My Secret Alora

My Secret Alora
Day-1 Emosi


"Sepertinya kematian bukanlah jawaban, aku semakin menyadari betapa banyaknya orang-orang yang menginginkan kehidupanku!"


....


Hari hampir berakhir saat matahari perlahan mengeluarkan cahaya jingga. Kali ini Alora memutuskan untuk menginap di rumah neneknya, bagaimanapun bisa aja ini menjadi kali terakhirnya bersama neneknya.


Terlihat nenek bersama Ina dan suaminya sedang menikmati makan malamnya dan Alora yang duduk di sisi neneknya.


"Lora makan yang banyak! Biar cucu nenek nggak sekurus ini, jangan nunda makan kalo lapar!" Ucap nenek sembari memberikan lauk yang di letakkan di piring gadis itu.


"Iya nek!" Sahut Alora lalu tersenyum.


"Bener tuh! Kalo butuh uang bilang aja ke tante biar tante jajanin, iya nggak mas! Jangan sampe kelaparan. Anggap tante kayak mama Lora ya!" Ucap Ina lalu tersenyum.


Alora juga membalas senyuman, namun ia berkedip berkali-kali tidak memberikan kesempatan bagi cairan bening yang akan keluar dari matanya.


"Lora harus hidup bahagia pokoknya! Tante menyesal banget dulu nggak pulang lebih awal! Coba aja tante dulu nggak terlibat masalah, tante mungkin nggak akan kehilangan kakak juga, dan Lora bisa hidup lebih nyaman tanpa perlu bekerja sekeras itu sampai kurus begini!" Ina agak emosional.


"Udahlah Na!" Suami Ina mengelus pelan punggung Ina.


"Nenek seneng setidaknya kalian masih di sini! Jangan ada yang pergi tanpa pamit lagi! Nenek pengen kalian selalu bersama sepanjang kehidupan kita!" Sahut Nenek.


Alora hanya membalas senyuman dengan sedikit rasa bersalah.


"Kenapa semua orang melarang ku pergi?" Batin Alora.


...


Malam semakin larut, setelah menghabiskan waktu mengobrol di ruang tamu, Alora pergi tidur bersama neneknya di kamar nenek.


"Loh, Lora kenapa nggak tidur di kamar Lora?" Tanya nenek yang baru saja membaringkan tubuhnya lalu melihat Alora masuk ke kamar itu.


"Lora pengen bareng nenek!" Ucap gadis itu lalu ikut berbaring di kasur nenek, lalu memeluk neneknya layaknya anak kecil.


"Lora nenek udah gede!" Ucap nenek sambil mengelus rambut panjang gadis itu.


"Nek!" Panggil Lora pelan dan tampak ragu melanjutkan kalimatnya.


"Iya, ada apa nak?" Sahut Nenek lembut.


"Nenek bahagia nggak?" Tanya Alora.


"Nenek bahagia banget setiap Lora pulang dan selalu ada buat nenek! Harusnya nenek yang nafkahin Lora, nenek selalu merasa menyesal dengan keputusan nenek waktu itu! Nenek terlalu takut kehilangan kakek setelah kehilangan orangtua kamu, jadi nenek membiarkan kamu dirawat orang lain agar Lora bahagia, nenek nggak pernah berpikir kalo kita semua akan berakhir seperti ini!" Ucap Nenek dengan cairan bening mengalir begitu saja.


"Nek, Lora pengen pergi jauh boleh?" Pertanyaan lain dari gadis itu membuat nenek sedikit tercengang. Nenek merangkul Alora lebih erat.


"Kalo Lora pergi nenek akan kesepian lagi! Kehilangan adalah hal yang sulit untuk dihadapi nak. Kehidupan adalah anugerah yang harus kita syukuri, penyelesaian masalah adalah dengan menghadapinya bukanlah kematian. Memang dengan mati kita akan terbebas dari masalah itu, tapi gimana dengan perasaan orang-orang yang ditinggalkan dalam kesedihan?" Nenek menjelaskan karena tahu betul maksud gadis itu.


"Tapi gimana kalo kehidupan Lora cuma merenggut kebahagian orang lain nek?" Tanya Lora dengan cairan bening yang membasahi kasur itu.


"Jangan tinggalin nenek! Nenek nggak akan maafin Lora sampai kapan pun kalo Lora pergi!" Ucap nenek masih memeluk erat gadis itu di peluknya.


"Berhentilah untuk mencoba bunuh diri! Kamu tidak bisa terus menemukan keberuntungan untuk hidup!" Batin nenek sembari mengusap tangisnya.


...


.


.


D-1


Paginya, Alora membawa pulang sarapan untuk ayahnya dari rumah nenek.


"Lora! Hidup kamu berharga! Jangan di sia-sia kan ya!" Pesan nenek pagi ini, membuat gadis itu dalam pemikiran mendalam.


"Apa yang harus ku lakukan? Semua ini mulai menyeleweng, harusnya keputusan awalku sudah benar, aku akan pergi di jalan yang sama merenggut orang tua ku. Tapi kenapa rasanya hatiku kosong." Batin Alora sembari duduk di dalam bus dan menyenderkan kepala di jendela bus di tengah guyuran hujan itu, yang mendukung cuaca kelam hari itu.


Saat turun dari bus, Alora tidak menyadari si jaket tudung hitam itu mengikutinya. Gadis itu berjalan pelan dengan kotak sarapan di tangannya. Namun orang itu semakin mendekati Alora, tangan orang itu terangkat perlahan hendak menyentuh bahu gadis itu.


"Bunuh gua!" Ucap Alora yang membuat orang itu menghentikan aksinya.


Gadis itu berbalik membuat orang itu sedikit mundur, "apa yang loe mau dari gua? Semua orang di dunia tau kalo gua miskin! Loe juga mau gua mati?" Bentak Alora yang terlalu marah di tambah beban pikirannya.


"Cepat bunuh gua! Kalo dibunuh gua nggak akan merasa bersalah sebesar itu! Cepaaat!!" Alora berteriak saat dirinya menjadi sangat emosi.


"Kalo gitu loe aja yang bunuh gua!" Terdengar suara seorang gadis dari balik jaket itu. Orang itu menyerahkan pisau yang masih bersarung Pada Alora.


...


Di sisi lain, Hilman yang tidak mendapat kabar dari Alora sejak tadi malam merasa cemas.


"Ali! Ali!" Panggil Hilman hingga Ali keluar dari kamarnya.


"Ayo kita cari kakak kamu!" Ucap Hilman pada anaknya.


"Males ah!" Sahut pemuda itu namun Hilamn menarik tangannya untuk ikut.


"Apaan sih pah!" Ali sedikit memberontak.


"Dia pergi gara-gara kamu! Lora! Kakak kamu itu, dia lagi buat salam perpisahan dengan semua orang. Kamu yakin pengen dia mati?" Hilman tidak bisa lagi menahan uneg-unegnya.


Tak lama setelah kalimat itu, terdengar bunyi dering pesan dari hp kedua pria yang sedang berdebat itu. Keduanya mengecek hp masing-masing ternyata isinya adalah transfer-an uang dalam jumlah besar.


"Apa lagi sekarang? Kenapa dia transferkan uang nya sebanyak ini?" Hilman sangat marah pada dirinya sendiri hingga mengacak-acak rambutnya.


Ali juga mendapat notif yang sama.


"Lihat! Kamu bisa lihat sendiri, dia sebaik itu! Cepat cari Lora dan bilang kamu menyesal dan pengen dia hidup!" Ucap Hilman agak memaksa.


"Pah, Lora bukan anak kecil yang bakal bener-bener bunuh diri cuman gara-gara pertengkaran gitu!" Sahut Ali.


"Tapi dia Alora! Orang tuanya meninggal di depan matanya saat umurnya 5 tahun, dalam hidupnya penuh trauma tapi tetap mau bekerja siang malam ketika keluarga barunya dililit hutang! Kamu nggak tau tiap hari dia pengen bunuh diri nyusul orangtuanya?" Cairan bening mengalir begitu saja di balik emosi yang menggebu itu.


"Cepat pergi cari dia!" Bentak Hilman yang kehilangan kesabaran itu.


...


Di sisi lain, Alora masih diam tidak merespon perkataan si jaket tudung yang meminta dirinya di bunuh dan menyodorkan pisau itu ke arahnya.


"Gua bukan pembunuh!" Sahut Alora.


"Tapi loe pengen bunuh diri?" Tanya orang itu.


Tiba saja seorang pemuda melancarkan jurusnya menendang tangan yang memegang pisau itu. Gadis berjaket tudung itu langsung berlari karena takut identitasnya terbongkar.


"Lora loe nggak apa kan?" Tanya pemuda itu tampak khawatir, namun melihat wajah Alora yang biasa saja.


"Apaan sih Ben!" Sahut Alora lalu melanjutkan langkahnya.


"Loe gil*!" Beni menghentikan langkah Alora dengan berdiri di delan gadis itu.


"Berhenti mencoba untuk mati! Kalo ada bahaya loe lari! Jangan di hadapin gitu! Kalo loe terluka gimana?" Beni berkata dalam emosi.


"Wah loe perhatian banget gua jadi terharu!" Sahut Alora.


"Kalo loe mau mati, gua juga akan ikut mati bareng loe! Jadi bilang aja kapan dan di mana biar ada dua manyat yang di angkut ambulan besok!" Ucap Beni yang semakin kesal.


"Apaan sih loe? Makin ngaco!" Alora menggeleng kepala mendengar kalimat Beni.


"Loe tau itu ngaco kan? Terus kenapa loe ngomong mati segampang itu? Sadar! Sadar!" Beni membentak gadis itu karena terlalu kesal dan tidak mampu menahan emosinya.


"Gua capek sama hidup gua! Gua cuman pengen pergi dan gua udah punya alasan sekarang! Kenapa orang-orang nggak mau mengerti?" Alora ikut membentak karena kesal dan tampa sadar mengeluarkan cairan bening itu.


Tanpa sadar, ada dua orang sedang menonton sembari bersembunyi dan hanya mendengarkan dalam diam.


Salah satunya adalah Ali yang menyadari bahwa perkataan ayahnya benar tentang kakaknya. Namun rasa gengsinya lebih besar dari pada penyesalan itu.


"Tolong biarkan gua sekali ini aja!"


.


.


.


Tbc