My Secret Alora

My Secret Alora
Andre Kenapa?


Melihat Beni duduk di samping Alora, Andre masuk ke kelas lalu duduk di bangkunya, mengeluarkan earphone-nya dan memakainya. Pemuda itu menghidupkan lagu dengan volume keras lalu merebahkan kepalanya ke atas meja.


Alora melirik Andre yang duduk dua bangku selang dari kanan di baris ketiga dari depan, sedangkan bangku Alora ada di sudut kelas. Gadis itu tampak khawatir dengan sikap Andre yang mengabaikannya.


Lia juga akhirnya memasuki kelas sehabis dari kantin. Mendapati Beni yang duduk dibangku miliknya dan Andre yang tampak seperti merajuk membuat gadis itu berpikir sejenak sebelum mengusir Beni dari bangkunya.


"Ben! Itu bangku gua!" Ucap Lia.


Beni si psyco tidak banyak bicara itu, langsung bangkit dan keluar dari kelas itu. Satu-persatu siswa lainnya juga mulai memasuki kelas.


...


Keesokan harinya, Alora masih berangkat bersama Andi, Andre dan Lia dalam mobil itu. Suasana dalam mobil itu yang hening, masing-masing punya pemikiran sendiri-sendiri.


Lia masih memikirkan cara mendekati Kak Andi dengan terus menatap pemuda itu. Walaupun Lia adalah tipe yang seru untuk dijadikan teman, namun sebenarnya dia seorang introvert. Dia tidak tau cara mendekati orang lain, ia butuh alasan untuk semua hal yang dia lakukan, seseorang yang mudah overthingking hanya karena hal kecil. Oleh karena itu, bahkan untuk memulai percakapan dengan orang yang ia kagumi ia butuh topik yang tepat dan pastinya dengan alasan yang tepat.


Di sisi lain, Andre sedang berada dalam fase yang belum sepenuhnya mengerti perasaannya sendiri. Dia bingung apa yang membuatnya begitu sedih saat melihat Alora bersama Beni. Dan dia juga merasa tidak berguna karena Alora tidak pernah menceritakan apapun padanya. Bahkan memulai percakapan dengan gadis itu juga sangat sulit, Alora hanya menjawab saat ditanya atau ia akan diam saja.


Andi melirik Alora dan dua orang lainnya melalui spion mobil. Semua orang merenung, namun yang terlihat paling sendu adalah Alora.


Alora mendapatkan mimpi buruk yang sama malam tadi, hingga ia tidak bisa tidur lagi semalam. Semakin lama, rasa takut itu bangkit kembali. Di saat Alora ingin memberanikan diri mendengar ingatan buruk yang hilang, namun terasa akan sangat besar dampaknya.


Selain itu, ia masih belum menghubungi Andi yang berada di depannya saat ini untuk bertanya. Kisah itu, apakah lebih baik tersimpan saja? Namun, mimpi buruk ini apa artinya?


Pikiran-pikiran yang terus berdatangan dengan berbagai kemungkinan membuatnya bingung apa yang sebenarnya ia inginkan.


"Alora nanti pulang sekolah kamu ada jadwal check up ke rumah sakit, tunggu aku di gerbang sekolah aja ya biar aku jemput" kata Andi yang memecah suasana hening saat tiba di sekolah.


"Iya kak Andi!" Sahut Alora.


Andre yang pertama turun lalu pergi begitu saja, sepertinya dia benar-benar ingin mengabaikan Alora.


Lia membantu Alora turun dengan tongkatnya dan berjalan pelan bersama gadis itu.


"Loe berantem sama Andre?" Tanya Lia.


"Nggak kok!" Sahut Alora.


"Trus dia kenapa?"


Alora menatap sendu punggung Andre yang semakin jauh dari pandangannya.


...


Kelas berlangsung selama 4 jam pelajaran hingga waktu istirahat tiba. Meski riuh dan lapar, Lora masih menatap buku materi karena belum memahami pelajarannya.


Andre langsung keluar kelas tanpa membereskan bukunya. Saat berjalan 3 langkah dari dari pintu kelasnya, tiba saja bahunya saling menabrak keras yang membuatnya menoleh dan mendapati oknum yang ditabrak adalah Beni.


Kedua pemuda itu saling menatap tajam lalu kembali berbalik dan melanjutkan kegiatan mereka. Namun setelah 2 langkah Andre berbalik dan menatap Beni memasuki kelasnya. Hal itu membuatnya menghela nafas kesal dan melanjutkan langkahnya.


Beni memasuki kelas Alora lalu duduk di depan gadis itu saat bangku itu kosong.


"Mana materi yang harus gua pelajari hari ini?" Tanya Beni.


"Loe cuman minta? Nggak ada inisiatif cari apa? Bokap loe kan kaya, loe bisa minta mentor atau beliin buku-buku kisi, manfaatin bokap loe dong!" Cetus Lia.


Beni men-setting raut psyco nya, sebelah alis naik dengan tatap tajam lalu tersenyum mengerikan. Lia menatap pemuda itu tanpa sengaja membuatnya terkejut lalu mengelus dadanya.


"Udah loe pelajarin semua soal yang gua kirim kemaren?" Tanya Lora yang fokus pada bukunya.


"Udah!" Sahut Beni.


"Semua?? Banyak loh itu!" Lia tampak terkejut.


"Kalo gitu sekarang coba loe kerjain ulang tanpa lihat pembahasan" ucap Alora.


"Oke" sahut Beni.


"Yaampun segampang itu dia setuju? Ke mana Beni si psyco yang barusan natap gua? Kok mukanya langsung berubah gitu pas denger suara Alora?" Batin Lia yang bertugas mengamati dengan tampang seolah dirinya detektif.


...


Pulang sekolah, Lia dengan cepat membereskan buku-bukunya lalu berkata


"Gua ke toilet bentar loe tunggu sini!"


Alora mengangguk dan melanjutkan memasukkan barang nya ke dalam tas ranselnya. Bola matanya tidak bisa berbohong dan terus melirik Andre yang terlihat malas membereskan mejanya.


"Andre!" Panggil Lora, tapi Andre berpura-pura tidak mendengarnya dan keluar.


Gadis itu mengambil tasnya lalu dengan tongkatnya berusaha mengejar Andre keluar kelas.


"Andre tunggu bentar! Andre!" Panggil Alora beberapa kali namun pemuda itu masih mengabaikannya.


Tiba saja, dubrak!


Seorang gadis menendang tongkat Alora hingga ia terjatuh.


Ketiga gadis yang bersekongkol itu sedang tertawa riang karena senang melihat orang lain menderita.


"Alora...! Kenapa? Andre ngejauhin loe sekarang? Kasian banget sih! Pelet loe udah kadaluarsa? Hahahah" Cetos Mila yang tertawa bersama dua gadis lainnya.


"Ya iyalah cewe pincang nyusahin kayak dia ini memang pantes ditinggal!" Cetos gadis di sisi kanan Mila.


Alora yang sudah kebal dengan hinaan, berusaha meraih tongkatnya mencoba untuk berdiri sembari menahan sakitnya. Saat Alora hampir berhasil bangun, Mila kembali menendang tongkat gadis itu yang sudah pasti Alora terjatuh kembali, kakinya yang sakit kembali tertindih.


Gadis itu merintih kesakitan hingga mengerutkan dahinya.


"Sakit banget? Guys coba cek jangan sampe keliatan Beni!" Ucap Mila, yang membuat kedua gadis lainnya waspada memeriksa sekeliling.


Mila menekuk kakinya agar dapat memperingati Alora lebih dekat.


"Gua benci sama loe! Loe itu mengambil milik orang lain tanpa berdosa seolah loe itu segalanya!"


"Terus loe apa? Menginginkan milik orang lain seolah itu milik loe? Gua nggak benci sama loe, gua lebih benci sama diri gua sendiri, loe nggak akan paham masalah orang lain begitupun gua nggak akan paham masalah loe, tapi ..." bola mata Alora tampak berkaca, dan tanpa berkedip ia masih menatap Mila, namun tatap itu tiba saja berubah menjadi sorot tajam


"Kalo mau nyiksa gua jangan setengah-setengah kayak gini! Gua udah bosan dan nggak mempan! Coba untuk...bunuh gua!" Alora tiba saja tersenyum sinis lalu kehilangan senyuman itu dalam 5 detik.


"Apaan? Stres loe!" Mila menatap Alora dengan kepribadian gandanya, yang membuat Mila bingung lalu mengalihkan pandangannya.


"Bunuh guaaa!" Terikan Alora, hingga Mila sontak berdiri.


"Loraaa!" Teriak Lia yang berlari ke arah bestienya.


Mila dan dua temannya langsung meninggalkan Alora karena mereka takut Lia akan melapor kepada Beni yang pastinya akan membuat hidup mereka terancam.


"Loe nggak apa? Maafin gua tadi kelamaan" Lia dengan panik membantu sahabatnya yang kesakitan itu berdiri.


"Aaw nggak apa Lia, tolong anterin gua ke pintu gerbang ya, kak Andi pasti udah nungguin" ucap Alora.


Lia memapah Alora dengan tangan kanannya dan lengan kirinya menyangkutkan tongkat Alora hingga sampai ke depan sekolah.


Andi yang menunggu dengan mobilnya lantas turun begitu melihat kedua gadis itu tampak kesulitan satu sama lain.


"Ini Lora kenapa?" Tanya Andi sambil memapah Alora.


"Tadi aku kesandung kak" sahut Alora


"Bukain pintu mobil!" Perintah Andi yang seketika diturutin Lia. Gadis itu membuka pintu depan mobil.


"Loh dibelakang aja!" Seru Andi.


"Lia nggak bisa ikut, karena ada les, kalo bolos les lagi Lia dimarahin Ayah, soalnya udah seminggu sejak Alora sakit, Lia bolos terus!"


"Yaudah nggak apa!"


Alora akhirnya dapat duduk di mobil itu, Andi dengan cepat masuk lalu mengemudikan mobil itu. Lia yang hanya menatap dari jauh sebenarnya ingin ikut, tapi keadaan memaksanya pergi ke tempat lain.


Dengan lesu, Lia yang biasanya ceria tampak sedih saat ini. Gadis itu hanya berjalan pelan sambil menatap tanah.


.


.


.


.


.


tbc