
Karena kita tidak akan bisa mengerti rasa sakit orang lain.
...
.
.
.
Pulang kuliah, Andre bersemangat bertemu dengan pacarnya setelah moment mereka di rusak oleh beberapa orang baru yang tidak sengaja ikut muncul dalam kisah ini.
"Kita kemana nih Yang?" Tanya Andre yang sudah di dalam mobil itu bersama Alora.
"Kita ke Kafe aja! Ada yang mau gua omongin sama loe!" Kata itu terdengar sendu.
Andre mengemudikan mobil dengan hati-hati, namun semakin dilihat jalan ini mengarah ke tempat yang ia curigai.
"Ini kok jalannya menuju Kafe si Psyco ya?" Tanya Andre.
"Iya, kita memang akan ke sana!" Sahut Alora yang menyandarkan kepalanya di kaca mobil itu.
"Loh ngapain ke sana? Kan banyak Kafe lain yang lebih menarik, biar gua aja yang atur ya!"
"Gua kerja lagi di Kafe itu!" Kata Alora yang berhasil mengalihkan perhatian Andre. "Tolong pinggirkan mobilnya sebentar!"
Andre mendengarkan pacarnya dengan baik. Mobil itu berhenti setelah menepi. Andre memfokuskan tatapnya pada gadis yang hanya menilik jemarinya.
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu, gua sempat kerja di super market lalu kemudiam di pecat. Dan kemarin gua nggak sengaja ketemu Om Herman dan ngebatalin kesepatakan yang pernah kami buat tentang Beni. Gua juga ..." Alora meneruskan ceritanya tentang Herman dan Andre mendengarkan dengan baik, tanpa bantahan atau pertanyaan yang akan melukai hati gadis itu.
"Tapi kenapa loe harus kembali kerja? Gua pengen loe hidup damai dan bisa nikmatin hidup loe! Biar gua yang kerja nanti dan nafkahin elloe!" Andre dengan tekad kuatnya.
"Tapi Ndre! Apa loe yakin gua bakal selalu bisa bareng elloe? Kita nggak pernah tau masa depan bakal gimana kan? Yang jelas saat ini gua butuh kerjaan itu Ndre!"
"Lagian tubuh gua udah terbiasa Ndre! Ini bukan pertama kalinya, sejak gua SMP kerja udah jadi makanan gua!"
"Kalo gitu sekedarnya aja ya! Loe nggak boleh kerja terlalu keras!" Sahut sang pacar pelan.
"Satu lagi... sebenarnya tujuan gua kerja karena gua harus lunasin hutang nyokap gua sama temen SMP gua!" Sambung Alora dalam tatap sendu itu mengarahkan kedua bola matanya pada Andre.
"Hutang? Kalo itu biar gua aja yang..." Andre yang semakin khawatir dengan pernyataan itu.
"Jangan! Ini alasan gua nggak mau ngasih tau loe!... Gua akan usaha bayar sendiri. Lagian semua ini salah gua! Gua nggak bisa ngebebanin loe," kata Alora pelan.
"Tapi Al! Gua nggak bisa ngelihat loe menderita sendirian!"
"Gua juga nggak bisa ngelihat loe menderita karena gua! Gua janji.. kalo gua udah nggak sanggup lagi suatu saat nanti, gua akan lari dan minta bantuan loe! Saat itu.. tolong bantu gua ya!"
Andre mengangguk lalu memeluk Alora yang bola matanya telah berkaca dari tadi.
"Maafin aku Ndre! Aku hanya bisa cerita setengah kebenarannya." Alora tampak mengerutkan alisnya lalu menutup matanya agar tidak menangis di dalam peluk itu.
***
Jam 10.45 pagi, Alora terlihat sedang berjalan-jalan kecil di area kampus. Tangan kiri Lia merangkul Alora dan tangan kananya megendong tas berisi laptop. Sedangkan Alora dengan tas ransel praktisnya yang sama sekali tidak terlihat modis, bahkan tampak seperti tas tua.
"Habis kelas loe harus kerja ya? Padahal gua lagi free pengen jalan-jalan!" Lia menghela nafas berat setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Kenapa loe stress banyak tugas kah?" Tanya Alora yang melirik sahabatnya itu.
Lia membalas dengan anggukan dan kedua bibirnya di katupkan. Tangan Alora menyentuh bahu kanan Lia lalu mengelus pelan.
"Bahu! Kamu yang kuat ya! Ini baru semester satu loh!" Alora dengan senyum kecil itu membuat Lia tersenyum dengan respon gadis itu.
"Tapi.. Lora! Loe nggak ketemu.." kata Lia langsung disambung Alora.
"Steve?" Alora tampak santai.
"Ternyata tu cowo tetap nemuin loe ya?" Wajah murung dan bibir agak menonjol selain itu mata yang terlihat tidak tenang tampak jelas bahwa Lia sedang mengkhawatirkan sekaligus menyembunyikan sesuatu. Walau kalimat itu sudah di ujung lidah, namun Lia selalu menahan dirinya.
"Gua sekelas sama dia di hari kamis!" Lanjut Alora yang membuat Lia semakin khawatir.
"Ya ampun, jadi mau nggak mau loe pasti ketemu dia tiap kamis! Dia nggak nagih-nagih atau gangguin loe kan?"
"Tentu dia pasti nagih! Dari awal karakternya emang gitu kan? Tapi loe nggak usah khawatir, di kelas itu ada Beni juga. Loe tau sendirikan? Gua adalah mangsa abadi Beni yang dendam sama gua karena sering ngelaporin dia ke bokapnya. Dia nggak akan biarin mangsanya di incar oleh orang lain!" Alora mengangguk meyakinkan Lia.
"Loe yakin?" Lia masih tidak bisa percaya.
"Gua udah lihat buktinya, loe tenang aja! Yang penting Steve nggak gangguin loe kan?"
"Ah itu..." Lia tampak ragu menjawab.
"Bestie! Di hari loe.." Alora ingin menanyakan kejadian serangan panik Lia namun ia mengurungkan niatnya.
"Hari guaa..?" Lia sedang menyondorkan wajahnya ke arah Alora menunggu pertanyaan itu dilanjutkan.
Lia membalasnya dengan pose hormat, lalu berkata "siap buk!"
"Mau langsung pulang atau..?" Kalimat Alora langsung disahut Lia.
"Nungguin loe lah! Gua di perpus ya, nanti kabarin siap kelas!"
Tiba saja, perhatian kedua gadis itu teralih pada seorang gadis tomboy yang melambai ke arah Alora sambil memanggil namanya dari kejauhan.
"Itu salah satu cewe kemaren kan? Kok gua lihat belakangan ini dia sering banget nempelin loe sih?" Tanya Lia.
"Kenapa? Loe cemburu gua punya temen baru? Tapi loe juga banyak teman baru kan?" Sahut Alora sekaligus mengejek Lia dengan suara memelas.
"Bukan gitu! Tapi gerak-gerik dia tuh aneh, jangan dekat banget sama dia ya, kita nggak tau dia gimana orangnya!" Bisik Lia di telinga Alora saat Key semakin dekat dengan mereka.
...
Usai kelas, tentu Alora langsung menghampiri bestie-nya ke perpustakaan. Mereka menuju ke Kafe bersama. Apalagi saat Andre sibuk dengan mata kuliah hingga sore.
Tak lama menunggu bus di halte, kedua gadis itu langsung mendapati bus yang menuju arah Kafe dan langsung menaikinya.
"Loe kenapa pengen ikut ke Kafe?" Tanya Alora.
"Huh? Itu..." Lia tidak bisa menahan senyumnya "Kak Andi kan sering ke Kafe itu karna kantornya dekat situ!" Lanjut Lia yang cengingisan.
Alora menggelengkan kepalanya, lalu berkata "hmm.. yang lagi jatuh cinta!"
...
Memang tidak salah, Lia langsung menemukan Andi yang duduk bersama rekan kerjanya. Lia hanya lewat seolah tidak tidak tau bahwa Andi ada di sana, padahal begitu sampai ia menilik ke seluruh sudut untuk menemukan pemuda itu.
Saat Lia memilih kursinya, di sisi lain Alora dikejutkan dengan tampang tak asing yang ia temukan di Kafe itu lagi, siapa lagi kalau bukan Beni. Pemuda itu tampak mengenakan seragam Kafe dan mulai bantu-bantu.
Perlahan Indra mendekati Alora lalu berkata "kayaknya ada kabar gembira, nggak ada angin gak ada hujan dia balik kerja,.. eh hujan ada ya? Bentar lagi bakal hujan lagi."
"Di suruh pak bos kadang pak! Atau dia punya misi baru?" Sahut Alora yang sudah siap dengan seragamnya.
"Hmm... gua tau deh alasannya!" Indra melirik Alora lalu beralih menatap Andre lagi dan melanjutkan kalimatnya "loe kerja yang bener ya!"
Usai kelas, Andre juga ke Kafe lalu duduk bersama Lia yang sibuk dengan laptopnya. Andre juga langsung membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Lah kak Andi udah pergi?" Lia yang terlalu sibuk hingga melupakan misi yang ingin ia jalankan.
"Apa? Ada abang gua juga?" Andre melirik ke segala penjuru namun tidak menemukan oknum yang di maksud, pemuda itu malah menemukan Alora yang sedang mengantar makanan lalu melambai ke arah gadis itu hingga Alora tersenyum cerah.
"Hai Alora!" Suara itu berasal dari pintu Kafe.
Lagi-lagi Key datang, gadis itu mencati meja setelah menyapa Alora dan langsung duduk di samping Lia. Lia agak terkejut saat mendapati orang lain duduk bersamanya.
"Loe?" Kata Lia terhenti.
"Iya gua Key! Kita pernah bareng juga kan? Boleh kan gua duduk di sini?" Key melirik Andre yang tampak sibuk sebentar lalu kembali menatap Lia.
"Ah iya!" Lia mengangguk mengiya kan jiwa people pleaser-nya masih mendarah daging.
"Tapi loe jangan berisik ya! Kita lagi serius ini!" Andre angkat bicara karena tau Lia tidak bisa menolakknya.
"Okey!" Key dengan senyumannya. Gadis ini membuka bukunya dan hanya menuliskan beberapa kalimat lalu memainkan hp nya.
"Ckckck! Orang-orang membosankan ini! Gimana gua tahan diam-diaman gini!" Batin Key menggerutu, jiwa ekstrovert-nya meronta ingin di lepas.
"Loe jangan datang hari ini! Di sini nggak aman!" Chat yang Key tuliskan yang salah satu kontak di chat WhatsAps nya. Tanpa sadar Gadis tomboy itu melirik sinis ke arah Alora yang sedang melayani tamu lalu melirik Andre yang duduk biasa aja di mejanya.
"Alora pacar loe kan?" Tanya Key tiba-tiba.
"Iya!" Andre menjawab seadanya karena malas meladeni.
"Lagi berduaan sama Beni tuh! Loe yakin dia cuman pacaran sama loe?" Sambung Key.
Lia langsung melempar tatapnya ke arah Key, karena kalimat tidak benar yang terucap itu.
Andre menoleh ke arah para karyawan Kafe, Alora dan Beni memang berdiri berdekatan yang satu membuat jus, satu lagi membuat kopi, tidak ada yang mencurigakan. Walaupun Andre curiga itu adalah salah satu cara Beni mengambil perhatian pacarnya.
"Maksud loe apa nanya gitu?" Lia yang tidak bisa menerima kalimat tidak benar tentang sahabatnya.
"Santai! Gua cuma nanyak!" Key kembali memakai senyumannya.
.
.
.
Tbc