
Semua orang memasuki ruangan Andre dan Alora.
Andi langsung menghampiri adiknya itu, begitupun Lia langsung meraih tangan Alora dan diikuti tante Ina dan Beni yang masuk paling terakhir.
Andre kembali membuka matanya perlahan.
"Loe nggak apa kan?" Tanya Andi penuh harap.
"Loe nggak lihat gua tiduran di sini? Ngapain nanya hal yang udah pasti!" Sahut Andre lalu ter-batuk.
"Kenapa nggak langsung lari? Harusnya loe yang paling depan larinya!" Sahut Andi lagi mencoba mencairkan suasana tegang di ruang itu.
"Lora? Lora... Lora sadar!" Ucap Lia yang melihat pergerakan mata gadis yang terbaring itu terbuka perlahan.
"Loraaa.. Alhamdulillah loe akhirnya sadar juga" ucap Lia sembari merangkul tubuh kecil gadis itu.
Alora hanya membalas dengan tersenyum, bahkan setelah Lia melepas peluk itu.
"Tante! Lora boleh minta sesuatu nggak?" Suara yang terdengar serak itu melontarkan kalimat pertamanya secara perlahan.
"Boleh dong! Lora mau minta apapun tante kabulkan" sahut wanita sambil mendekati Alora.
"Tante... tolong minta ruangan lain buat Lora ya!" Alora bahkan tidak menatap Andre, di mana saat ini semua mata tertuju pada nya.
"Okey, kamu tunggu sini ya!" Sahut tante Ina lalu keluar untuk mendapatkan ruangan lain.
Andre masih menatap Alora yang langsung terdiam setelah kalimat terakhirnya. Andi juga ikut keluar untuk mengurus keperluan administrasi. Sementara Beni hanya duduk di atas sofa di sisi dinding untuk mengamati. Dan Lia masih saja berisik seperti biasa, dia mengeluh dan menceritakan betapa khawatir dirinya saat semuanya terjadi.
Tidak seberapa lama, dua perawat masuk untuk memindahkan Alora ke ruangan lain. Andre hanya melirik tanpa sepatah katapun. Pemuda ini masih bingung dengan apa yang terjadi.
Dan bagi si pengamat yang melihat semuanya, dia tahu betul bahwa Andre juga menyimpan rasa yang dalam, di mana tatap sendu itu membuktikan. Namun, masih tertutupi ego tanpa sadar ia mungkin akan kehilangan semuanya dalam sekejap. Beni akhirnya bangkit dari sofa itu untuk ikut ke ruang Alora dan tentunya dengan wajah dingin seolah tidak peduli apa-apa.
***
Keesokan paginya, Alora membuka mata lalu melihat sekeliling tidak ada satupun orang di sisinya. Neneknya sedang keluar untuk membeli makanan, sedangkan tante Ina akan datang setelah mengurus suaminya di rumah.
Gadis itu menarik nafas panjang lalu kembali menutup matanya dan menghembuskan nafasnya. Pernafasannya mulai membaik, sepertinya ia sudah bisa melepas selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
Suara pintu terbuka membuat Alora menoleh dan mendapati sesosok wanita dan seorang pemuda di belakangnya. Orang itu adalah Jeni bersama anak sulungnya. Gadis itu tidak tahu bagaimana harus bereaksi lalu memutuskan untuk bangkit dan duduk.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Jeni setelah berdiri di depan Alora.
"Alora baik tante!" Sahut Alora canggung.
Tiba saja, Jeni menyentuh bahu gadis itu dengan kedua tangannya dan berkata.
"Lagi sakit begini kamu masih jawab baik? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kalo sakit bilang sakit, jangan hidup sambil berpura-pura" Jeni tampak mengkhawatirkan gadis itu.
Alora hanya terdian lalu menundukkan wajahnya. Namun Jeni menyentuh bagian bawah dagu Alira lalu membuat gadis itu menatap dirinya lalu melepasnya.
"Kamu baik banget! Makasih ya udah nolongin anak saya!" Kata Jeni kali ini terdengar lembut lalu mengelus rambut gadis itu.
"Iya tante" sahut Alora masih terlihat canggung.
Wanita paruh baya itu memeluk Alora, dalam dekapannya Alora merasa kehadiran seorang ibu sangat berpengaruh besar untuk kehidupan. Setelah beberapa lama akhirnya Jeni meninggalkan ruangan Alora, tinggallah Andi yang sedari tadi hanya menonton.
Andi pun mendekat lalu duduk di kursi sisi Alora. Baru hendak mengeluarkan kalimat pertamanya, Alora langsung memotong.
"Jangan berterimakasih lagi, semuanya impas!"
"Beda dong! Selamanya nggak akan impas, yang kamu selamatkan adalah nyawa" balas Andi.
"Kak.. tolong jawab jujur.." kata Alora, namun kini giliran Andi yang memotong kalimat Alora, karena ia tahu ke mana arah pertanyaan Alora.
"Jawabannya iya! Yang kamu pikirkan itu benar!" Sahut Andi, namun gadis itu hanya terdiam.
"Ibumu meninggal karena menolong Andre dalam kebakaran 12 tahun lalu, dan selama ini ada dua orang anak yang merasa sedih tiap tanggal kejadian itu tiba"
"Anak yang kehilangan orang tuanya dan anak yang merayakan ultahnya dalam trauma. Hidup kalian menjadi lebih sulit akibat dari kejadian hari itu"
"Bukan hanya itu, aku rasa takdir mempertemukan kalian untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing" kata Andi.
"Tapi kak.. aku nggak bisa lagi bersikap sama, bagaimanapun aku tetap marah, walau tau Andre juga nggak bersalah, ibu aku yang inisiatif menolong. Tapi..semua ingatan itu sekarang terbayang jelas, duka kehilangan itu memenuhi ruang di hati aku.. jadi.. "
Tidak bisa dipungkiri, karena baru mengingat semuanya, hatinya sangat tersayat. Seolah kejadian kemarin menghilangkan seluruh keinginannya untuk melanjutkan hidup. Mentalnya terguncang dan sangat ingin melampiaskan amarahnya.
...
Lia yang siap dengan setelan "cewe kue" saat ini sedang berada di dalam bus menuju rumah sakit. Seorang gadis setia yang menghabiskan akhir pekannya untuk bestie-nya.
Setibanya di delan rumah sakit, ia langsung turun dari bus lalu memasuki rumah sakit. Berjalan menyusuri lorong menuju ruang inap Alora, Lia mendapati seseorang yang menggetarkan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Andi, pemuda itu berpenampilan santai hari ini, namun tetap terlihat menawan hingga Lia kesulitan berkedip.
Pemuda itu berjalan sembari memainkan hp-nya, hingga tidak memperhatikan sekitar. Semakin dekat Lia kesulitan mengatur nafasnya, rasanya seluruh tubuhnya melemahnya dan jantung yang memompa seolah sehabis berlari marathon.
Namun pemuda itu hanya lewat begitu saja di depannya tanpa melihat Lia. Dengan rasa yang berpacu, fungsi kerja jantung masih tidak stabil akibat guncangan perasaannya. Sangat ingin Lia menyapa, namun sisi introvert-nya yang harus di salahkan. Tidak ada keberanian untuk menyapa, hingga pada akhirnya dia menyesalinya.
Kini mood-nya telah berubah dari yang tadinya senyum merekah di wajahnya, namun sekarang tampak murung dan berjalan lesu. Jatuh cinta tidak selamanya baik.
Lia memasuki ruangan Alora dengan lesu, lalu mendekati sahabatnya yang sedang makan itu. Sebenarnya Alora hanya mengaduk-aduk makanan tanpa selera dan melamun, ia bahkan tidak menyadari Lia sudah duduk di sisinya. Kedua gadis itu tampak murung dan larut dalam pikiran masing-masing.
Nenek bersama tante Ina kembali setelah membeli beberapa makanan dan cemilan.
"Lia kapan sampe-nya? Udah di sini aja?" Sapa tante Ina.
"Apa Lia? Di mana?" Alora yang baru tersadar dari lamunannya. Akhirnya ia menemukan Lia yang duduk di sisinya. Lia juga ikut terkejut saat mendengar sapaan dari wanita tinggi bernama Ina itu.
"Aah udah sampe dari tadi tan hehe" sahut Lia.
"Dari tadi?" Tanya Alora yang bingung.
"Iya, sejak loe melamun dari tadi" balas Lia.
"Kok nggak nyapa gua sih?"
"Yaa karna gua juga ikutan melamun xixi" senyum cerah Lia kembali saat melihat sahabatnya juga ikut tersenyum.
Tiba saja, terdengar suara pintu terbuka lagi. Seorang pria paruh baya masuk dan matanya hanya tertuju pada gadis yang duduk di ranjang itu. Pria itu langsung memeluk Alora, anak gadisnya itu.
"Ayah khawatir banget pas denger kamu korban kebakaran, kamu nggak apa-apa kan?" Sang Ayah yang sangat merindukan putrinya itu tampak sedih melihat putrinya yang terus-terusan menderita.
"Alora udah membaik kok, jangan khawatir pak!" Sahut Ina yang tidak mengenal lelaki itu.
"Tapi bapak siapa ya?" Pertanyaan yang Ina tahan sejak melihat lelaki itu masuk dan memeluk keponakannya.
"Saya Wisnu, ayah angkatnya Alora" sahut pria itu.
"Lora punya orangtua angkat juga mah?" Ina mengajukan pertanyaan pada nenek yang merupakan ibunya.
"Iya, masa itu..1 bulan setelah Alora amnesia, kakek jatuh sakit, karena banyak kehilangan uang kami juga kesulitan merawat Alora yang masih trauma dan selalu menanyakan orangtuanya, akhirnya kakek mencari orangtua angkat dan bisa hidup layak." Jelas nenek.
"Tapi.. kenapa harus begitu nek?" Tanya Alora yang ikut penasaran.
"Harta kakek semakin lama, semakin berkurang, hingga akhirnya kakek bangkrut. Kami ngga mau Alora kesulitan, dan kami menemukan Wisnu dan Anita yang sangat menyayangi Alora waktu itu" jawaban nenek terdengar sendu.
"Alora layaknya peri kecil bagi saya, malaikat kecil yang mewarnai hari saya. Saat itu usaha saya berjalan lancar, kami hidup dengan baik. Namun, roda tidak selalu di atas, saya bangkrut dan keluarga saya berantakan saat ini" Wisnu juga ikut menceritakan hidupnya.
"Namun, bagaimanapun Alora tetap anak saya" Wisnu mengalihkan pandangannya yang tadinya menatap nenek dan Ina, saat ini ia menatap anaknya.
"Lora, maafin ayah yaa! Ayah udah gagal jadi ayah yang baik" wisnu tampak menahan cairan bening yang membendubg untuk mengalir.
Alora langsung memeluk ayahnya, lalu memberikan jawaban "ayah nggak perlu minta maaf, Lora seneng ayah di sini, makasih banyak sudah memberikan kesempatan bagi Lora untuk merasakan sosok ayah di sisi Lora" cairan bening itu mengalir begitu saja.
Dibalik duka kehilangan yang sangat besar memenuhi di setiap denyut nadinya, sosok ayah yang hadir menghangatkan hatinya. Saat ia hampir lupa bahwa ada orangtua lain yang pernah mengisi kekosongan itu.
Namun, mampukah dia menerima kenyataan itu?
.
.
.
Tbc