
"Semua dimulai ketika saya mengangkat Alora sebagai anak saya!" Kata Ayah angkat Alora bernama Hilman.
Andi yang duduk meneguk kopinya di Kafe itu mendengarkan dengan baik ketika Hilman yang duduk di meja yang sama menceritakan tentang gadis bernama Alora itu.
"Saya punya segalanya, tapi tidak punya anak. Hingga suatu hari ketika orangtua Alora meninggal saya merasa sangat prihatin, seorang anak ditinggalkan sendirian. Nenek dan kakek merawat Alora dengan baik menggantikan orangtuanya, namun suatu hari Kakek jatuh sakit, hingga nenek kewalahan,"
"Alora si gadis kecil dengan trauma yang mendalam dan tidak tertarik akan kehidupannya, dan kakek semakin sekarat hingga nenek menjual banyak aset mereka untuk pengobatan suami dan cucunya. Hingga suatu hari, nenek meminta saya merawat Alora."
"Semua sama saja, setelah beberapa bulan saya baru mengerti, Alora kecil terjebak dalam ilusinya, makanya ia hanya duduk diam atau tidur. Namun sejak saya mulai mengajaknya keluar rumah, saya melihat perbedaan hingga gadis itu berbicara untuk pertama kalinya."
...
Di mulai 14 tahun yang lalu,
Alora kecil selalu meminta ayahnya untuk membawa dirinya ke taman bermain. Sesampai di sana ia juga selalu menghampiri anak laki-laki yang duduk di sudut taman itu lalu duduk di sampingnya. Mereka terlihat akur tanpa sepatah katapun, hanya duduk dan menghabiskan waktu diam saja, hingga Hilman mengajaknya pulang.
Hal itu terus berulang selama hampir setahun dan menjadi rutinitas si gadis kecil itu, begitupun anak laki-laki yang selalu berada di tempat yang sama. Hingga suatu hari tidak seperti biasanya, anak laki-lakiĀ itu masih di tempat yang sama duduk sambil menangis. Begitu sampai di taman bermain bersama ayahnya usai pulang sekolah, Alora langsung melepaskan tangan ayahnya lalu berlari ke arah anak itu.
"Kamu kenapa?" Kalimat pertama setelah hampir setahun akhirnya mereka berbincang.
"Mereka akhirnya pisah! Mama sama papah! Huhu.." sahut anak itu dalam isakan tangisnya.
"Kenapa?" Tanya Alora dengan tatap polosnya.
Anak itu menatap Alora kecil itu dengan air mata yang mengalir lalu menjawab dengan pertanyaan, "Aku harus pilih siapa? Mama atau papah?"
Pertanyaan itu membuat gadis kecil imut itu berpikir sebentar lalu melirik Hilman yang duduk di bangku sejauh 2 meter darinya tanpa mengganggu mereka namun tetap memperhatikan mereka.
"Papah! Aku akan pilih papah! Saat ini aja papah ada bersamaku!" Sahut Alora dengan tangan kanannya menunjuk ke arah ayahnya.
Hilman tersenyum bangga menatap anak gadisnya yang bahkan menghibur anak lain saat kepribadiannya sendiri masih dipertanyakan. Tak lama terdengar seseorang memanggil-manggil anaknya.
"Beni! Beni! Kamu di mana nak?" Tampak Herman yang datang mencari anaknya.
Anak laki-laki itu teralih perhatiannya ke arah Herman, ia hanya menatap kosong hingga Herman sampai di depan matanya.
"Beni anak ayah! Ikut ayah ya! Kita akan pergi dari sini dan hidup lebih baik, kamu mau kan?" Tanya Herman pada anak itu.
Anak laki-laki itu mengangguk pelan lalu menoleh ke arah Alora kecil dan berkata,
"Aku akan ikut ayahku! Kuharap kita nggak akan ketemu lagi! Berhenti duduk di samping orang yang nggak kamu kenal! Nggak semua orang baik!" Kata Beni kecil itu lalu menarik ayahnya untuk pergi.
Hilman menghampiri Alora ketika mendengar kalimat itu dari anak laki-laki itu.
"Dia teman Lora kan? Kok dia bilang orang yang nggak dikenal? Kalian berantem?" Tanya Hilman pelan.
"Dia bukan teman Lora pah!" Sahut gadis itu.
"Terus kenapa Lora selalu duduk di samping dia?"
"Lora nggak suka ditanya, tapi Lora akan jawab! Karena dia terlihat kesepian dan Lora juga kesepian, jadi Lora nemenin dia! Tapi sekarang Lora nggak akan gitu lagi, dia melarang Lora melakukan itu!" Suara imut itu berhasil membuat Hilman kehilangan kendali lalu meneteskan cairan bening dari matanya. Ia tidak bisa melewatkan kalimat yang menyatakan anak gadisnya kesepian.
...
Umur gadis kecil itu semakin bertambah, ia juga semakin pandai bersosialisasi walau ia tidak melakukannya dan tidak banyak bicara. Tentu karena dia dari keluarga kaya banyak anak-anak yang mendekatinya hanya karena status itu lalu menggosipkannya di belakangnya. Semua teman yang ia temukan selalu sama hingga ia masuk SMP.
Hari kebangkrutan Hilman pun tiba, mereka jatuh miskin dalam sekejap karena ditipu oleh rekan kerjanya. Begitupun kehidupan Alora ikut berubah. Di mulai dari teman-teman yang meninggalkannya hingga ia harus menerima cacian dan makian mereka yang datang menagih hutang akibat kebangkrutan ayahnya.
Gadis itu dipindahkan ke sekolah negeri agar biaya SPP yang dibayarkan lebih murah. Kepribadiannya tetap sama, gadis pendiam yang duduk sendirian dan tidak bersosialisasi. Dulu dia punya teman hanya karena mereka mendekatinya terlebih dahulu mengingat statusnya, namun kini orang-orang menjauhinya karena ia miskin.
Gadis yang tidak peduli pada apapun, dan siapapun hingga ia mengenal Lia dan menjadi lebih ceria walau dibalut wajah datar. Saat itu Alora mulai mencari pekerjaan dan bekerja untuk membantu membayar hutang ayahnya.
Setiap pulang ke rumah, Anita sang ibu hanya mengeluh tentang kemiskinan mereka dan lelah pada suaminya. Alora tidak bisa diam saja, makanya ia ikut bekerja.
Saat kelas 3 SMP, gadis itu bertemu dengan Steve yang tiba saja mendekatinya dengan misinya sendiri. Walau Alora tidak dengan mudah ditaklukkan, namun Steve berhasil saat menggunakan uangnya. Kemiskinan membuatnya lelah dan sulit menolak bantuan yang tiba.
Layaknya seorang malaikat penolong, Steve dengan topengnya memberikan kenyamanan dan bantuan keuangan pada Alora yang masih polos itu. Namun, saat mereka hampir lulus dari SMP, sifat asli Steve terungkap. Misinya adalah menjadikan Alora sebagai pacar dan dia telah menang taruhan sehingga menerima 2x lipat dari uang yang ia keluarkan. Saat mengetahui yang sebenarnya terjadi, Alora langsung menemui Steve lalu memutuskan hubungan mereka.
Namun, ia tidak menyadari Steve tidak ingin putus darinya dan terus mengganggu Alora dengan sikap kasar. Hingga suatu hari ancaman datang.
"Kalo loe nggak dateng nanti malam ke pesta gua sebagai pacar gua, gua bakal buat loe sengsara!" Kata Steve yang menatap tajam Alora yang ia pagari dengan kedua tangannya di dinding belakang sekolah itu. Senyum seringai Steve tidak pernah tertinggal, lalu ia melepaskan Alora dan pergi dari sana.
Namun Alora tidak bisa datang karena pekerjaannya. Lia yang diam-diam menguping berinisiatif melakukan sesuatu.
Malamnya, Lia datang menggantikan Alora lalu mengirim pesan kepada Alora saat telah tiba di sana. Sepertinya tempat itu memang di desain untuk menghina Alora yang miskin, setiap kemewahan dibalut keangkuhan, dan Lia mengetahui maksud tersembunyi Steve makanya ia ingin menyadarkan Steve yang psyco itu.
Namun tidak sesuai rencana, Lia mendatangi Steve dengan berkata,
"Gua gantiin Alora, karena gua tau loe bakal malu kalo Lora datang dengan seragam kerjanya!"
"Loe ngertiin gua banget! Tapi yang gua butuhin Alora bukan loe!" Steve menatap tajam Lia yang tidak kalah itu.
"Kalian udah putus! Tolong sadar dan biarin Lora hidup tenang!" Lia yang sangat bertekad.
"Hahahahhahahahhahahahh!" Tawa yang terdengar mengerikan itu hingga semua perhatian tertuju ke arahnya.
"Guys!" Steve memanggil teman-temannya, seolah sudah terkode semua yang akan mereka lakukan ke Alora kini dilampiaskan ke gadis itu, lalu mereka bersama-sama menyiram Lia dengan minuman masing-masing setelah bergerombol membentuk lingkaran.
"Loe sendiri yang datang dan minta! Harusnya loe kirim aja sahabat loe! Jadi loe nggak perlu repot!" Steve mendekat ke arah Lia yang sudah basah itu lalu menarik tangan Lia ke luar gedung diikuti oleh semua orang dan mendorong gadis itu ke kolam renang di sana. Semua serentak menertawakan gadis yang terlihat menyedihkan itu.
"Jadi dia Alora?" Tanya salah satu teman Steve.
"Bukan! Dia mainan kita yang pertama! Target utama kita akan datang bentar lagi gua yakin!" Seringai yang tidak hilang dari wajah pemuda itu.
*Seperti kata Steve, Alora yang berlari seperti orang gila begitu mendapat pesan dari Lia yang menggantikannya. Karena ia tahu betul Steve adalah orang g*la yang akan melakukan apapun demi kepuasannya semata*.
...
Semua orang menertawakan Lia yang tidak bisa berenang, kakinya tidak bisa mencapai lantai kolam karena kedalaman kolam yang terlalu tinggi baginya.
"Tol.. long! Tolong!" Lia berusaha sekuat tenaga mengayunkan tangannya menuju dinding kolam agar busa naik namun tidak berhasil.
Hampir 10 menit Lia di dalam air dan masih berusaha meminta tolong, matanya sudah perih, tangannya sudah lelah dan terasa keram hingga perlahan ia menyerah serta hembuasan nafas terakhir dari oksigen yang ia hirup bersamaan air masuk kehidungnya.
Alora yang masih berlari akhirnya tiba dengan nafas terengah-engah. Ia mendapati Lia yang tenggelam dalam air itu membuatnya langsung melompat untuk menolong sahabatnya, namun perhatian semua orang kembali mengarah ke kolam itu saat terdengar suara air akibat lompatan Alora.
"Akhirnya bintang utama tiba!" Steve dengan senyuman sembari bertepuk tangan membuat semua orang tepuk tangan.
Alora berusaha menaikkan Lia ke darat dengan mendorong Lia menggunakan sisa tenaga terakhir yang ia miliki.
"Lia bernafas! Tolong bernafas!" Alora panik.
Lia akhirnya batuk dan mengeluarkan air yang terminum tadi. Namun nafas Lia tidak teratur dan mata yang kesulitan terbuka serta tubuhnya melemas. Alora mengambil Hp dari kantung celananya yang sudah basah itu untuk menelpon ambulan tapi hp itu sudah mati karena kemasukan air.
"Hp murah? Rusak?" Tanya Steve dengan nada mengejek. Pemuda itu mendekati Alora dan Lia yang terbaring itu.
"Btw seru banget dramanya ya guys! Gimana? Loe butuh bantuan gua?" Nada ledek itu terdengar lagi.
Alora menatap tajam pemuda di depannya itu.
"Loe marah? Tapi nggak bisa apa-apa? Dasar miskin hahaha!" Steve semakin menjadi.
Alora membangunkan Lia lalu memapahnya untuk pergi saat mereka dijadikan tontonan semua orang di pesta itu. Saat beberapa langkah menuju pintu, Steve berteriak,
"Jangan lupa balikin semua yang loe ambil! Dasar lintah! Balikin semua duit gua!" Steve tampak puas menghina Alora.
"Siapa suruh loe putusin gua!" Batin Steve.
***
.
.
"... Sejak saat itu Lia punya trauma, dan Alora semakin membenci orang-orang di sekitarnya. Dia nggak bisa percaya sama siapapun dan menyendiri," kata Hilman pada Andi dan Herman yang juga sudah ada di sana.
"Jadi itu alasannya? Alora selalu menolak kalo diberi uang tapi dia bakal mau kalo ada timbal balik!" Ucap Herman.
"Makasih banyak Om Hilman! Cerita Om bakal jadi referensi saya buat cari bukti kalo Steve memang bersalah dan penyebab kecelakaan Andre dan Alora kita bakal temuin pelaku sebenarnya," kata Andi tampak yakin.
"Saya harap kamu berhasil! Saya juga marah atas semua yang terjadi. Alora tidak pernah bisa terbuka sejak hari itu," sahut Hilman.
"Om Hilman!" Panggil Lia yang baru datang dengan nafas terengah-engah. Mata gadis itu sebentar melirik Andi lalu menuju kursi Hilman.
"Kenapa Lia?" Tanya pria paruh baya itu.
"Lia harus pulang mami Lia sakit, jadi Lora sendirian di rumah!" Sahut Lia.
"Okey makasih ya Lia! Kalo gitu ayo Om anterin kamu pulang dulu!" Hilman bangkit dari kursinya.
"Jangan om! Lora lebih butuh Om! Kalo dia nekat ngapa-ngapain kek dulu sendirian gimana?" Lia yang mengkhawatirkan sahabatnya lebih dari dirinya sendiri.
"Kalo gitu saya duluan ya!" Hilman langsung pulang. Begitupun Herman ikut pulang dengan menawarkan pulang dengan mobilnya pada Hilman.
"Kalo gitu biar gua yang antar loe pulang!" Ucap Andi pada Lia lalu tersenyum.
"Stop! Jangan senyum!" Sahut Lia.
"Kenapa?"
"Aku nggak akan bisa lupain senyuman itu dan bisa berefek ke insomnia overthingking, jadi Lia pulang sendiri aja!" Lia membalikkan tubuhnya lalu melangkah.
Namun Andi meraih tangan Lia hingga langkahnya terhenti.
"Lia! Stop! Stop buat gua khawatir! Ikut gua!" Andi membawa gadis itu menuju mobilnya lalu membuka pintu mobil dan membuat Lia naik ke mobil itu.
Lia dengan wajah cemberut itu berakhir diantar Andi dan hanya diam aja sepanjang perjalanan. Begitu tiba ia langsung turun dan Andi juga ikut turun.
"Lia nggak perlu bilang makasih kan? Lia nggak minta dianterin tapi dipaksa!" Kata Lia lalu menuju pintu rumahnya.
"Langsung tidur! Jangan terlalu dipikirin overthingking nggak baik!" Ucap Andi namun Lia tidak acuh lalu langsung masuk ke rumahnya.
"Tu cewe imut banget sih!" Gumam Andi.
Di sisi lain, di balik pintu Lia juga bergumam kesal.
"Apaan? Overthingking emang bisa diatur apa? Duh jantung pelanin dikit dong gua capek!" Lia mengelus dadanya.
.
.
.
Tbc