
Langit cerah berlawanan dengan cuaca hati dua jomblo yang suka sama mereka yang sudah punya pacar. Lia sedang berjalan bersama Dian yang selalu mengikuti gadis itu. Lia hanya merenung hingga tidak memperhatikan jalan, di depannya seorang dengan sepedanya sedang melaju namun Lia tidak menyadari.
Tentu akhirnya Dian dapat melancarkan aksi hero-nya, pemuda itu meraih bahu kiri Lia dari belakang gadis itu dengan lengan kirinya karena gadis itu berada di sisi kirinya, kemudian dia membuat tubuh Lia berputar hingga berakhir ke peluknya. Detak jantung yang memompa brutal terdengar dari dada pemuda itu.
"Lia loe nggak apa kan?" Tanya Dian langsung melepas gadis itu karena tekanan jantungnya itu.
"Iya! Makasih ya!" Sahut Lia lesu lalu kembali berjalan seperti tadi.
"Loe kenapa sih? Kayak orang lagi patah hati!" Tanya Dian setelah menyamakan lagi langkah keduanya.
"Gua memang lagi patah hati! Jangan ganggu gua!" Kalimat Lia membuat langkah Dian terhenti dan berhenti mengikuti gadis itu.
"Dia kenapa ya?" Gumam pemuda itu.
Entah bagaimana Lia berjalan dan berakhir di lapangan Kampus. Ia menuju pohon teduh di pinggir lapangan lalu duduk. Helaan nafas berat terdengar sesekali.
Seseorang menjatuhkan tasnya di samping Lia lalu duduk di sisi Lia. Lia melirik sebentar lalu kembali menghela berat.
"Ben! Pacaran yok!" Ucap Lia dengan wajah merengut.
Namun, Beni hanya duduk dan tidak teralih perhatiannya walau setelah mendengar kalimat acak dari Lia.
"Loe gila? Kelamaan di psikologi?" Balasan pertanyaan dari mulut kasar itu.
"Kenapa gua harus suka sama orang yang udah punya pacar sih?" Lia berdecak kesal.
"Udahlah! Kita cuman keduluan orang lain! Dan dalam kasus ini kita cuma punya 2 pilihan!"
"2 pilihan?"
"Pertama lepaskan dan lupakan! Kedua... lanjutkan dan rebut dia dari pacarnya!" Beni berkata dengan bangga seolah telah menciptakan kalimat bijak luar biasa.
"Huh?"
"Loe bakal pilih nomor berapa?" Tanya Beni dengan wajah datar itu.
"Apalagi nyerahlah! Merusak kebahagiaan orang itu bahkan lebih buruk! Jangan bilang loe bakal pilih nomor 2?"
"Pasti dong! Gua nggak akan nyerah sebelum dapat jawaban yang gua mau!"
"Loe makin nggak waras! Loe pasti tetap gangguin Lora dan nyusahin dia lagi kan?" Tanya Lia.
"Kali ini gua nggak akan gangguin Lora tapi yang gua ganggu adalah kepercayaan diri Andre!" Senyum sinis itu terukir dengan sempurna. Di sisinya Lia hanya menggeleng tidak percaya yang ia dengar.
"Loe ngapain sih tiba-tiba muncul? Rusak mood gua aja!" Lia berdecak kesal.
"Mood loe udah hancur sebelum gua datang! Pacar Andi lebih cantik dari loe sih! Ada benarnya loe mundur!" Ucap Beni setelah berdiri dan hendak pergi.
"Loe ngeselin banget sih!" Lia melempar tasnya ke arah Beni namun meleset. "Pantes Alora ilfeel sama loe!" Teriak Lia yang ingin membalas perkataan Beni padanya.
...
Alora sedang tersenyum di bangkunya, namun bukan karena senang ia hanya sedang bermimpi baik, dengan mata tertutup lalu seseorang mengetuk meja yang ia tiduri, maka semuanya menghilang.
"Alora kenapa kamu tidur di jam mata kuliah saya? Kalau kamu tidak senang silakan keluar! Saya tidak ingin mengajar pada mahasiswa nggak tau diri!" Ucap Bu Rini setelah memukul meja gadis itu.
"Saya minta maaf buk!" Alora menundukkan kepala.
Beruntung dia lolos tidak harus keluar dari kelas. Seperti yang kita ketahui bersama kehidupan tidak pernah terasa mudah.
"Aku pengen nyerah aja! Aku muak dengan semua ini!" Batin Alora sembari menatap ke papan memperhatikan.
"Tapi kalo aku minta bantuan Andre dan buat dia yang bayar semua... apa suatu saat hal ini akan berulang lagi?"
Usai kelas, Alora berangkat ke tempat Om herman bersama pacarnya. Kedua remaja itu sudah di dalam mobil, Andre sedang membelok dari tempat parkir menuju gerbang. Pemuda itu selalu menyetir perlahan saat bersama Alora.
Tiba saja sebuah mobil melaju kencang ke arah mereka saat Andre lengah menatap ke arah Alora sepersekian detik. Dejavu itu lagi-lagi menghantam kenyataan yang ada.
"Andre awas!" Teriak gadis itu yang langsung menyadarinya.
Ingatan itu menghantuinya lagi. Suara laju mobil hingga bunyi tabrakan bergema di telinga gadis itu hingga ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Untungnya Andre handal dalam menyetir dan berhasil menepi dengan selamat.
Seorang pemuda dengan alis tebal tampak tidak asing, Andre yakin pelakunya adalah Steve bersama temannya.
"Steve sial*n! Dia sengaja mau celakain kita!" Ucap Andre masih melirik mobil tadi di spion mobilnya. Ia masih tidak menyadari Alora sudah menagis layaknya seorang anak kehilangan orang tuanya.
"Mamah! papah! Jangan tinggalin Lora!" Gumam Alora dalam tangisannya dengan seluruh wajahnya masih ditutup tangannya.
"Al, loe nggak apa kan? Loe kenapa?" Andre memeriksa Alora lalu memeluk gadis itu dengan menepuk pelan bahunya.
"Tenang ya! Semua akan baik-baik aja! Aku ada di sini kamu jangan khawatir."
"Tolong bawa aku pergi! Aku benci kehidupanku!" Ucap Alora lalu mendongak ke arah pacarnya.
"Andre?" Alora tersadar lalu mengusap air matanya. "Loe nggak apa-apa kan? Kita selamat?" Seolah yang tadi bukan dirinya, saat ini sikap gadis itu kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Iya kita selamat!" Sahut Andre yang menjadi saksi itu kebingungan.
"Sepertinya loe demam! Ayo ke rumah sakit!" Ajak Andre.
"Aku nggak sakit kok! Kenapa loe natap gua gitu? Gua menyedihkan ya?"
"Hush jangan ngomong gitu!"
"Loe tau nggak? Hari kak Andi nabrak gua waktu itu sebenarnya gua mau bunuh diri! Tapi gua malah selamat dan dihantam semua kenyataan dan ingatan gua kembali."
Andre mendengarkan dengan bola mata telah berkaca, namun ia tetap menahan kalimat tanya yang muncul agar Alora merasa lega setelah mengungkap uneg-unegnya.
"Awalnya gua benci banget sama situasi gua yang serba salah. Sampe mutusin bunuh diri, tapi suatu hari gua lihat loe tersenyum ke gua, semua rasa lelah gua hilang dan gua memaafkan diri gua. Obat penyembuhnya ada dan semua mulai baik-baik aja.. tapi kemudian Steve muncul!"
"Dia mulai ngancam gua dan bilang semua hal buruk akan terulang lagi! Sebenarnya gua takut banget, apalagi setelah lihat penyakit Lia kumat lagi setelah beberapa tahun. Gua nggak bisa biarin orang yang gua sayang diteror begitu."
"Gua juga khawatir dia bakal lakuin sesuatu sama loe dan loe kenapa-napa!"
Andre langsung memeluk lagi gadis itu saat emosi Alora mulai naik lagi.
"Gua nggak akan kenapa-napa! Loe tenang aja gua akan bantuin loe ungkap semuanya! Kita nggak bisa biarin seorang penjahat berkeliaran bebas!"
Namun saat mereka lengah dalam emosi yang mendalam, sebuah truk melaju dengan cepat dan kehilangan kendali. Instin Alora kuat dan tajam saat mendengar suara dari kejauhan ia tau sesuatu yang buruk akan terjadi.
Alora melepas peluk itu lalu menatap ke arah yang sama seperti saat ia masih kecil. Truk besar itu menabrak kencang mobil Andre dan Alora hingga mobil itu berguling-guling.
Di balik semua itu, ada seseorang yang tertawa puas di balik jaket hitam dan topi hitamnya. Namun ada yang mencolok sepatu boot dengan heals hitam membuktikan orang itu adalah sorang wanita.
"Jangan mati dulu teman-teman! Bentar lagi pertolongan tiba! Dan nantikan pertujukan selanjutnya akan lebih seru dari ini!"
.
.
.
Tbc