My Secret Alora

My Secret Alora
Special Girl


Sore itu saat suara jangkrik mulai terdengar karena hampir magrib, seorang pemuda tinggi bertubuh kekar yang pastinya kerap kali memasang sorot mata tajam untuk mengintimidasi orang yang berada di sekitarnya. Pemuda bergelar psyco itu turun dari mobilnya bersama seorang gadis di depan Kafe milik ayahnya. Keduanya masuk ke Kafe itu dengan sikap tak acuh satu sama lain.


Tujuan utamanya hanyalah membuat gadis ini bekerja di sana. Beni langsung menemui Indra sekalu manajer. Di ruang manajer, keduanya duduk di sofa yang disediakan untuk tamu dan Indra juga ikut duduk bersama mereka, namun di bangku yang terpisah.


"Gua bawa karyawan baru!" Ucap Beni seadanya.


"Apa? Kenapa? Dia siapa?" Tentu Indra dilanda rasa heran.


"Ni cewe bakal kerja gantiin gua!" Sahut Beni santai.


"Sebentar! Bokap loe tau ini nggak?" Tanya Indra dengan serius.


Saat mendengar pertanyaan itu sorot mata gadis itu ikut berubah, tatapnya penuh tanda tanya.


"Itu tugas loe! Bantuin gua!" Sahut Beni lalu langsung keluar dari ruangan itu.


Suasana canggung tergambar sempurna. Indra yang masih bingung dengan terpaksa menghubungi Herman sang bos besar.


"Nama kamu siapa?" Tanya Herman pada gadis yang tampak lusuh dengan seragam SMA-nya.


"Saya Fathia!" Sahut gadis itu lalu kembali terdiam.


Indra mencoba menelpon Herman dan beruntung pria paruh baya yang dimaksud mengangkat telpon itu.


"Pak! Sepertinya Beni buat masalah lagi, dia bawa seorang anak SMA buat kerja di Kafe! Apa yang harus saya lakukan pak?" Indra tampak pasrah.


"Anak SMA? Apa lagi sekarang? Belakangan ini juga pengeluaran biaya hidup dia juga lebih banyak dari biasanya. Ck.. Siapa anak SMA itu?" Suara pria dari balik hp itu terdengar kesal.


"Namanya Fathia! Umurnya..." Indra melirik Fathia agar menjawab.


"16 tahun, tolong terima saya kerja di sini! Saya butuh uang untuk bayar biaya rumah sakit ibu saya! Dan saya juga harus lunasin utang saya sama cowo tadi!" Fathia memelas namun menggunakan nada tinggi hingga Indra terkejut, dan Herman bisa mendengar perkataannya dari jauh.


"Umurnya 16 tahun pak, sepertinya dia sedang kesulitan..." belum menyelesaikan kalimatnya, perkataan Indra langsung di potong bosnya.


"Terima aja dia!" Lalu Herman mematikan telponnya.


"Oke kamu di terima! Besok kamu datang jam 8 pagi! Eh.. kamu sekolah ya? Kalo gitu.. kamu masuknya jam 2 siang, karna besok libur kamu datang jam 8 pagi lalu temui saya lagi, besok akan saya jelaskan mekanisme kerjanya." Indra tampak lelah.


"Baik pak!" Gadis itu bersemangat dengan seyum merekah di wajah mungilnya dan tangan kanannya melakukan pose hormat.


"Sekarang kamu pulang dulu! Karna udah malam." Indra yang tampak lelah lalu duduk di bangkunya.


Dan Fathia pulang sembari bersenandung bahagia, walau ia menghentikan langkahnya sekali hanya untuk mengatakan "Beni jahat!" Dengan wajah kesal. Lalu kembali melangkah kegirangan sambil tersenyum.


...


Di sisi lain, Herman yang baru saja mematikan hpnya tampak larut dalam pemikiran yang serius.


"Fathia?"


Ia mengenal nama Fathia, namun apakah gadis itu adalah Fathia yang ia kenal? Pria paruh baya itu menghubungi sekretarisnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kemana anaknya Beni menghabiskan uangnya selama ini. Selain itu, Beni tidak pernah belajar dengan benar sejak masuk kuliah.


***


Keesokan harinya, pagi yang cerah di hari libur mengundang manusia dengan suka cita keluar untuk menikmati udara segar, walau dengan alasan yang berbeda. Karena beberapa dari mereka tinggal di lingkungan yang sama, mereka jauh lebih mudah bertemu tanpa sengaja dari pada ketika janjian untuk bertemu.


Dan minimarket di lingkungan komplek itu menjadi titiknya. Saat ini, Alora tertidur tanpa sengaja di kursi di depan minimarket itu dengan menempelkan sisi kiri pipinya di meja itu.


Suara bangku yang digeser seorang dengan jaket tudung hitam serta topi dan setelan serba hitam lalu duduk di bangku sisi lain meja di depan Alora yang tertidur.


"Loe lumayan cantik juga! Tapi sayang... gua nggak suka sama loe!" Ucap orang itu lalu menyeringai.


Namun, kenyataan juga memberikan ironi lainnya untuk kisah ini. Tiba saja pintu Minimarket itu terbuka dan siluet pemuda gagah yang tampak keren terlihat. Tentu saja dewa penyelamat berkedok psyco selalu ada di waktu yang tepat. Beni melirik tajam orang dibalik pakaian serba hitam itu sembari mendekat perlahan.


Namun, si jaket hitam itu menyadarinya. Dengan segera ia melarikan diri dengan langkah seribu. Namun sikap itu sangat mencurigakan hingga Beni tidak bisa tinggal diam dan mengejarnya. Pemuda ini bahkan melempar sembarang barang yang baru ia beli hanya untuk memastikan ia tidak kehilangan jejak orang itu.


...


Di sisi lain, beberapa detik kemudian Andre tiba di minimarket untuk keperluan pribadi, tentu saja ia melihat penampakan tak asing baginya. Alora yang tertidur di sembarang tempat.


Pemuda ini memilih duduk di depan gadis itu dan hanya menatap pacarnya sambil berpangku tangan di meja yang sama tanpa membangunkannya.


"Loe tidurnya nyenyak banget sih? Padahal udah gua bilang tidur sembarangan itu bahaya!" Tatap lembut itu membuat siapa saya yang melihatnya jatuh hati, apalagi dibarengi wajah tampan bak Cha Eunwoo.


"Alora..gua pengen loe tetap selalu di sini buat gua! Jangan pernah ninggalin gua ya!" Ucap pemuda itu lagi.


Alora mengernyitkan dahinya lalu membuka matanya setelah kalimat terakhir Andre. Perlahan ia mengangkat kepalanya sembari mengusap matanya.


Andre yang gemas melihatnya, menjulurkan tangannya untuk menyeka rambut yang menutupi wajah pacarnya.


"Huh? Loe kok di sini?" Tanya Alora yang baru menyadari pacarnya sudah di depannya.


"Loe yang ngapain tidur di sini?" Andre balik tanya sambil tersenyum.


"Tadi gua janjian jogging bareng Lia, tapi dianya nggak ada! Kemana sih manusia yang satu itu?" Alora mengakhiri kalimatnya lalu menguap. Lalu tiba saja ia membelalak-kan matanya lalu melirik Andre karena teringat pacarnya sedang menatapnya saat ia menguap, apakah wajahnya yang berantakan terlihat jelek? Lalu ia dengan segera menutup mulut dengan kedua tangannya.


Tingkah random Alora kembali membuat Andre tersenyum gemas.


"Bisa hentikan gerakan random loe nggak?" Tanya Andre dengan muka datar, "loe bisa-bisa buat gua serangan jantung saking gemesnya! Loe imut banget sih? Pacar siapa sih nih?" Sambung Andre sembari tersenyum.


Namun Alora dengan cepat bangun dari kursinya untuk menutup mulut Andre dengan tangannya sambil memasang wajah serius.


"Stop! Nggak usah rayu gua!" Ucap Alora.


"Kenapa?" Tanya Andre yang mulutnya masih ditempeli tangan gadis itu.


"Gua jadi malu kalo dirayu sama cowo ganteng gini!" Tangan Alora kemudian sontak menutupi wajahnya karena malu dan menjatuhkan wajahnya yang ditutupi tangannya ke dada Andre. Tentu saja Andre kembali tersenyum lalu memeluk pacarnya itu.


"Gua seneng banget bisa sama loe gini!" Ucap Andre sembari menepuk pelan punggung Alora di peluknya.


...


Di sisi lain, Beni masih mengejar orang yang tadi, namun apa boleh buat dia kehilangan jejak saat tiba saja seorang gadis menabraknya hingga kakinya kehilangan keseimbangan. Si orang berjaket hitam itu bersembunyi dengan cepat memanfaatkan keadaan.


"Beni? Loe apaan sih pake nabrak gua segala!" Gadis itu tampak kesal, apalagi ia terjatuh saat menabrak Beni dan masih belum bangun.


"Heh! Key! Gara-gara loe gua kehilangan jejak... udahlah! Dasar s!*l!" Beni yang juga kesal namun memilih pergi karena malas berurusan.


"Heh! Mau kemana loe? Bantuin gua bangun kek! Gimana kek! Udah nabrak nggak ada tanggung jawabnya lagi! Dasar psyco!" Key sibuk merepet namun Beni tidak peduli dan hanya melanjutkan jalannya.


Seperti yang kita tahu, hanya wanita spesial yang mendapat perhatian psyco yang satu ini.


.


.


.


Tbc