
"Maafin gua Al!" Ucap Andre dengan cairan bening membendung di kedua bola matanya.
Kalimat tersebut yang berhasil menyentuh hati kecil Alora hingga ia menoleh menatap pemuda di sisinya itu dengan cairan yang sama di matanya.
"Maafin gua karena baru tau semuanya sekarang! Ternyata penyebab penderitaan loe itu adalah gua!" Andre mengeluarkan kalimatnya dari lubuk hatinya yang paling tulus.
Alora tidak bisa lagi membendung air matanya yang mengalir dari ujung matanya. Ia hanya diam karena tidak tau harus menjawab atau memberikan reaksi apa, ia pun masih ragu akan pilihan hatinya.
Namun sebuah kata maaf seakan sedikit memudarkan rasa sakit dari luka yang menjalar dalam nadinya. Ia ingin tersenyum namun sebagian luka lainnya masih menyiksanya dalam duka lama itu.
"Al, gua akan ngelakuin apa aja but loe! Loe tinggal bilang aja! Semuanya pasti akan gua kabulin buat loe!" Tatap penuh harap dari Andre, yang sebenarnya ia takut Alora akan meminta hal yang paling tidak ingin dia dengar.
"Semua? Termasuk pergi dari hidup aku? Kamu juga akan ngelakuin itu?" Tanya Alora pelan.
Ke khawatiran Andre sepertinya benar akan menjadi kenyataan.
"Iya! Apapun asal kamu bisa hidup bahagia, meski aku tidak ada di dalamnya.." layaknya mesin penjawab, ia mengiyakan meski sebenarnya tidak rela.
"Kalo gitu.. Ayo kita putus!" Kalimat Alora yang berhasil menggoyahkan keyakinan Andre.
"Apa nggak ada cara lain Al? Gua .." kata Andre di hentikan Alora.
"Ini udah keputusan gua! Dari awal hubungan kita ini cuman settingan kan?"
"Gua suka sama loe Al! Gua beneran nggak mau kehilangan loe! Gua sayang sama loe!" Andre akhirnya mengungkapkan isi hatinya.
"Loe yakin? Rasa sayang loe bukan karena rasa bersalah? Atau loe kasihan sama gua?" Sahut Alora yang sulit mempercayai orang lain.
Andre tiba saja kehilangan kata-katanya, pemuda itu tiba saja ragu.
"Gua yakin! Karena jatuh cinta itu nggak butuh alasan, tapi kalau memang loe mau alasannya... karna loe Alora bukan orang lain, makanya gua jatuh cinta!"
Alora tiba saja tersenyum namun cairan bening terus mengalir dari matanya. Seakan tawa itu tidak bisa ia tahan.
Di sisi lain, Andre hanya menatap gadis itu dan bingung dengan sikapnya. Namun, kali ini Alora juga tidak bisa lagi menahan apa yang ia pendam. Gadis itu memeluk tubuh hangat pemuda yang ada di depannya.
"Gua juga suka sama loe!" Kata Alora yang membuat mulut Andre otomatis membulat.
"Makasih loe nggak nyerah sama gua!" Ucap Alora beringingan tangisnya. Tangan Andre akhirnya ikut merangkul gadis yang ada di peluknya dengan wajah lega lalu tersenyum.
Peluk suka duka itu rasanya sangat sulit terlepas namun akhirnya lepas juga.
"Tapi kita harus tetap putus!" Ucap Alora dengan wajah serius.
"Kenapa? Loe berubah pikiran atau gimana nih? Yang tadi apa?" Pertanyaan Andre yang terbawa seperti yang sering Alora lakukan dulu.
"Pacaran settingan kita putus!" Sahut Alora lalu tersenyum kembali.
"Kalo gitu.. Al!" Andre mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Box perhiasan dengan warna bitu berukuran kecil.
"Mau nggak loe jadi pacar resmi gua?" Ucap Andre yang telah berlutut lalu membuka kotak itu tampaklah sebuah kalung emas putih dengan liontin berkilau.
Alora tersenyum lalu langsung memeluk Andre sekali lagi dan ikut berdiri dengan lututnya.
"Loe.. apaan sih gua jadi malu.." ucap Alora yang menyembunyikan wajahnya di bahu Andre.
"Lah kenapa??" Andre tersenyum gemas dengan tingkah gadis itu.
"Tutup hadiah loe! Gua malu, ini bukan adegan drakor!" Alora masih menyembunyikan wajahnya.
"Apapun buat princess gua!" Ucap Andre lagi saat Alora sudah melepas peluk itu.
"Apaan sih? Jangan lebay deh!"
***
Keesokan harinya, di mulai dengan pagi yang terlihat mendung tidak secerah perasaan Alora yang sedang berbunga itu. Gadis itu bersiap-siap ke sekolah karena sesaat lagi pacarnya akan datang menjemput. Semangat yang terakhir terlihat saat usianya 4 tahun lalu seakan anak kecil itu kembali, bukan Alora 18 tahun yang penuh ketegasan dan muka datarnya.
Senyum manis yang tidak bisa ia sembunyikan terus terlihat, bukankah jatuh cinta itu indah?
Begitupun dengan Andre yang sudah bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap, ia bahkan memilih jaket apa yang akan ia kenakan yang biasanya hanya ia ambil random dari lemarinya. Dan menyisir rambutnya rapi, padahal dengan rambut bangun tidur aja udah bikin klepek-klepek lihat tokoh webtoon itu.
Andre menjemput Alora dan berangkat ke sekolah. Tentu saja semua orang merasakan aura berbeda walau sering melihat dua remaja itu berangkat sama-sama. Yang paling beda adalah saat ini remaja itu saling menggenggam tangan, yang biasanya hanya berjalan berdampingan tampa sepatah katapun.
Perubahan itu membuat hidup Alora jadi lebih berwarna, senyumnya bukan lagi senyuman paksa yang ia gunakan sebagai topeng saat bekerja. Gadis itu mulai belajar tentang kasih sayang dan memberikan rasa sayang pada orang lain. Selama ini, ia tidak pernah peduli terhadap siapapun selain dirinya, keluarganya dan sahabatnya. Sekarang ia punya hal baru yaitu pacar resmi, bukan lagi pacar imitasi ataupun pacar settingan.
Walau mereka tidak menyadari saat kasih sayang itu mulai tumbuh, namun naluri mereka bekerja lebih cepat dari pada isi hati mereka sendiri.
...
Jam istirahat, Alora kembali terlihat di kantin duduk bersama Andre sembari saling bercanda. Saat makanan sudah tiba di meja mereka dan menikmati makanan masing-masing, tiba saja seseorang menarik bangku di sisi Alora dan duduk.
Orang itu menarik perhatian pasangan yang menikmati waktu mereka itu, tentu saja itu adalah Beni yang bertindak sesukanya.
"Loe ngapain ke sini?" Tanya Andre kesal melihat pemuda itu duduk di sisi pacarnya.
"Harus banget gua jawab?" Sahut Beni.
Andre makin kesal dan masih menahan kesalnya.
"Al, gua mau ngomingin sesuatu sama loe, ikut gua!" Beni memerintah sesukanya.
"Apaan sih? Gua lagi makan loe nggak liat?" Sahut Alora lalu melanjutkan mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Loe berani lawan gua?" Beni mendekatkan wajahnya menatap Alora.
Alora membalas tatap itu "iya! Mau loe apa sih? Ngomong di sini aja ngapa?"
Beni si psyco sepertinya sudah kembali, pemuda itu langsung menarik tangan Alora dan menyeret gadis itu pergi bersamanya.
"Apaan sih Ben? Lepasin tangan gua!" Alora mencoba melepaskan diri.
Andre juga tidak tinggal diam, ia meraih sisi lain tangan Alora hingga langkah Beni terhenti. Alora menahan rasa sakit tangannya yang ditarik kasar pemuda misterius ini.
"Lepasin pacar gua! Loe nggak kapok-kapok apa?" Tegas Andre.
"Loe nggak pantes jadi pacar Alora!"
..
.
.
tbc