My Secret Alora

My Secret Alora
Pacaran Sana!


"Ke rumah gua yuk! Kita sarapan bareng!" Ajak Lia hingga membuat Beni menoleh.


...


Dalam perjalanan menuju rumah Lia leduanya hanya diam saja, sembari berjalan berdampingan menyusuri jalan itu. Beni yang terlihat santai menatap lurus dengan kedua tangan di saku celananya. Sedangkan Lia menjinjing barang belanjaannya dengan posisi badan agak miring sepertinya barang belanjaannya terlalu banyak. Meski kesulitan ia berusaha membawanya sendiri karena manusia dingin di sampingnya tidak peka sama sekali.


"Nih cowo gimana sih? Bukannya bantuin gua kek! Padahal udah gua ajak ke rumah! Woi peka dong! Peka! Gua ajak loe buat bantuin gua bawa barangnya bukan cuman buat makan!" Batin Lia menggerutu dengan lirikan tajam yang ia arahkan pada pemuda tampan di sisinya.


"Kenapa loe natap gua gitu?" Tanya Beni yang sedari tadi mengetahui maksud gadis cantik di sampingnya sembari terus melanjutkan langkahnya tanpa menatap gadis itu.


"Enggak! Gua heran aja ternyata loe mau ikut ke rumah gua buat sarapan!" Sahut Lia lalu memaksakan senyum di wajahnya.


"Gua heran ada batu berjalan kayak loe!" Batin Lia setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Andi lebih baik kan?" Pertanyaan random dari Beni itu membuat Lia kembali menoleh pada pemuda itu yang tadinya sudah fokus berjalan.


"Huh? Maksud loe apa?" Gadis itu kembali bertanya.


"Kalo yang di samping loe sekarang adalah Andi, dia pasti bawain barang belanjaan loe yang banyak itu dan nggak bakal biarin loe kecapean! Itu namanya the power of love!" Kata Beni lalu mengangguk perlahan.


"Trus?" Tanya Lia lagi.


Beni menghela berat nafasnya lalu menjawab, "terus... Sayangnya ini gua! Bukan Andi! Gua datang buat tawaran sarapan, bukan bantuin bawa barang loe! Lagian gua nggak maksa ikut, gua ikut cuma karena bosan!" Jelas Beni yang tanpa belas kasihan itu.


"Alasan loe kepanjangan! Bilang aja nggak mau bantu! Tenang aja gua lebih kuat dari bayangan loe!" Sahut gadis itu lalu malah terjatuh karena tanpa sengaja kakinya tidak seimbang saat sebuah batu agak besar diinjaknya.


Bahan belanjaan itu beberapa tergeletak di jalanan sudah keluar dari plastik.


"Aaah..au! Duh gua sial banget hari ini sih!" Lia mengeluh lalu bangkit dan meraih plastik belanjaannya. Namun Beni sudah duluan mengumpulkan sayur yang keluar plastik dan masih bisa digunakan, pemuda itu juga langsung peraih plastik itu dari tangan Lia.


"Lain kali kalo nggak kuat minta tolong! Jangan maksain tubuh loe gitu! Jatuh kan jadinya!" Oceh Beni lalu melirik dan memperhatikan ada sedikit luka di lutut gadis itu.


"Kalo loe peka harusnya loe bantuin gua tadi dong! Sebelum jatuh!" Ucap Lia yang kesal.


"Makanya jadian sana sama Andi! Jangan terus-terusan sembunyi di balik gua! Kalo kelamaan loe bakal nyesal sendiri!" Ucap Beni tanpa menatap gadis itu sedikit pun, lalu melanjutkan langkahnya.


...


Sesampainya di rumah Lia, kedua oknum itu mendapati oknum lainnya yang melambai ke arah mereka.


"Eh ada Beni?" Ucap gadis itu tampak terkejut.


"Lora! Loe kapan sampenya?" Tanya Lia lalu berlari ke arah Alora dan memeluk gadis yang ia anggap sahabatnya itu.


"Lora udah dari tadi nungguin, las banget Lia keluar rumah Lora datang!" Sahut ibunya Lia yang juga ikut keluar untuk mengambil bahan belanjaan anaknya.


"Mana belanjaan nya sayang?" Tanya mama Lia.


"Ini tante!" Sahut Beni dari belakang Lia, suara agak serak dan dalam itu mengejutkan Mamanya Lia yang sontak menoleh.


"Huh? Ada temannya Lia ya? Sini barangnya sama tante, oiya ayo masuk semuanya!" Ucap sang tante lalu dengan semangat meraih belanjaan dari tangan Beni dan membawanya ke dapur.


"Lia sini dulu bantuin mama siapin sarapan! Kasian teman Lia itu pasti belum makan!" Ucap Wanita paruh baya yang penuh kasih sayang itu.


Lia langsung berlari ke dapur, begitupun Alora yang berjalan masuk di belakang Lia dan diikuti Beni. Alora juga ingin ikut ke dapur namun Beni meraih tangan gadis itu untuk menghentikannya. Alora menoleh berbalik dan segera menarik tangannya dari genggaman pemuda itu.


"Apaan loe! Jangan sentuh gua!" Tebas Alora sembari menatap sinis.


"Jangan ninggalin sendiri! Gua kan jadi enak kalo sendirian!" Ucap Beni sembari melirik kiri kanan interior rumah Lia yang terpajang foto-foto lama gadis itu juga.


"Gua mau bantuin mami dulu di dapur! Loe duduk sini aja! Jangan cemen! Gelar aja psyco giliran jumpa ibu-ibu ciut loe!" Ucap Alora lalu bergegas ke dapur juga.


Seperti yang kita tahu, Alora juga ikut membantu menyiapkan meja lalu mengangkut makanan dari dapur ke meja makan, begitupun yang dilakukan Lia. Sedangkan Beni duduk canggung di kursi sebelah meja makan.


"Mama? Beruntung banget Lia tinggal dengan nyokap nya yang perhatian dan baik!" Batin Beni dan tanpa sadar wanita yang ia tatap itu sudah di depannya.


"Nak! Nama kamu siapa?" Wanita itu duduk di depan Beni sembari mengambil nasi dari wadahnya dan menaruhnya di piring yang setelah di rasa cukup di letakkan di depan Beni.


"Saya Beni tante!" Sahut Beni yang tiba saja terharu dengan perlakuan ibunya Lia.


"Liaaa! Loraaa! Cepetan sini makan dulu! Biarin aja piring kotornya dulu! Nih nak Beni juga udah nungguin kalian!" Teriak Ibunya Lia hingga kedua oknum yang dimaksud muncul dan duduk.


Tentu Lia duduk di samping ibunya dan Alora duduk di samping Beni. Wanita yang penuh kasih sayang itu memanjakan ketiga remaja bersamanya. Ia memberikan lauk bahkan untuk Beni yang baru ia temui hari ini. Tentu pemuda itu merasakan getaran lain dalam dirinya, selama ini ia tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh ibunya.


"Beni teman kuliah nya Lia ya?" Tanya wanita itu.


"Iya tante!" Sahut Beni layaknya seorang penurut tak seperti biasanya.


"Lebih tepatnya teman SMA sih mah! Soalnya kalo di kampus Lia sama Beni beda jurusan, sama Lora tuh yang sekelas!" Sahut Lia menjelaskan.


"Oh ya! Bagus dong! Nak Beni tolong jagain Lora ya! Kalo ada yang ganggu anak gadis tante, pokoknya Beni balas aja! Sama jagain Lia juga kalo kalian ketemu di kampus ya!" Ucap Wanita itu lembut.


"Iya tante!" Sahut Beni lagi, tiba saja ia menjadi sangat penurut.


"Apaan sih mah? Lia bisa jaga diri kok! Lagian Lora juga punya Andre yang bakal jagain!" Bantah Lia yang masih kesal.


"Makin banyak yang jagain kan makin bagus, ya nggak Beni!" Sahut Ibunya Lia lagi.


"Iya tante!" Sahut Beni lagi lalu tersenyum.


"Ya ampun! Beni ganteng banget lagi! Pas senyum gini!" Ucap mamanya Lia yang membuat Lia agak malu dengan sikap narsistik mamanya. Gadis itu sontak menepuk dahinya dengan tangan. Tentu Beni menikmati momennya dengan tersenyum diam-diam.


...


Usai makan, Lia langsung mengusir Beni secara halus agar ia tidak dimarahi oleh mamanya.


"Ben! Loe kan mau ke mana gitu, loe tadi bilang ada urusan lain, gak apa loe bisa pergi sekarang, makasih udah datang!" Ucap Lia pada Beni yang barus saja tiba di ruang tamu dan hendak duduk.


"Oiya gua juga harus pulang dulu! Soalnya bokap gua mau pulang kampung, jadi gua harus bantuin beliau beres-beres!" Ucap Alora.


"Loh? Jadi loe ke sini ngapain dong? Padahal kita belum ngobrol juga kan?" Sahut Lia.


"Iya tadinya gua mau bilang sesuatu, tapi lain kali aja kita ketemu lagi! Atau nanti malam loe ginap tempat gua ya!" Sahut Alora.


"Yaudah deh! Hati-hati!" Sahut Lia tampak tak rela.


"Okey! Jaga diri loe juga!" Ucap alora lalu menuju gerbang diikuti Beni yang melempar senyum seringai ke arah Lia lalu berbalik dan pulang.


"Tuh cowo! Nggak berubah-berubah!" Lia menghela berat nafasnya lalu masuk ke dalam rumahnya.


...


Di jalan itu, Alora berjalan berdampingan dengan Beni, keduanya jadi diam sehingga hanya terdengar suara gesekan sandal dengan tanah. Namun tiba saja terlihat pemuda yang tidak asing di sana. Andre yang menatap tajam mereka dari arah depan mereka.


"Alora? Kok loe bareng dia?" Tanya Andre yang menemukan pacarnya sedang jalan dengan cowo lain.


.


.


.


Tbc