
Hidup tanpa harapan dan tujuan adalah hal yang paling sulit, seolah hidup sudah tidak lagi berarti.
-Bomy-
.
.
Hari libur yang terasa membosankan, tampak Lia dan Alora yang hanya duduk diam di ruang tamu rumah Alora itu. Keduanya hanya diam namun saling menyenderkan bahu ke satu sama lain dengan kepala yang saling bersentuhan.
Entah mengapa bola mata Alora berkaca dan Lia juga tampak murung. Sembari menatap Hp masing-masing keduanya juga mendengarkan lagi yang berbeda dari earphone masing-masing. Kedua gadis dengan selera musik berbeda namun bisa saling menghargai dan tidak memaksakan kehendak.
Setelah hampir 30 menit saling diam, akhirnya Lia mengeluarkan kalimat pertamanya.
"Gua memang nggak pernah bosan bareng loe, padahal kita cuman duduk diam kek gini hehe"
"Gua juga hehe" sahut Alora lalu melepaskan sebelah earphone di telinga kanannya.
"Gua pengen kita gini terus, 10, 20 bahkan 50 tahun lagi, gua pengen loe selalu jadi sahabat gua!"
"Gak bisalah! Pas loe nikah loe bakalan sibuk sama keluarga loe, kita gak akan punya waktu bersantai sebanyak ini lagi"
"Iya loe bener!"
"Loe masih nggak akan kuliah? Yaah walaupun gua tau kuliah juga nggak akan menjamin apa-apa, tapi loe punya kesempatan itu" Tanya Lia lagi.
"Gua sedang berada di fase nggak ada tujuan atau nggak ada yang gua harapin, gua merasa.. hidup gua kosong dan gua akan berakhir setelah semua ini"
"Tapi loe bisa mulai mencari lagi!"
"Dulu gua kerja buat bantuin nenek dan berusaha untuk bayar uang sekolah gua, tapi sekarang.. nenek udah punya tante Ina, uang sekolah udah ditanggung Om Herman dan sekolah tinggal 2 bulan lagi dan nggak ada benar-benar gua inginkan dalam hidup gua"
"Seseorang! Apa nggak ada seseorang yang loe harapin, atau loe mau dia jadi milik loe?"
Pertanyaan Lia tersebut membuat Alora tampak merenung. Ingatannya seolah memainkan sebuah drama di mana Andre menjadi pemeran utamanya.
"Kalau memang nggak ada, coba deh loe nikmatin hidup loe sekarang! Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk loe sendiri. Cobalah hidup dengan hanya memikirkan diri sendiri" kata Lia sembari mengangguk meyakinkan.
"Sebenarnya gua juga nggak punya tujuan yang pasti, masa depan kan nggak ada yang tau! Tapi.. " Sambung Lia.
Suara ketukan pintu membuat kedua gadis itu saling menatap dan akhirnya Lia bangun untuk membukakan pintu mengingat kondisi Alora yang masih sakit.
Bola mata Lia membulat saat menemukan seorang wanita paruh baya dan pemuda bernama Andre.
"Kamu Alora? Wah cantik ya! Gimana udah baikan kakinya?" Tanya Jeni pada Lia yang ia sangka Alora.
"Ah bukan tante, saya Lia.. Alora ada do dalam silakan masuk tante!" Ucap Lia canggung sembari mempersilahkan Wanita itu masuk.
Dengan sorot bola mata serta mulut maju mundur seolah bertanya kepada Andre bahwa wanita ini siapa. Andrepun menjawab dalam kesunyian "mama gua!" Sembari jemari menunjuk ke dirinya sendiri.
"Ini Alora tante!" Ucap Lia menunjuk ke arah Alora yang sedang duduk di sofa kecil itu.
Jeni melirik ke seluruh rumah yang terlihat agak kosong itu. Rumah yang bahkan tidak ada satupun foto yang tertempel di dinding atau perlengkapan lainnya.
"Silakan duduk tante!" Alora mempersilahkan setelah memaksakan diri bangun, walau dia tidak tau siapa wanita yang tiba saja datang ke rumahnya.
Flashback tadi malam
Di meja makan yang Jeni bersama dua anaknya sedang makan malam. Melihat Andre dan Andi sedang melahap makanan mereka, tiba saja Jeni teringat Alora yang dibuli Mila dan ingin memastikannya.
"Andi kamu kenal Alora" pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu membuat batuk karena tidak menyangka pertanyaan tersebut akan dilontarkan ibunya.
Andre memberi abangnya itu air sebelum bisa menjawab pertanyaan. Setelah meneguk air dan tenggorokannya lega akhirnya Andi menjawab.
"Iya kenal kenapa mah?"
"Siapa Alora?"
"Mm.. sebenarnya 2 minggu yang lalu aku nabrak orang, dia itu Alora! Tapi mamah tenang aja semua udah terkendali kok, dia juga dalam proses penyembuhan" jelas Andi.
"Tapi kamu nggak apa-apa kan?" Jeni panik dan terlihat sangat khawatir.
"Iya mama tenang aja!"
"Alora nggak mempermasalahkan kan? Nggak berurusan sama polisi kan?"
"Nggak, mama tenang aja!"
"Pokonya besok kamu harus bawa mama ketemu Alora itu, mama nggak mau nanti tiba-tiba dia malah lapor polisi dan ngerugiin kamu (Andi)"
"Apa Ndi, apa bener Alora itu dibuli sama Mila?" Tanya Jeni lagi.
"Apa? Jadi Mila yang buat kaki Alora jadi retak lagi?" Andi malah bertanya pada pemuda lain di sisinya, Andre.
Andre hanya mengangguk lalu melanjutkan makannya.
"Apanya retak? Jadi mah harusnya Alora tuh bisa sembuh dalam 2 minggu lagi, tapi gara-gara itu kakinya baru bisa sembuh minimal 2 bulan lagi, kan kasian kan mah, dia jadi nggak bisa bekerja dan sekolah dengan kaki pincang" jelas Andi lagi.
"Kalo gitu besok mama harus ketemu sama dia, Andi anterin mama"
Andi bersikeras tidak mau mengantar dengan alasan pekerjaan. Mau tidak mau, Andrelah yang jadi sasaran berikutnya. Dan begitulah tante Jeni bisa muncul di rumah Alora.
Masa Kini:
"Tante siapa?" Tanya Alora lalu melirik Andre yang baru saja memasuki rumahnya juga.
"Saya ibunya Andi dan juga Andre seperti yang kamu lihat" jawab Jeni.
"Ada apa ya tante?" Tanya Alora canggung.
"Saya ingin memastikan kalo kamu baik-baik aja, saya baru tau Andi nabrak orang dan saya minta maaf ya"
"Nggak apa tante, kak Andi juga sudah tanggung jawab dan saya juga berterimakasih tante udah datang kemari"
"Kaki kamu gimana? Katanya retak ya?"
"Nggak apa tante, bentar lagi juga sembuh"
"Tante mau minum apa? Biar saya siapin" Tanya Lia.
"Saya air putih aja ya cantik!" Sahut Jeni.
"Kamu tidak mempermasalahkannya ke polisi kan?" Pertanyaan wanita itu lagi yang membuat Andre membuang mukanya dan Alora tampak terkejut.
"Nggak tante! Hal itu tidak perlu dipermasalahkan kok!" Sahut Alora yang semakin canggung dengan keadaan.
"Apa bener Mila labrak kamu di sekolah?" Pertanyaan Jeni yang lagi-lagi sangat to the point dan sekali lagi Alora terkejut dan hampir tidak bisa berkata-kata.
"Aah tante kok tau?" Tanya Alora yang agak terbata-bata.
"Andre yang memberitahukan saya"
"Andre kok loe tau?" Alora bertanya pada Andre yang duduk agak jauh itu.
"Aah itu ada yang kasih tau gua!" Sahut Andre mencari alasan. Padahal sebenarnya sejak mendengar kabar itu dari Lia, pemuda itu mencari sumber informan lain yaitu Bisma yang juga melihat kejadian tersebut.
"Jadi benar? Alasannya apa? Kenapa dia sampe labrak kamu?" Tanya Jeni.
"Iya, sebenarnya saya juga nggak tau kenapa dia begitu, dan saya juga tidak terlalu peduli pada hal begituan. Saya hanya fokus pada diri saya."
"Kenapa kamu nggak melawan aja dan bertingkah seolah kamu korban? Padahal Mila bilang dia nggak sengaja nabrak kamu!" Pertanyaan Jeni membuat Andre kesal dengannya.
"Mah apaan sih nanya gitu?" Akhirnya sebuah kalimat terdengar dari mulut pemuda itu.
"Karna kaki saya lagi sakit tante! Kalo enggak, saya juga akan nendang betis Mila seperti dia nendang tongkat saya sebanyak 3x. Saya bukan orang yang sok sabar! Saya tau batasan dan akan melawan yang tidak benar!" Sahut Alora ketika insting gilanya dipertanyakan.
Jeni agak terkejut mendengar jawaban gadis itu, dari situ dia bisa menilai betapa kerasnya watak Alora. Pertanyaan tak terduga juga terus saja keluar dan jawaban demi jawaban terlontar pula.
Sepulangnya ke rumahnya, Jeni tampak masih memikirkan pesona Alora yang terlihat seperti anak keras kepala.
"Pasti capek ngebesarin Alora, dilihat dari karakternya yang keras itu" ucap Jeni pada Andre.
"Alora baik kok mah, jangan salah menilai! Dia kerja di Kafe buat bayar sekolahnya sendiri, terus orang tuanya juga bercerai jadi mama harus ngertiin dia" sahut Andre.
"Oh anak broken home rupanya!" Ucap Jeni.
"Mah tolong ya! Bisa nggak hargain orang lain dikit? Mama selalu cuman mandang orang dari kasta mereka" Andre terlihat kesal.
"Iya iya" sahut Jeni sembari meninggalkan anak keduanya itu yang tampak menahan amarahnya.
.
.
tbc