My Secret Alora

My Secret Alora
Sisi Lain Seorang Beni


Seorang pemuda yang mondar-mandir di depan rumah sakit sambil menggigit jarinya. Tiba saja ia menerima panggilan yang membuat ponselnya berdering.


"Halo! Kenapa loe beneran nabrakin mereka? Kalo mereka mati beneran gimana?" Steve tampak sangat ketakutan.


"Loe tenang aja! Mereka masih hidup! Sopir truk ketiduran makanya nabrak mereka. Yang terpenting setidaknya Andre yang selamat gua nggak peduli tentang Alora." Sahutan yang terdengar dari balik ponsel itu.


...


Andre dan Alora dilarikan ke rumah sakit. Kabar menyebar begitu cepat saat ini keluarga dari mereka sudah berkumpul di rumah sakit itu karena khawatir. Lia yang baru dari Kampus datang belakangan, gadis itu berlari sangat khawatir. Tentu Lia mengajak Beni sebagai temannya karena bagaimanapun Beni bisa diandalkan cuma karakternya yang menyebalkan.


Akhirnya seorang dokter keluar dari UGD lalu menjelaskan kondisi pasien ke keluarga mereka.


"Keduanya mengalami luka-luka akibat benturan, tubuh mereka lebam karena terus terbentur akibat mobil berguling. Namun, kondisi Andre lebih parah, Alora hanya terluka di bagian tubuh, namun kepala Andre juga mengalami benturan kuat hingga belum dipastikan dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut." Jelas dokter lalu pergi.


Memang benar seperti yang dokter katakan, semoga orang menahan tangis kesedihan karena sekali lagi mereka melihat kedua anak ini terbaring menyedihkan.


"Tante! Jangan kasih tau nenek ya! Alora pasti akan bilang begitu." Ucap Lia pada Tante Ina.


Air mata Lia mengalir namun dengan segera di sekanya. Beni melirik Lia dengan tatap datar itu lalu merangkul bahu Lia dan menepuk pelan bahu gadis itu. Beni lebih hangat dari yang terlihat.


"Mama tenang aja! Aku akan selidiki semuanya! Dari awal memang ada yang nggak benar!" Ucap Andi menenangkan ibunya.


"Mamah gagal jadi ibu yang baik! Mama selalu maksain kehendak mama sama Andre! Tanpa tau anak mama menderita sendirian, Andre maafin mama yang udah lama biarin Andre sendirian" Jeni menyeka air matanya.


...


Beni keluar dari ruang inap Alora setelah dipindahkan namun gadis itu masih kunjung tidak sadarkan diri. Lia juga keluar dari ruang itu sebentar untuk menenangkan dirinya. Tanpa sengaja ia melihat Beni mengintip ke sebuah ruangan inap lainnya, tentu itu ruang inap ibunya Beni. Lalu tiba saja Beni reflek berlari dan bersembunyi saat seorang pria keluar dari ruangan itu.


Lia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Beni yang baru keluar dari persembunyian itu, namun langkah gadis itu terhenti.


"Kak Beni!" Sapaan itu terdengar dari seorang gadis dengan seragam SMA.


Beni melirik dengan malas dan hanya berdiri dengan wajah dinginnya.


"Kak Beni mau jengukin mama ya?" Tanya Fathia.


Namun Beni hanya diam saja tidak menanggapi. Lalu melangkah meninggalkan gadis itu.


"Sudah kuduga! Nggak mungkin Beni sehangat itu, tadi dia cuman kebetulan kasihan sama gua dan nolongin gua! Buktinya cewe itu nanya aja dia nggak peduli!" Batin Lia lalu gadis itu melangkah ke arah lain tujuannya.


***


Keesokan harinya Lia datang lagi ke rumah sakit menjenguk Alora, namun gadis itu tiba saja merasa terculik yang tadinya sedang berjalan di lorong itu namun, kini seseorang menarik tangannya ke sudut rumah sakit.


"Lia gimana kabar loe?"


"Lepasin tangan gua Steve! Loe ngapain di sini? Sebaiknya loe pergi sebelum gua teriak!" Lia masih berusaha menarik tangannya yang dilingkari jari Steve sangat kuat.


"Santai dong! Jangan buru-buru gua mau ngobrol bentar!" Steve menyeringai.


"Lepasin tangan gua!" Lia menaikkan suaranya, namun nafasnya mulai tidak teratur.


"Ayo kita senang-senang dulu! Nggak seru kalo loe langsung pergi!" Steve tidak membiarkan genggamannya longgar saat Lia semakin berusaha melepaskan.


"Loe ingat saat-saat itu? Hahah" Pemuda itu melempar tatap tajam.


Suara jepretan terdengar, Steve langsung melirik sumber suara.


"Gua punya bukti bagus! Penyiksaan? Penganiayaan? Atau bullying? Sekarang udah nggak jaman begituan!" Ucap Pemuda itu.


"Gua lagi konflik dikit sama pacar gua loe nggak usah ikut campur!" Steve mencari pengalihan.


"Lepasin Lia! Jangan loe kira gua bodoh! Oya gua juga udah nemuin bukti lain loe yang berusaha nabrak mobil adek gua sebelum ditabrak truk! Siapin mental loe ya!" Andi dengan sinis berkata demikian lalu meraih tangan Lia dan melepaskan tangan itu yang sudah longgar.


"Oiya satu lagi! 5 tahun lalu kalo nggak salah, yang itu juga akan terungkap! Doain aja ya!" Tatap sinis Andi terlihat menakutkan. Pemuda itu merangkul bahu Lia dan membawanya pergi.


"Lia nggak apa kan?" Tanya Andi setelah membuat Lia duduk di kursi tunggu rumah sakit.


"Kenapa loe nggak nelpon gua! Kan gua udah bilang kalo kondisi darurat telpon gua aja!"


Namun Lia hanya diam tanpa jawaban, tiba saja ia mendapati Beni yang baru tiba.


"Beni! Tolongin gua!" Panggil Lia.


Beni melirik intens, ia juga melirik Andi lalu bergumam di kejauhan.


"Kenapa minta tolong sama gua disaat kesempatan bersama cowo itu terbuka lebar! Dasar Lia kapan dia akan pintar?" Namun Beni tetap membantu Lia.


"Bawa gua ke ruang inap Alora, loe mau ke sana juga kan?" Ucap Lia yang tampak terengah-engah.


"Makasih kak Andi!" Kata terakhir Lia lalu pergi.


Andi hanya menatap sendu melihat bagaimana sikap Lia padanya berubah drastis.


Di sisi lain, Lia yang berhasil mendapat bantuan Beni masih dalam kondisi kritis.


"Ben! Cepetan bawa gua ke ruang Alora! Gua akan pingsan dalam waktu dekat jadi jika nggak mau repot cepetan!" Oceh Lia.


"Apaan sih loe? Aneh banget, ada orang mau pingsan ngomong sebanyak itu!" Sahut Beni.


Namun tepat setelah sahutan Beni, Lia benar-benar pingsan. "Ni cewe ngerepotin banget sih!" Beni berusaha mengangkat tapi agak sulit karena menahan Lia agar tidak jatuh ke lantai. Andi yang mengikuti di belakang langsung berlari untuk menolong kembali.


"Biar gua yang angkat dia!" Ucap Andi lalu menggendong Lia yang kurus itu dengan kedua tangannya.


"Nih orang kenapa lagi? Kalo suka ungkapin aja dan tinggalin pacar loe! Ribet banget!" Beni kembali bergumam saat langkah Andi sudah beberapa langkah di depannya.


...


Namun untuk pertama kalinya seseorang menarik tangan Beni dan anehnya pemuda itu tidak melawan dan mengikuti kemana orang itu membawanya. Keadaannya demikian tidak berlangsung lama.


"Lepasin gua!" Ucap Beni pelan, dan tentu saja genggaman itu langsung dilepas.


"Kak Beni! Mama pengen ketemu sama kakak, tolong temuin mama ya!" Ucah Fathia dengan seragam sekolahnya.


"Anak SMA kayak loe bukankah harusnya masih di sekolah jam segini?" Sahut Beni yang menyadari masih jam 10 pagi.


"Kak! Aku nggak peduli tentang sekolah dan aku juga nggak peduli tentang masa depan, karena aku akan pergi begitu mama tiada! Ayah kami nggak peduli sama mama dan aku rasa waktuku juga menipis jadi tolong maafkan mama!" Fathia tampak sangat bertekad.


"Akhirnya wanita itu dapat karma setimpal!" Sahut Beni lalu melangkah pergi.


"Kak! Kenapa kakak sangat kasar?" Teriak Fathia karena kesal. Gadis itu mengusap rambutnya ke belakang dan menunjukkan karakter aslinya. Gadis itu tampak kecil tapi karismanya luar biasa.


"Jangan jadi pengecut atau bersembunyi di balik kata malaikat penolong! Kalo memang nggak peduli jangan pernah kembali!" Gadis itu melempar senyum sinis.


"Aku akan kembaliin duit kak Beni! Aku lihat sendiri hari itu kakak bayarin biaya rumah sakit!"


Beni mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.


"Loe mirip sama gua! Jadi loe juga tau apa yang paling gua benci kan? Dan gimana balasannya kalo itu terjadi, yang pasti loe juga tau itu, karna loe gambaran diri gua versi cewe!" Sahut Beni dengan seringai tajam lalu kembali ke wajah datar.


"Gua nggak suka diganggu! Dan gua nggak peduli bahkan kalo itu adik gua sendiri!"


.


.


.


Tbc