
Cafe yang sepi karena masih pagi, tapi dua insan ini sudah terlihat di pojok Kafe dengan dua cangkir kopi tertata di atas meja mereka. Alora dengan penampilan jeans scuba dibalut kaos dan kemeja apa adanya itu tampak fokus menatap layar laptop menyala dan jemari yang bermain di atas keyboard. Dan rekannya dengan tampilan boyfriend material yang sederhana namun terlihat rapi dan cool itu asik mengarahkan sorot matanya ke arah gadis di sampingnya dengan kepala agak miring berpangku pada tangannya.
Bunyi pinyu Kafe terbuka seorang pemuda berpenampilan rapi dengan kemejanya masuk lalu melempar tatap ke arah Alora. Gadis itu juga melirik pemuda yang baru datang itu.
"Pak Indra!" Panggil Alora sembari melambaikan tangannya.
"Hei Alora!" Sahut Indra sang manajer Kafe yang menghampiri gadis itu.
"Pak, saya minta waktunya sebentar untuk wawancara, tentang manajemen Kafe boleh kan pak?" Tanya Alora dengan senyuman di wajahnya.
"Buat tugas kuliah ya? Boleh kok! Tapi bentar, saya harus ke belakang dulu ya!" Sahut Indra lalu melanjutkan aktivitas kerjanya di pagi hari memeriksa persediaan Kafe.
Alora kembali menatap laptopnya, dan Andre yang masih menatap pacarnya masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
Tak lama, bunyi gemerincing lonceng kecil di pintu Kafe kembali terdengar, pemuda yang dikenal sebagai psyco memasuki Kafe itu juga. Tidak menunggu lama ia mendapati Alora lalu duduk di depan gadis itu. Beni melirik kedua insan yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Indra bawain gua minum!" Teriak Beni terdengar hingga belakang. Dan tentu saja teriakan itu mengundang tatap dari dua orang di depannya.
"Nggak usah rusuh bisa nggak?" Ucap Alora sambil melirik Beni sebentar lalu kembali ke pekerjaannya.
Begitupun Andre yang melirik tajam Beni sebentar lalu kembali menatap gadisnya. Beni menyadari Andre hanya terus memperhatikan Alora sedari tadi.
"Gausah loe padangin gitu terus! Cewe loe nggak bakalan langsung lari juga pas loe ngedip! Santai aja bro!" Beni dengan mulut rembesnya.
"Gua lagi kangen sama cewe gua! Pengen genggam tangannya tapi dia lagi sibuk!" Sahut Andre santai.
"Ciih!" Beni melempar senyum sinis.
"Loe nggak usah ikut campur! Cari pacar sana! Nggak usah gangguin gua!" Andre dengan nada sindiran lalu tersenyum.
Alora akhirnya menyelesaikan tugasnya, begitupun dengan wawancara itu.
"Ben! Awas jangan samain hasil interview loe sama gua! Gua nggak mau ada masalah, jadi mohon kerja sama nya!" Ucap Alora yang kesal Beni ikut-ikutan mencatat hasil dari wawancaranya dengan Indra sebagai manajer.
"Santai aja! Gua nggak sebodoh itu! Lagian gua masuk kuliah juga karna loe kan? Berkat loe gua jadi sadar kalo gua ini pinter tapi menaruh harapan pada hal yang salah!" Beni dengan penjelasan panjangnya. Lalu langsung bangkit dari kursinya dan pergi.
...
Setelah dari Kafe, Andre dan Alora langsung ke Kampus dan masing-masing menuju fakultas mereka untuk masuk mata kuliah yang berlangsung. Setelah berpisah karena perbedaan arah, Andre tampak lesu dan tatapnya sendu. Pemuda itu masih memikirkan sikap Alora yang semakin berbeda dari biasanya. Dan alasan terbesar kenapa Alora malah memilih orang lain untuk menyelesaikan masalahnya bukan dirinya.
"Al! Loe sadar nggak sih gua pengen loe jujur sama gua!" Batin Andre sembari dalam langkahnya.
...
3 jam kemudian, mata kuliah usai semua mahasiswa satu-persatu keluar dari kelas mereka. Tak terkecuali Andre yang keluar kelas lalu diikuti Ziva di belakangnya.
"Ndre tungguin gua!" Ziva berlari kecil menyamakan langkahnya dengan pemuda itu saat Andre sudah keluar dari gedung universitas mereka.
Tak lama berjalan, tiba saja seorang gadis manis menghentikan langkah Andre begitu juga dengan Ziva yang menjadi penonton.
"Ini buat kamu!" Ucap gadis manis itu lengkap dengan senyuman membentuk setengah lingkaran di bibirnya sembari menyerahkan sebuah bingkisan berisi coklat di dalamnya untuk Andre.
Namun Andre hanya menatap kosong dengan muka datarnya.
"Gua udah punya pacar! Loe nggak masalah gua nerima hadiah dari loe?" Kalimat yang keluar dari mulut Andre, seolah kepribadiannya berubah.
"Iya terima aja! Gua juga tau loe punya pacar! Tapi gua pengen ngungkapin perasaan gua aja! Nggak ada yang salah dengan jatuh cinta!" Sahut gadis itu lalu berbalik dan terlihat sedih.
"Wah loe kejam banget! Setidaknya biarin dia ambil kesempatan dulu!" Ziva angkat suara sembari menggeleng kecil kepalanya. Tak sengaja Ziva melempar tatap dan menemukan dua oknum yang menarik perhatiannya.
"Di saat loe kejam sama cewe yang deketin loe, tapi lihat deh di sana! Cewe loe lagi bareng cowo lain!" Ziva menunjuk ke arah Alora yang sedang berjalan bersama Dian.
"Terus kenapa? Gua juga lagi sama cewe lain (Ziva)!" Kalimat Andre yang membuat Ziva kehilangan kata-kata.
Di sisi lain, Dian yang baru saja menemukan Alora lalu mengikuti gadis itu.
"Hei! Lia kemana kok nggak masuk hari ini?" Tanya Dian tanpa basa-basi.
Alora yang terlihat malas pun menjawab, "Lia demam! Sebenarnya gua lagi nggak pengen diganggu jadi..."
"Loe mau ke mana sekarang?" Dian langsung memotong kalimat Alora yang belum ia selesaikan.
"Kenapa?"
"Kalo loe mau ke tempat Lia gua ikut ya!" Dian memasang senyum untuk meyakinkan Alora.
"Kenapa?"
"Gua mau jengukin Lia lah! Ayuk!"
"Untuk apa?"
"Sebagai teman yang perhatian pengen jenguk nggak boleh?" Dian tampak mencari Alasan.
"Oh sebagai teman, gua pikir loe suka sama Lia! Tapi sayang gua nggak ke sana! Gua mau nemuin pacar gua, loe pergi sana! Nanti pacar gua marah loe deket-deket!" Alora melanjutkan langkahnya lalu mengeluarkan hp dari tasnya.
"Maksud loe Andre marah? Gaakan kali! Dilihat bagaimanapun Andre bisa dengan mudah dapatin cewe manapun, sorry nih.. jangan terlalu cuek gitu, bisa-bisa Andre ninggalin loe karena nggak tahan!" Dian yang kesal melancarkan kalimat pahit.
"Maksud loe apa?" Alora tampak serius.
"Loe bahkan nggak bisa jujur sama diri loe sendiri, apalagi sama cowo loe! Yaah walaupun gua baru belajar psicologi, gua bisa tau loe cewe yang punya banyak masalah dan loe juga akhirnya tanpa sadar menyeret orang terdekat loe ke dalam masalah itu!" Ucap Dian dengan sifat sok taunya.
"Trus mau loe apa? Jangan sok ngajarin kalo loe sendiri belum berhasil. Kalo suka sama Lia deketin Lia nya bukan sahabatnya! Dan satu lagi! Gua yang jalanin hidup gua jadi nggak usah sok peduli!" Kalimat Alora yang terdengar kesal lalu mempercepat langkahnya.
Andre yang juga mendengar perkataan Dian pada pacarnya yang membuatnya marah dan ingin menghampiri pemuda itu. Namun baru selangkah ia melangkah dari tempatnya berdiri tadi, tiba saja seseorang lebih dulu menarik Dian hingga tubuhnya berbalik.
"Jaga omongan loe! Jangan sok jadi psicolog karna loe cuma cowo kepo yang nguntit kehidupan orang lain!" Kata Beni dengan wajah garang itu.
"Huh? Pahlawannya datang! Heh Beni bukannya yang harusnya datang itu Andre pahlawan sebenarnya? Jangan jadi cowo bodoh menyedihkan! Udah tau loe di tolak tapi sok jadi pelindung!" Kalimat Dian yang tidak bisa di hentikan.
Beni hanya diam saja namun tatap tajam itu tidak bisa ia tahan.
"Loe juga akan ditolak bodoh!" Batin Beni yang malas ia ladeni.
"Lagian dari semua cewe cantik kenapa Alora yang kalian perebutkan? Kalo dilihat lebih cantik Lia, apa kelebihan Alora? Karna dia miskin? Jadi lebih mudah dikendalikan gitu? Hahah" Dian terus melontarkan kalimat celaan karena kesal.
Bhuk dubrak...
Suaranya jelas terdengar, kedua oknum lain yang menyaksikan terkejut melihat tindakan Andre yang tiba saja melayangkan tinjunya ke arah Dian. Pemuda yang ditinju itupun jatuh ke tanah, Dian terlihat shock dengan apa yang ia alami.
Beni tersenyum sinis dan Ziva masih shock menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya.
"Ini peringatan dari gua!" Kata Andre yang penuh amarah.
.
.
.
Tbc