My Secret Alora

My Secret Alora
Rasa


Dua hal yang sulit untuk kupahami, pertama rasa sayangku padamu, kedua rasa benciku pada diriku sendiri.


-bomy-


.


.


.


Mendung menghiasi langit sore itu, rintik tangisan semesta pun menyapa satu-persatu. Lia baru saja membuka kulkas mendapati rak kosong dengan asap dingin menyapa wajahnya. Gadis itu dengan lesu kembali ke kamarnya mengambil kardigan dan dompet lalu berdiri di depan pintu rumahnya.


Mendapati cairan yang berjatuhan, ia kembali ke dapur mengambil payung lalu kembali ke pintu.


"Huft.. langit aja nggak mendukung! Hidup gua bakalan hancur kalo gini terus" gumam gadis itu lalu membuka payung dan memakai sandal nya. Ia menutup pintu lalu menguncinya.


Gadis yang rambut panjangnya dikuncir1 dengan seragam training itu menghela berat nafasnya "duh perutku sabar ya! Kita otw cari makanan" ucapnya sambil melangkah di bawah payung biru itu.


Sesampainya di minimarket terdekat, ia hanya membeli makanan instan yang sekiranya dapat mengenyangkan perutnya. Begitu ia keluar dari mini market tersebut, hujan semakin deras yang membuatnya tidak mungkin langsung pulang. Akhirnya ia memutuskan menyeduh dengan air panas mie instan yang ia beli di minimarket itu karena terlalu lapar. Gadis itu duduk di tepi dinding kaca menatap keluar jalan sembari menyeruput mienya yang sudah mengembang.


Sebuah mobil hitam yang baru tiba memarkir di depan mini market. Lia hanya menatap mobil itu lalu mengalihkan fokusnya pada makanan ringan yang ia beli juga.


Seorang pemuda dengan seragam jas serba hitam di dalamnya kemeja putih namun menggunakan sneakers putih yang menggambarkan kepribadian bebasnya. Setelah memilih beberapa produk, pemuda itu menatap Lia yang duduk di kursi tepi dinding itu.  Pemuda itu langsung menghampiri gadis itu lalu melepas jasnya lalu menyelimuti Lia.


Ia menoleh karena tiba-tiba bahunya terasa agak berat.


"Kak Andi?" Lia tampak agak terkejut, ia hanya tidak menyangka akan bertemu Andi di tengah hujan begini. Lia hendak melepas jas yang dipakaikan Andi, namun pemuda manis itu menyentuh tangan Lia untuk menghentikannya.


"Udah kamu pake aja! Lagi hujan begini pasti kamu kedinginan" ucap Andi lalu duduk di samping gadis itu. Lia yang tampak sedih itu tampak agak tersipu, pipi mungilnya sedikit memerah.


"Kamu lagi sakit ya?" Tanya Andi.


"Nggak kok! Kenapa kak Andi tanya gitu? Lia pucat banget ya? Makanya kak Andi kasih jas ke Lia?" Sahut Lia yang tampak lesu.


"Nggak! Bukan itu alasannya, kamu cuman nggak seceria biasanya.. kenapa kamu ada masalah?" Andi mencoba mendekati secara perlahan.


"Lora kira-kira baik-baik aja nggak ya? Soalnya Lia ketemu sama cowo itu.."  Lia tampak merenung.


"Cowo?" Andi menghentikan untuk terus bertanya, dia tidak ingin Lia merasa tidak nyaman saat bersamanya.


"Lora malah khawatir sama kamu! Kemarin aku ketemu dia pas mau berangkat ngampus. Dia cerita dia khawatir sama keadaan kamu"


"Lora cerita? Beberan kak?" Lia tampak tidak percaya dengan yang ia dengar.


"Kok kamu kaget banget gitu?"


"Lora itu, dia anaknya nggak bisa bergaul, seseorang harus merangkul (mengajak bicara) dia lebih dulu baru dia akan berinteraksi. Selama Lia sahabatan sama Lora.. dia nggak pernah cerita duluan kecuali di tanya, itupun dia bakalan cerita kalo memang urgent dan butuh banget bantuan"


Andi mendengarkan dengan baik, tatap hangat itu terus mengarah ke gadis imut di sisinya itu.


"Entahlah! Aku nggak ingat!"


Hujan mulai reda, tapi Lia enggan pulang, walau bagaimanapun kali ini ia banyak mengobrol dengan dambaan hatinya kali ini, walau tidak ada topik yang sangat menarik di dalamnya.


"Loe mau pulang bareng gua?" Tanya Andi yang telah berdiri itu.


"Mm.. tapi rumah kak Andi nggak searah kan?" Lia juga ikut berdiri dengan payung di tangannya.


"Aku bakal nganterin kamu! Cuaca sekarang rawan loh! Mendung, hujan, cuaca nggak menentu! Jadi.. dari pada hujannya deras lagi, loe ditengah jalan nanti basah kuyup loe jadi sakit kan? Mending ikut bareng gua" tanya Andi lalu tersenyum sambil mengangguk menyakinkan gadis itu.


Akhirnya ukiran manis dari bibir gadis itu terlihat. Sejak tadi gadis itu hanya tampak lesu. Lia mengangguk lalu pulang bersama Andi.


***


Tetesan tangis semesta juga menghalangi Alora untuk pulang. Begitu keluar dari kelas ia langsung menuju lobby gedung dan ke pintu keluar.


"Hujan lagi? Padahal baru bulan oktober belum sampe desember, udah musim hujan aja! Gua lupa bawa payung lagi!" Gumam gadis dengan tas ransel itu lalu memanyunkan bibirnya karena kesal dengan dirinya sendiri.


"Apa gua tungguin Andre aja?" Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, jika ia menerobos hujan menuju halte bus ia akan basah kuyup lagi. Kondisinya saat ini pun kurang baik karena terlalu sering kena hujan belakangan ini.


Saat ini Alora terlihat sedang duduk di kursi tunggu di samping kantor jurusan, menunggu Andre menyelesaikan kelasnya. Tampaknya gadis itu terlalu kelelahan, perlahan matanya sayu dan tidak di ragukan lagi, ia tertidur.


Keringat menembus pori-pori terlalu cepat, walau cuaca dingin ia tampak kepanasan. Beni melirik Alora setelah keluar dari ruang dosen. Ia menghampiri gadis itu lalu hanya menatapnya tanpa melakukan apapun atau mengatakan apapun.


"Ni cewe kenapa lagi?" Batin Beni lalu memasukkan tangan kirinya ke dalam sakunya, dan tangan lainnya memegangi tasnya.


"Nyusahin banget! Kok gua selalu terganggu lihat dia menyedihkan gini?" Batin Beni melanjutkan lalu ia membalikkan badannya dan melangkah menjauh, tapi ia kembali lagi setelah beberapa langkah. Entah apa yang menariknya, ia hanya duduk di sisi gadis itu dengan jemari yang asik mengscrool layar I-Phone nya.


Kelas Andre usai, pemuda itu menemukan pacarnya yang saat ini terlihat tertidur di bahu Beni. Baru saja kepala itu miring dan terjatuh ke bahu pemuda di sampingnya, namun Beni dengan sigap menyambut kepala itu dengan tangannya dan menyenderkannya kembali ke dinding. Namun Alora malah terbangun dan tampak pucat.


Andre menghampiri Alora setelah menyaksikan yang di lakukan Beni beberapa detik lalu.


"Yok kita pulang chagiya!" Andre membantu Alora berdiri dan merangkulnya berjalan.


Di sisi lain, Beni bersikap tidak peduli dan asik memainkan hp nya itu. Namun, sebenarnya Beni hanya tidak bisa memahami ia khawatir melihat Alora yang pucat dan tertidur sendirian. Yang ia tau, Alora selalu mengganggu jalannya aktivitasnya.


Saat Andre sudah membuka payungnya lalu berjalan pulang bersama gadis itu, Beni baru melirik dan menatapnya dari belakang.


"Dasar cowo nggak becus! Kenapa cewe menyedihkan harus ketemu orang seperti dia?"


.


.


.


Tbc