya aneh, tapi gua nggak ngerti kenapa?"
"Dan yang paling parah, ternyata 23 agustus hari kematian orangtuanya yang diyakini hari ulangtahun nya, dan ingatannya hilang sejak umur tujuh tahun, ribet kan?"
"Loe lagi nulis cerpen atau novel atau drama genre romantis loe udah jadi thriller? Fiksinya membangongkan!" Oceh Andre yang memilih tidak ingin mempercayai narasi Lia.
"Terserah kalo nggak percaya"
"Kondisi Alora gimana? Jawab gua dulu!"
"Dia udah lebih mendingan dari pada kemaren kok!"
"Syukurlah kalo gitu"
...
Jam istirahat, siswa yang jarang berkeliaran malah berkeliling satu sekolah untuk menagih rasa keingintahuan-nya. Iya benar, manusia bernama Beni. Ia mencari Alora dengan alasan ingin membalas dendam. Pemuda itu masih tidak terima karena merasa dirinya dicampakkan Alora begitu saja.
Namun percuma saja, Beni tidak mengetahui bahwa Alora berada di rumah sakit. Di sela pencarian, dia melihat Lia yang berjalan lesu baru saja dari kantin.
Serasa di culik, Beni menggenggam pergelangan tangan Lia dan menariknya agar gadis itu berdiri di depannya.
"Aw aw aw" desis Lia sembari melepaskan tangan Beni.
"Loe apaan sih?" Lia kesal sembari meniup-tiup tangannya yan sudah memerah itu.
"Alora mana?"
"Gak tau! Gak akan gua kasih tau! Jadi ini alasan tangan Lora sering memar merah, loe nggak ada sisi kemanusiaan atau gimana sih? Cewe manapun juga bakalan marah kalo di giniin, kok Lora sesabar itu sama loe" sisi cerewet Lia terpancing keluar.
Beni tampak merenung mendengar kalimat terakhir Lia.
"Kenapa loe cari Lora?" Tanya Lia yang masih kesal.
Namun Beni malah pergi begitu saja. Pemuda itu merengut diam lalu kembali ke kelasnya. Begitupun dengan Lia yang kembali ke kelasnya sembari berdecak kesal.
Di Kafe
Beni tampak masih menunggu Alora datang sembari duduk di salah satu meja untuk pelanggan. Indra yang baru saja keluar dari ruangannya lalu duduk di depan Beni.
"Hari ini sepi ya? Alora nggak datang pelanggan juga ikut absen" ucap Indra.
"Emang Alora ke mana?" Sahut Beni.
"Loe nggak tau? Kalian kan satu sekolah!"
"Dia kenapa?"
"Kami beda kelas!" Ucap Beni lalu melepas celemeknya. "Gua izin hari ini" lalu pergi setelah katanya.
Setelah keluar mengambil mobilnya di tempat parkir,
"Rumah sakit mana?" Batinnya.
Pemuda itu mengambil hpnya lalu hanya menatap layar hp karena bingung harus bertanya pada siapa, tidak mungkin bertanya langsung pada Alora, kan ceritanya lagi marahan. Lia pasti tidak mau menjawabnya karena sikapnya tadi di sekolah. Tapi tidak mungkin juga bertanya pada Andre.
...
Di sisi lain, Andre bersama Lia sudah sampai di rumah sakit, saat ini mereka berada tepat di depan pintu ruang inap Alora. Lia membuka pintu, namun Andre tampak ragu untuk masuk. Di dalam sudah ada tante Ina yang menemani Alora.
"Assalamualaikum tante!" Sapa Lia.
"Waalaikumsalam, pas banget Lia udah sampe, tante minta tolong jagain Lora bentar ya, tante mau jemput nenek dulu"
"Oiya boleh tante, hati-hati ya tan"
Ina mengambil tasnya lalu keluar dan mendapati Andre yang masih belum masuk.
"Kamu siapa? Temannya Lora? Masuk aja yaa, saya lagi buru-buru" ucap Ina lalu pergi setelah melihat Andre mengangguk meng-iya-kan.
Andre akhirnya memasuki ruangan itu mendapati Alora yang terbaring dan tertidur.
"Loe di sini sebentar ya, gua mau cari makanan dulu buat kita" ucap Lia lalu pergi keluar.
Andre mendekati ranjang Alora lalu duduk di sisi ranjang itu sambil menatapnya sendu.
Ia mencoba menyentuh tangan Alora yang diam di atas kasur itu tapi kemudian menghentikan niatnya takut Alora terbangun. Tak berapa lama di sana menemani Alora, tiba saja pintu kamar kembali terbuka.
Pemuda tampan lainnya datang, siapa lagi kalau bukan Beni yang berhasil mendapatkan informasi tentang Alora melalui koneksi ribetnya. Kedua pemuda itu saling menatap tajam. Beni mendekati sisi ranjang Alora yang lainnya jadi otomatis gadis itu ditengah-tengah.
Seakan terjadi perang laser dalam sunyi itu, sehingga mereka tidak sadar Alora sudah membuka matanya lalu kembali merem dan pura-pura tidur.
"Kok dua manusia ini bisa di sini sih? Apa kerjaannya Lia ya?" Batin Alora.
Kedua pemuda itu masih dengan posisi yang sama saling menatap.
"Duh gua kebelet lagi! Gimana nih, tante Ina ke mana sih?" gadis itu masih membatin sambil pura-pura tidur itu. Dia masih tidak bisa berjalan sendiri karena sebelah kakinya yang masih kebas dan sakit.
.
.
.
Tbc
Epilog
Di dalam mobil itu Beni masih memikirnya bagaimana cara agar mendapatkan alamat rumah sakit Alora. Dia tidak serajin itu untuk keliling mencari seluruh rumah sakit di kota itu.
Tiba-tiba dia terpikirkan untuk menggunakan koneksi ayahnya. Beni menelpon Herman lalu memberitahukan tentang kondisi Alora. Selanjutnya Herman menelpon nenek Alora. Dapatlah Alamatnya yang masuk lewat chat dari ayahnya itu. Setelah itu pemuda itu langsung menuju rumah sakit sembari memikirkan alasan yang tepat ia datang.
"Apa gua pura-pura jenguk aja?" Beni berbicara pada dirinya sendiri.
"Nggak mungkin, bakalan aneh kalo tiba-tiba gua ngejenguk dia"
"Atau gua datang buat nagih janji aja? gimana caranya gua harus buat dia kuliah bareng gua!"
"Nanti deh gua pikirin".