My Secret Alora

My Secret Alora
Perhatian


Matahari menjalankan perannya dengan baik hari ini, sore cerah itu tampak indah di mana langit dihiasi oleh para burung yang terbang pulang menuju sarang mereka di atas ranting pohon di balik dedaunan hijau. Sebuah mobil melaju kencang di jalan itu, namun tiba saja, sebelah kaki yang dibalut senakers putih dengan segera menginjak rem saat tiba saja seorang wanita paruh baya menyebrangi jalan dengan bahan belanjaan di tangannya.


Suara rem yang mendadak di tekan itu nyaring terdengar, hanya berjarak beberapa cm lagi mobil itu berhenti hampir menabrak wanita itu.


"Ck! Apaan lagi sih nih? Siapa lagi ibuk-ibuk itu!" Ucap Pemuda itu sembari mendesis dan terpaksa keluar dari mobilnya.


Begitu pemuda itu turun, wanita itu sudah bangkit karena terjatuh akibat terkejut. Wanita itu menatap pemuda yang tak asing di matanya.


"Beni kamu bandel banget! Kenapa ngebut-ngebut bawa mobil nya? Kalo kenapa-kenapa gimana? Bahaya jangan gitu lagi!" Wanita itu ternyata ibunya Lia, wanita bermana Armita itu mengomel sembari memukul-pukul kecil bahu Beni yang sedang berdiri itu.


"Iya.. iya tante!" Sahut Beni yang sedikit menaikkan bahunya agar wajahnya tidak ikut terpukul.


Tak berlangsung lama, Armita tiba saja memeriksa tubuh Beni. "Nggak ada yang luka kan? Nak Beni nggak apa-apa kan?" Wanita itu tampak penuh perhatian.


"Iya tante Beni nggak apa kok! Tante gimana ada yang luka? Tante jatuh tadi!" Beni balik bertanya.


"Tante aman! Nggak apa-apa kok! Lain kali jangan di ulang tuh! Kenapa bawa mobilnya ngebut? Mau kemana emang kamu?" Tanya Tante itu lagi.


"Pu..lang!" Kata yang dilontarkan Beni agak tersentak karena ia harus mencari alasan yang tidak ia miliki untuk pertanyaan itu.


Pemuda itu membantu Armita mengutip bahan belanjaannya yang berserak di jalan. Setelahnya ia langsung memasukkan bahan belanjaan itu ke dalam mobilnya dan mengantarkan ibu dari temannya itu walau sempat mendapati penolakan, namun saat ini Armita sedang menikmati nyamannya berada di dalam mobil pemuda tampan ini.


Begitu sampai di rumah Lia, Beni juga membantu membawa belanjaan ibunya Lia ke dapur. Saat ini, ia sudah selesai mengangkut dan hanha duduk diam di sofa ruang tamu. Tak lama Armita membawa minuman segar untuk Beni.


"Makasih tante!" Ucap Beni saat menerima minuman itu. Dan wanita itu mengangguk pelan lalu menepuk bahu Beni pelan.


"Tan, bukannya beberapa hari lalu tante udah belanja banyak juga? Yang Lia ke market pagi-pagi itu!" Tanya Beni setelah meneguk minumannya.


"Ooh! Yang kemarin udah habis! Karena tante suka masak, jadi kalo lagi bosan tante obatin dengan memasak, jadi sayur dan bahan makanan lainnya cepet habis!" Sahut wanita itu.


"Jadi siapa yang makan tuh tan? Kan kalo masaknya kebanyakan pasti lebih karna tante cuma tinggal berdua sama Lia!" Pertanyaan lain dari Beni yang mengajukan pertanyaan karena tidak enak jika ia hanya diam dan bersikap cuek seperti dirinya yang biasa.


"Tante bagiin! Kadang tante suruh Lia bawa ke rumah Lora, atau bagiin ke tetangga! Hmm.. karna tante udah makin tua juga, tante sering bosan sendirian makanya masaknya sampe lupa diri! Oya Beni makan malam di sini ya!" Armita tampak bersemangat.


"Oh? Makasih tante! Tapi aku harus pulang, lain kali aja ya tan!" Sahut Beni.


"Kalo gitu, tunggu dulu tante ambilin..." ucap Armita sembari menuju dapur lalu membuka kulkas.


"Ini! Makanannya masih bagus tinggal Beni panasin bentar karna baru dari kulkas. Tadi siang tante masak ini kebanyakan jadi tante simpan sebagian." Ucap wanita itu membawa sekotak bekal untuk pemuda itu.


"Makasih banyak tan!" Ucap Beni.


"Iya! Lain kali janji ya! Makan malam di sini, biar tante masakin makanan enak!" Sahut Armita yang mengantar Beni sampai pintu.


...


Malamnya, Beni membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya lalu melirik kunci mobilnya di atas meja. Tiba saja ia teringat kotak bekal dari mamanya Lia. Pemuda itu bangkit menuju dapur lalu mengambil bekal makanan itu dari kulkas kemudian ia panaskan.


Setelahnya, Beni duduk di meja makan sendirian menatap makanan di depannya itu.


"Nyokapnya Lia sangat perhatian dan hangat. Beruntung banget!" Beni mengambil sesuap menggunakan sendok lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


"Tapi nyokap gua malah sebaliknya... ah lupain aja! Ngapain gua ingat wanita itu!" Beni mengalihkan pikirannya lalu hanya melanjutkan memakan makanan itu.


...


Setelah makan ketiganya duduk di sofa depan tv, di mana Alora di sisi kanan Ayah dan Ali di sisi kiri sembari merangkul bahu kedua anaknya itu.


"Ali belajar yang rajin ya! Ayah pengen Ali sukses dan ngelakuin apapun tanpa mengkhawatirkan uang!" Ucap Ayah.


"Dan Lora juga! Ayah juga pengen Lora baik-baik aja, berdamailah dengan masa lalu dan jangan terlalu menyalahkan diri sendiri atas apapun! Kalo nggak kuat maka minta tolong sama orang lain, jangan tanggung sendirian!" Sambung ayah.


"Iya pah!" Sahut Alora.


***


Hari terus berganti dan berlalu begitu saja, begitupun hari ini yang akan segera berlalu seperti hari lainnya tanpa ada yang special. Key memasuki ruang kuliah yang sudah hampir penuh itu, ada bangku kosong di samping Beni, tentu saja gadis itu langsung menuju ke sana karena sejak masuk sorot matanya hanya melirik satu orang itu.


"Tumben loe jauhan sama Al! Biasanya loe pasti di samping Alora!" Ucap Key begitu duduk.


Beni yang malas menanggapi hanya melirik tajam sekitar dua detik lalu kembali fokus pada hpnya. Memang benar Alora duduk agak jauh dari Beni.


"Walaupun gua tau loe psyco gua masih belum terbiasa sama lirikan itu hmm.." tambah Key saat matanya tak sengaja bertemu sorot tajam menakutkan itu.


...


Usai mata kuliah, Alora membereskan barangnya lalu ia mendapat sebuah notifikasi di hpnya, ternyata itu dari Andre yang sudah menunggunya di luar kelas. Alora keluar dari kelas itu saat hampir semua orang meninggalkan kelas.


Beni melirik pertemuan manis sepasang kekasih itu yang tampak bahagia dihiasi senyuman di wajah mereka, namun Beni hanya menatap dengan wajah datar. Alora menoleh ke belakang menatap Beni dengan tatap sendu selama 5 detik lalu memalingkan wajahnya dan pergi dengan kekasihnya.


"Hmm... loe udah nyerah rupanya?" Tanya Key yang bangkit dari kursinya.


"Gua kira loe bakal ngejar sampe akhir!" Sambung Key.


"Mind your own busines!" Kalimat yang terdengar agak serak dari balik bibir prmuda itu berhasil membuat Key terlihat kesal.


"Dih! Capek banget ngomong sama kulkas 12 pintu!" Sahut Key lagi lalu keluar.


"Cih! Cowo harus tau kapan waktu yang tepat untuk mundur! Dasar bod*h!" Ucap Beni.


.


.


.


Tbc


Halo guys!!!


Maaf banget ya,, uploadnya selang dua hari, soalnya kalo di hari kerja nggak sempat buat lanjutannya, author ada kerjaan lain dikit yang harus diselesaikan.


Pokoknya Happy Reading Guys!!